kata dunia

duniaku dalam kata

Kim Ji-young, Born 1982: Begitu Dekat dengan Kita, Begitu Nyata

Kamu perempuan dan pernah menerima komentar “di rumah saja (jadi ibu rumah tangga). Biar suami yang mencari nafkah”? Pernah dapat pertanyaan, “siapa yang jaga anak di rumah?” sedangkan suamimu tidak pernah mendapat pertanyaan yang sama. Kau pernah sedang duduk mengerjakan hal lain ketika suamimu mengambil makan siangnya dan society berkomentar bahwa kau adalah istri yang lancang?

Kalau pernah, kita sama. Kita ada dalam lingkungan yang patriarkis.
Kim Ji-young, seorang perempuan Korea mencoba menyampaikan protesnya pada patriarkisme lewat film Kim Ji-young, Born 1982. Ini film fiksi, tetapi begitu nyata, begitu dekat dengan kita. Banyak simbol, tapi juga nyata, budaya patriarki yang diceritakan film ini.
Aku merasa “relate” dengan adegan demi adegan yang muncul di film itu.
Kim Ji-young, Born 1982 dimulai dengan adegan Ji-young mengerjakan pekerjaan domestik, merasa lelah, memutuskan istirahat bersama anaknya di sebuah taman untuk mendengar komentar society bahwa nikmatnya hidup menjadi seorang IRT dan hanya meminta nafkah ekonomi pada suami. Relate? Aku juga.
Ji-young mengalami depresi pascamelahirkan. Lebih parah, masyarakat super julid sering (kalau tidak bisa dibilang selalu) memarjinalkannya karena dia perempuan. Di lingkungan keluarga, usai lulus kuliah dia disuruh menunggu seorang lelaki datang mempersuntingnya. Di lingkungan pekerjaan, dia mendapat hak yang tidak setara dengan pekerja lelaki. Relate? Aku ga terlalu. Tetapi sering mendengar cerita yang sama dari temanku.
Kim Ji-young dipaksa menikah, dipaksa punya anak. Mertuanya menuntutnya demikian. Suaminya tidak berada di pihaknya dalam hal itu. Meski kemudian, sang suami tidak keberatan berbagi tanggung jawab mengurus hal domestik. Soal berbagi peran itu, tentu saja sang mertua keberatan. Baginya, urusan domestik adalah urusan perempuan. Punya pengalaman sama? Aku pun.
Btw, aku pernah membaca, budaya patriarki di Korea memang masih sangat kuat. Lelaki punya privilese besar di sana; di rumah, di tempat kerja, di tempat umum.
Bahkan ketika menjadi korban kekerasan seksual, si perempuan yang disalahkan. Seperti yang diingat Ji-young pada masa remajanya. Ayahnya menyalahkannya karena dianggap tersenyum pada lelaki, berpakaian seksi, pergi jauh dan keluar rumah hingga malam.

Kabar baiknya, suami Kim Ji-young tidak lama-lama terbuai dalam budaya patriarki. Sayangnya, harus menunggu sampai sang istrinya mengalami depresi.

Film ini bagiku membuka borok patriarki sedalam-dalamnya, menampar patriarkis sekeras-kerasnya; patriarki yang tidak hanya dilakukan oleh laki-laki, namun juga perempuan.(dey)
Leave a comment »

“Orang-orang Oetimu” dan Ceritanya Tentang Indonesia

 

WhatsApp Image 2019-11-07 at 19.39.33

Buku ini dipinjamkan temanku sepekan lalu dalam perjalan dari Padang menuju Jakarta. “Aku ga tau, kamu bakal suka atau ngga,” katanya. Buku ini, kata dia, diberikan langsung oleh temannya, Felix K. Nesi, sang penulis buku. Aku ga berani berharap banyak, aku pun ga pengin menghakimi buku ini sebelum membacanya. Tapi karena tv pesawat di barisan bangkuku mati dan teman sebangku seperjalanan pun khusyuk tertidur, maka aku bacalah buku ini.

Aku bukan kritikus buku. Aku ga mampu memberi penilaian apakah sebuah buku layak dibaca, apakah kaidah-kaidah penulisan sastra sudah ditaati. Sebab aku memang bukan ahli di bidang itu. Well, aku bukan ahli di bidang apa pun sih. Hahaha…

Aku cuma bisa komentar, aku suka membaca buku ini. Aku menikmati membaca buku ini. Terbukti aku menyelesaikannya dalam sepekan padahal ditambah dua hari ga baca sama sekali karena pas libur, biasanya pas main sama Joe.

“Orang-orang Oetimu” bercerita tentang orang-orang yang tinggal di Oetimu, sebuah desa di Nusa Tenggara Timur, dan di sekitarnya. Latar belakang cerita adalah saat revolusi mulai terjadi di Indonesia dan di Dili, Timor Leste, dibumbui dengan demam Piala Dunia 1998.

Oetimu sendiri sepertinya tempat fiktif. Karena aku cek di aplikasi Google Map, ga nemu. Mohon aku dikoreksi jika salah.

Banyak tokoh dalam “Orang-orang Oetimu”, seperti namanya. Maka, membaca buku ini seperti membaca Indonesia (baik orangnya maupun negaranya), membaca NTT dan membaca gereja.

“Orang-orang Oetimu” bercerita tentang seorang polisi yang dilahirkan oleh perempuan Portugal yang diperkosa tantara. “Orang-orang Oetimu” bercerita tentang seorang remaja perempuan yang sangat cantik dan cerdas, dambaan semua lelaki Timor. “Orang-orang Oetimu” bercerita tentang tetua Timor yang dianggap warga begitu sakti, yang lepas dari romusha Jepang dan menyelamatkan kudanya dari pemerkosaan tantara.

“Orang-orang Oetimu” bercerita tentang seorang aktivis perempuan yang hilang kepercayaan bahkan membenci lembaga bernama negara, tantara dan gereja; perempuan yang jatuh cinta pada seorang pelayan Tuhan, pastor. “Orang-orang Oetimu” bercerita tentang seorang pastor yang merasa berdosa pada Tuhan karena mengkhianati kaulnya sebab jatuh hatinya pada seorang perempuan pembangkang.

“Orang-orang Oetimu” bercerita tentang seorang pemuda yang berambisi menjadi abdi negara namun tak bisa menjadi tantara bahkan menwa. “Orang-orang Oetimu” bercerita tentang prajurit ABRI pada masa orde baru.

Buku ini menjadi menarik bagiku karena mengandung banyak satire yang mengkritik pemerintah yang korup di masa Orde Baru. Gereja pun tidak luput dari kritiknya. Ditambah dengan latar belakang lokasi yang bercerita di NTT. Terbayang indahnya NTT yang baru sekali kudatangi itu. (dey)

Leave a comment »

Menolak Ayah: Mendengarkan “Tondi”

Akhirnya, selesai juga membaca buku Menolak Ayah karya Ashadi Siregar. Aku beli buku ini sekitar 3 bulan lalu. Bacanya? Sekitar 1 bulan. Lamaaa… hehehe…

Ga ada alasan ideologis kenapa aku baca buku ini. Semata karena penulisnya adalah dosen favorit waktu kuliah dan ceritanya tentang anak Batak. Biar badung dan ga taat adat begini, masih ada keinginan untuk tau lebih banyak soal kebudayaan Batak dalam diri Butet.

Menolak Ayah bercerita tentang Tondinituha (yang arti harafiahnya adalah jiwa sebuah desa). Tondi (jiwa/roh), begitu dia dipanggil, merasa dibuang oleh ayahnya. Tapi bukan itu yang memicu kemarahan dan penolakannya atas ayahnya. Dia begitu membenci sang ayah karena merasa lelaki itu menelantarkan ibunya.

Tondi, atas didikan ompung (kakek/nenek)nya, menjadi anak yang begitu menjunjung nilai-nilai luhur masyarakat batak. Di antaranya adalah dalihan na tolu. Dalihan na tolu adalah nilai luhur yang mendasari kekerabatan masyarakat Batak. Falsafah itu terdiri dari: 1) Somba marhula-hula (sembah/hormati hula-hula), 2) Elek marboru (lemah lembut pada boru/anak perempuan), dan 3) manat mardongan tubu (akur dengan saudara semarga)

Dengan nilai-nilai itu, dan memelihara tondi (roh/jiwa) yang ada dalam dirinya, Tondi menjalani hidup, meski tanpa kasih sayang ayahanda. Berusaha memperbaiki nasib, Tondi menjadi tentara PRRI, kelompok (yang disebut) pemberontak di era pemerintahan Sukarno.

Begini begitu, panjang jalan yang dilaluinya, akhirnya Tondi terseret ke Jakarta, menjadi orang yang sukses secara finansial. Dalam menjalani kehidupannya, Tondi kerap menddengarkan Tondinya yang kadang hadir melalui mimpi berwujud kakek atau neneknya. Misalnya, suatu malam dia bermimpi kakeknya mengatakan “nunga sae” (sudah selesai) di salah satu malam perang antara PRRI dan tentara pemerintah pusat selesai. Dia menerjemahkannya dengan bahwa peperangan telah usai, atau bisa juga berarti kehidupan si ompung sudah selesai.

Kali lain, kakek dan neneknya hadir di mimpinya dan mengingatkannya bahwa anak-anak ayahnya dari perempuan yang bukan ibunya, bagaimana pun, juga adalah saudara perempuannya, yang tentu saja harus dirawatnya, sebagaimana nilai “elek marboru”. Dia merawat adik-adik perempuannya namun tetap ingin terlepas urusan dari ayahnya. “Aku begini, bukan karena kalian anak-anak Pardomutua (ayahnya), tetapi karena kalian adalah juga cucu ompungku,” kira-kira begitu katanya.

Tondi, dalam kehidupannya yang punya potensi untuk menjadi rakus pun tidak berlaku demikian karena masih memelihara tondi dalam dirinya. Tondi yang mengingatkannya untuk tidak serakah.

((Aduh, ini jadi agak bingung ya, antara Tondi si tokoh utama dengan tondi yang berarti roh))

Well, begitulah, Tondi dia percaya, manusia tidak hidup jika tidak mendengarkan tondi-nya.

Leave a comment »

Dua Garis Biru: Akibat Menabukan Bicara  Seks di Keluarga

Kemarin, pulang rapat di daerah Pecenongan, aku, ditemani seorang kawan, mencuri waktu menonton film “Dua Garis Biru”. Berawal dari kami membahas pendidikan seks.
Aku dengar, film ini menyedot banyak kontroversi. Sebabnya (menurut mereka yang menolak), film ini mengajarkan free sex. Begitu katanya. Yang komentar pasti belum nonton film keluarga ini. Iya, aku lebih suka menyebutnya film keluarga, alihalih film drama romantis.
Menurutku sih, daripada mengajarkan seks bebas, film ini justru mengajarkan pentingnya pendidikan seks.
“Dua Garis Biru” berkisah tentang Dara, seorang gadis dari keluarga kaya berorientasi karir dan Bima seorang pemuda dari keluarga religius dan miskin secara finansial. Keduanya adalah siswa SMA yang tengah kasmaran, dimabuk cinta bukan kepalang. Sayang, mereka ga punya bekal pendidikan seksualitas yang mumpuni. Hingga suatu siang mereka terjebak dalam hubungan seks yang ternyata membuat hamil Dara.
Konflik pun dimulai. Mereka bingung. Adeganadegan yang menggambarkan kebingungan ini sungguh membuat perutku mules, kaki pun lemas. Teringat di awal pernikahan aku dan Vidi, ketika belum siap punya anak, setiap bulan panik, kalau belum haid. Hahaha… waktu itu saja aku begitu bingung, bagaimana dengan anak SMA? Kebingungan memelihara janin, kebingungan membesarkan anak (sebab hamil hanya sembilan bulan, tapi jadi orang tua itu seumur hidup) dan ga kalah berat: kebingungan menghadapi julidisme masyarakat. Tapi mereka memilih menghadapi omongan orang: “malu sebentar. Orangorang ga akan selamanya ngomongin kita,” kata Bima.
Konflik lain muncul ketika Dara ketauan hamil dan dikeluarkan dari sekolah sedangkan Bima tidak. Sungguh sebuah ketidakadilan bagi perempuan. “Mereka samasama salah, mengapa hanya anak saya yang dikeluarkan?” kata orang tua Dara.
Sebuah hubungan seks memang lebih meninggalkan “jejak” pada perempuan. Termasuk juga jejak sosial. Dan kadang, jejak itu mendiskriminasi perempuan.
Nilainilai pendidikan seks bertebaran di beberapa adegan di film ini. Misalnya, saat Dara memeriksakan janinnya di dokter kandungan. Digambarkan, pasangan itu ternyata tidak siap menjadi orang tua. Banyak hal yang harusnya mereka tau, ternyata baru mereka dengar dari dokter. Soal risiko kehamilan di usia belia, misalnya.
Nilai lain muncul, di adegan Dara dan Bima berantem, memperdebatkan pembagian beban dan tanggung jawab dalam rumah tangga.
Menurutku, mereka yang melarang pemutaran film ini cuma melihat film ini dari sisi “joroknya” saja: dua orang anak baru gede melakukan hubungan seksual di luar pernikahan. Hal itu, kata mereka, malah mengajarkan free sex pada remaja.
Halaw, bapakbapak, ibuibu. Justru film ini, menurutku, mengingatkan pada kita bahwa sudah tidak waktunya lagi menabukan bicara soal seks dengan siapa pun, termasuk dengan anak. “Kalau kita bisa bicara seperti ini sejak dulu, mungkin ga akan ada kejadian ini,” kata ibu Bima. Dia menyesali tidak pernah ngobrol akrab dengan anaknya. Dia juga menyatakan, selalu menutup mata anaknya setiap ada adegan film ciuman di televisi. “Emang bapak dan ibu ciuman gara-gara liat adegan ciuman di tivi,” respons Bima. Nah!
Ingat ya, bicara soal seks bukan sesempit ngomongin pengalaman seks, tipstips hubungan seks.
“Dua Garis Biru”, menurutku, justru mengingatkan pada remajaremaja melakukan hubungan seksual harus dengan banyak persiapan. Karena hubungan seksual tidak hanya soal peristiwa ena’ena’ saat itu saja. Ada risiko di baliknya. Risiko rasa bersalah, risiko kehamilan, bahkan risiko kematian. Jadi, belajarlah  jangan lagi menganggap tabu pendidikan seks.
Dey
Leave a comment »

Tentang Nama

Serius, ini bukan tulisan penting. Aku cuma terpikir untuk mencatatnya (dan memublikasikannya) supaya ada bacaan untukku kelak. Hehe…

Tulisan ini kubuat menanggapi banyak pertanyaan, “sebenarnya nama lengkapmu siapa?” Pertanyaan ini banyak terlontar saat mengurus administrasi seperti mengurus kartu identitas, tiket penerbangan bahkan honor pekerjaan.

 

Sampai 2002, hingga lulus SMA orang mengenal namaku sebagaimana aku diberi nama oleh orang tuaku: Deytri Robekka.

Kata bapa, nama Deytri berarti anak ketiga yang lahir (juga) di Rabu. Jadi, dua kakakku dan aku, sama-sama lahir di hari yang sama: Rabu. Orang tuaku merasa itu suatu keajaiban, atau kekurangan ide, disematkanlah nama Deytri untukku. Ha. Ha.

Jangan tanya arti nama Robekka. Itu lebih tragis lagi. Nama itu dari opungku (orang tua mama). Sebenarnya nama itu untuk kakakku. Jadi, ketika kakak lahir, mama bersurat ke kampung. Opung lantas membalas dengan memberikan sebuah nama. Apa boleh buat, akte kelahiran kakak sudah terbit. Jadilah nama itu disimpan. Syahdan, tiga tahun kemudian aku lahir, dipakailah nama itu untuk aku. Artinya? Aku ga tau, ga pernah tau. Aku hanya mampu menebak-nebak, bahkan sampai saat ini.

 

2002, saat pamit hendak merantau pada seorang tante, dia menasihati bahwa anak adalah kebanggan orang tua. Anaklah yang akan mengibarkan nama baik orang tua. Pada kesempatan yang sama dia juga menyampaikan bahwa, pada forum keluarga besar, bapa jarang mengemuka. Namanya tidak terlalu terkenal. Maka, sejak hari itu, aku kukuhkan diri menjadi seorang Deytri Aritonang, alih-alih memakai nama tengah yang aku tidak tau artinya. Ha. Ha.

 

Dengan ego anak muda, aku berjanji pada diriku sendiri, kelak tanteku akan melihat aku si Deytri Aritonang, anak kebanggaan Bapak Jocky Aritonang dengan bangga. Dan dia tidak akan lagi mengecilkan Aritonang yang di sebelah sini.

 

Kali lain, saat tengah main di toko buku, mataku menabrak buku tentang arti nama. Aku iseng mengengoknya dan mencari, barangkali ada arti nama Robekka, yang tentu saja berbuntut zonk. Tidak ada orang memakai nama Robekka. Ada nama Rebecca. Artinya pelayan Tuhan. Kalau memang namaku diambli opung dari Rebecca, oke, aku makin firmed ga pakai nama tengah. Kabotan. Keberatan. Ha. Ha. Ha.

 

Maka, sejak jadi mahasiswa, aku tidak pernah lagi pakai nama tengahku. Paling maksimal inisialnya saja.

 

Aku juga pernah bertanya pada bapa, mengapa namaku tidak memakai marga sebagaimana dia. Dia jawab, pemerintah (melalui kantor kelurahan) melarang penggunaan marga batak, saat itu. “Takut nanti anaknya susah cari kerja,” begitu alasan petugas kelurahan seperti disampaikan bapa.

 

Ternyata, mengganti nama sembarangan merepotkan. Kerepotan terjadi terutama soal urusan administrasi. Aku sampai berpikir hendak mengurus ganti nama saja di pengadilan. Bagaimana?

Leave a comment »

Ave Maryam: Sebab Kasih Eros Pun Anugerah, Bukan Dosa

Jadi, setelah lebih dari dua pekan agak gigi empat mengerjakan urusan pemilu, tadi akhirnya agak punya waktu buat diri sendiri. Setelah siang menyempatkan diri makan baso, menjelang sore, aku dan dua orang teman menonton Ave Maryam. Ini memang agak aku paksakan, sebab aku khawatir kalau terus menunda film yang konon bagus ini keburu turun layar.

tiket

Cuma punya ini doang untuk dipublikasi

Buat kamu yang belum menonton Ave Maryam dan berencana menontonnya, hentikan pembacaanmu di sini. Tulisan ini agak spoiler.

Film ini mengisahkan kehidupan biarawati di sebuah susteran di Semarang. Adalah Maudy Koesnaedi (eh, mengejanya benar begini?), Suster Maryam yang merawat (kita sebut saja) seniornya, Suster Monic. Dalam menjalankan tugasnya itu, dia kerap berhubungan dengan seorang pastor, Romo Joseph yang diperankan Chicco Jerikho (sekali lagi, ejaannya sudah benar?). Pastor paling cakep yang gue pernah bayanganin bakal ada. Kalau jadi umatnya, yakinlah, gue ga bakal konsentrasi ibadah. Baik. Cukup bicara Chicco.

Romo Joseph dan Suster Maryam kemudian saling jatuh cinta. Namun, kasih eros itu harus terbentur dengan kaul untuk menjadi pelayanan Kristus dengan hidup selibat. Lagian sih ah, Romo Joseph keganjenan banget, ngegodain suster terus. Ngapa dah ga ngegodain gue aja? #lah

Di sanalah konflik terjadi. Maka kemudian muncul kalimat yang belakangan viral, “kalau surga belum pasti untukku, buat apa aku mengurusi nerakamu?”. Satu lagi, “orang yang sibuk mengurusi takdir orang lain, tidak akan punya waktu untuk mengejar takdirnya.”

Buat aku, film ini manis banget. Aku menggunakan kata “manis”, karena kata “romantis” terlalu sederhana buat menggambarkan film ini. Sepertinya aku pernah bilang ya, aku kurang suka film yang terlalu cerewet. Iyes, film ini tidak cerewet. Cerita dan konflik lebih banyak digambarkan dalam adegan, gesture dan mimik setiap tokoh yang terlibat dipadukan dengan musik latar yang kuat. Manis lah. Maudy, setiap pergolakan batinnya, perasaannya seperti digambarkan lengkap dalam setiap adegan dan air wajahnya. Pun Chicco, tanpa banyak dialog, penonton tau, kalau Joseph adalah pastor yang badung. Tapi, manisnya film ini terdengar agak maksa justru dari dialog-dialog yang terlalu puitis (atau memang aku yang ga paham ya?).

Sayang, film ini agak kurang dalam menggali kisah cinta di antara Maryam dan Joseph. Atau mungkin ada dalam adegan yang dipotong. Konon, film ini banyak dipotong. Satu lagi yang agak menganggu, ada adegan kupu-kupu nemplok di jendela dan nyala lilin di pantai. Keduanya pakai animasi yang menganggu visual yang udah manis banget.

Di akhir film, Suster Maryam mengaku dosa karena sudah mengikuti nafsunya, mengikuti hatinya. Pengakuan dosa yang membuatku bertanya-tanya, atau mungkin protes, lebih tepatnya, apakah jatuh cinta itu dosa? Tapi mungkin pertanyaan itu akan mendapat jawaban: jatuh cinta bukan dosa kalau kamu bukan seorang biarawati yang sudah berkomitmen untuk melayani Tuhan.

Leave a comment »

Menonton “Aruna dan Lidahnya”, Menyadari (Ternyata) Dian Sastro dan Nico Saputra adalah Manusia Biasa (Juga)

Kemarin aku menyempatkan diri (istilah menyempatkan diri agak terlalu songong sih, seolah waktu senggangku terbatas banget) nonton Aruna dan Lidahnya. Well, meski tidak semua film Indonesia aku tonton, pada dasarnya aku adalah pendukung (kalau tidak bisa dikatakan pecinta) film Indonesia. Aku pikir, kalau aku tidak nonton film Indonesia, bisa-bisa Dian Sastro dan Nicho Saputra jadi pengawas pemilu. Nanti aku bisa pura-pura koordinasi terus.

Baiklah, cukup basa-basinya.

Kemarin urusan di kantor tidak terlalu padat. Maka, jadilah aku dan dua orang rekan di kantor meluncur ke bioskop untuk nonton Aruna dan Lidahnya. Kami mau jadi penonton-penonton pertama film yang sejak lama mencuri perhatianku itu.

Selesai menonton, temanku bertanya soal nilai yang kuberi untuk film itu. Aku katakan, “delapan.” Baiklah, nilai itu agak terlalu tinggi. Kita beri 7,5 saja yah.

Aku mulai dari hal yang kurang aku suka dari film itu. Aruna dan Lidahnya, menurutku terlalu cerewet. Semua hal, literally (biar agak Jaksel) semua, diverbalkan, diucapkan, diomongin. Ah, cerewet banget lah, kayak aku. Menurutku, ada beberapa hal, yang sebaiknya dibiarkan menjadi misteri saja. Misalnya, yang akan dibahas nanti: apa yang menjadi kecurigaan Aruna (Dian Sastro). Menurutku, biarkan saja itu menjadi pertanyaan penonton sampai ujung film. Tapi tidak, penulis skenario dan sutradaranya memutuskan menyampaikannya di tengah cerita. Soal relasi di antara empat tokoh film itu juga terlalu tersurat. Jadi kurang greget sih, menurutku.

Lalu, apa yang aku suka dari film ini? Yang aku suka adalah: Oka Antara dan Nico Saputra  Aruna dan Lidahnya begitu sederhana. Sebab, tidak perlu konflik dan kemasan yang kompleks dan mewah untuk menghiburku. Aku mah gitu, orangnya murahan mudah bahagia. Dian Sastro, Nico Saputra, Oka Antara dan Hannah Al Rashid tampak begitu natural.

Dian dan Nico seperti mendobrak kenyamanan mereka dalam beradu peran. Kita biasa disuguhkan Dian dan Nico dalam hubungan asmara yang membuat kita baper dan menjadikan pipi bersemu merah jambu kala menonton. Tetapi di sini, aku menikmati hubungan persahabatan mereka yang keliatan natural banget, yang sungguh bikin aku baper dan teringat sahabatku. Ternyata melihat persahabatan orang bisa bikin baper juga.

Gambar-gambar dalam film ini juga begitu sederhana namun mencuri perhatian. Misalnya, gambar soto, udang bakar, dan choipan. Baiklah, aku mungkin lapar saat menonton  celamitan. Tidak ada lanskap yang terlalu indah dan mewah yang disajikan Aruna dan Lidahnya. Tapi, menurutku, justru itu membuat film ini masuk akal dengan cerita Aruna yang seorang epidemiolog ketika melakukan investigasi kasus wabah penyakit di beberapa daerah.

Dalam menjalankan tugasnya itu, Aruna ditemani sahabatnya Bono (Nico Saputra) yang seorang chef yang heits banget. Rencananya, mereka hendak kulineran bareng. Lagi-lagi, film ini terasa ringan dan masuk akal, karena ternyata Nico ga ganteng-ganteng amat di sini. Bukan seorang wartawan dari New York dengan dandanan necis metropolis.  Nico yang chef itu, berdandan kasual dengan tata rias yang juga sederhana saja sih. Beberapa jerawatnya tampak yang bikin terasa manusia dan bukan dewa.

Aruna dan Lidahnya juga menyajikan beberapa adegan comical yang kebanyakan diperankan Dian Sastro. Sekali lagi, Dian Sastro mendobrak imejnya yang ningrat itu. Aku suka.

Dari segi jalan cerita, film ini, bolehlah masuk rekomendasi. Bukan cuma soal cinta dan persahabatan, film ini juga menceritakan konflik yang kalau aku ceritakan di sini bakal jadi spoiler. Film ini menceritakan kasus di balik investigasi yang dilakukan oleh Aruna.

Jadi, kalau aku ditanya soal apakah perlu menonton Aruna dan Lidahnya, aku akan menjawab: tontonlah, kalau tidak, nanti Dian Sastro dan Nico Saputra daftar jadi pengawas TPS.(dey)

 

Leave a comment »

Menyapih Joe (Cerita Menyusui Joe 3 – Habis)

P_20170327_192055_vHDR_Auto

Pernah jaya. Satu hari bisa bawa pulang 4-5 botol ASIP

Kamu pernah, lagi cinta-cintanya sama seseorang tapi harus bubaran? Padahal dia juga lagi cinta-cintanya. “Demi kebaikan kalian,” kata seseorang sekelas Mario Teguh gitu.

Nah, begitulah yang saya rasakan saat harus menyapih Joe. Masih seru-serunya, lagi nikmat-nikmatnya, dokter bilang, “stop beri ASI.” Yang sudah diperah? “Buat apa? Buang!” Ya, Dilan, sakit banget. Aku nggak sanggup, apalagi kamu. Masih pake dimarahin pulak sama dokter, “pilih mana, nggak mau galau atau tumbuh kembang anakmu?” Baiklah. Saya pilih galau sebentar.

Dua tahun menyusui Joe, saya tidak menemukan alasan untuk berhenti, walau banyak mitos memaksa saya untuk segera menyapihnya. Iya, memang  bukan karena alasan apalagi filosofi apa pun saya belum menyapih Joe. Sebaliknya, saya tidak menemukan alasan darurat untuk melepas menyusuinya. Saya masih menikmati. Dia masih menikmati. Saya suka, dia suka. So what?! Ternyata, golongan orang yang ga bisa dinasehati bukan cuma dua, tapi tiga: orang yang jatuh cinta, pendukung capres dan (satu lagi) ibu menyusui.

IMG-20171029-WA0006

Bahkan saat sedang kerja, saya menyusui

Kami berdua memang ketergantungan dengan ASI. Joe baru merasa nyaman pergi tidur kalau menyusu dulu. Sebaliknya, kalau Joe terluka, sedih, atau marah, saya ga akan ngapa-ngapain selain memeluknya, memangkunya lalu menyusui dia. Ampuh! Jaminan mutu.

Lalu tibalah hari penuh drama itu: dokter bilang, Joe kurang nafsu makan karena dia keasikan menyusu pada mamaknya. Jadilah, tanpa babibu, Kamis, tiga pekan lalu saya tidak lagi menyusuinya. Beberapa hari kemudian, tiga botol ASIP dari kulkas, saya buang dengan diantar derai air mata. Mamak sedih.

Beberapa jam pertama usai nasehat dokter itu, semua berjalan lancar. Joe (anehnya) mau minum susu UHT (susu yang selalu dia tolak sebelumnya). Dia pun bisa tidur dengan mudah meski permintaan “nenen, Mak”-nya saya tolak. Ada sedikit kegembiraan, walaupun banyak sedihnya. Gembira karena tidak ada drama. Sedih karena drama itu terjadi di pikiran saya. Semacam: dia-ga-sayang-lagi-sama-gue, saat putus sama pacar. Ada rasa kehilangan momen-momen kelekatan kami: saat hanya saya yang bisa dia andalkan. Saat apa pun yang ditawarkan kepadanya, dia tolak, kecuali tetek saya. Saat dia uring-uringan, obatnya hanya semudah memangkunya lalu menyusuinya.

Drama antara kami berdua hadir pada malam kedua saya menyapihnya. Saya ingat betul, Jumat 23 Maret 2018 malam. Saya ngelonin dia tidur. Dia minta nenen. Saya bilang dia tidak boleh lagi menyusu, sebab dia sudah cukup besar untuk melepas ASI dan mulai minum susu yang lain. Dengan menangis dia jawab, “boleh. Joe boleh nenen. Joe inda becat (belum besar).” Ya, Dilan. Mamak mana yang sanggup? (dan sekarang pun saya masih sedih mengingatnya). Dia menangis sampai tertidur: memeluk saya. Dan, ga perlu saya ceritakan apa yang terjadi kemudian. Mana bapaknya Joe kagak ada lagi. Aaaah… peran ayah ASI harus diperluas sampai menemani ibu di tengah drama menyapih.

Hati rasanya seperti longsor. Ada yang jeblos gitu.

Joe masih terus meminta nenen sampai sekitar sepekan saya menyapihnya. Dan jawabannya saat saya tolak selalu sama: “Joe (masih) boleh nenen.”

Itu  baru cerita emosionalnya. Belum cerita fisisnya. Satu pekan, payudara terasa kenceng kayak mau meledak. Demam pun ga terhindari. Dan entah apakah pengaruh ASI yang nggak keluar atau memang infeksi virus, saya terserang flu dan batuk berat, atau kolaborasi keduanya. Puji Tuhan, rekan-rekan kerja mengerti, padahal mereka cowok semua.

Dua pekan pasca disapih, Joe nggak pernah lagi minta nenen. Malah kadang saya yang menggodanya. Dia cuma tertawa dan menolak. Yay! Sekali lagi kita berhasil melewatinya, Joe. Tos lagi lah.

Leave a comment »

Ketika Joe Lulus ASI Dua Tahun (Cerita Menyusui Joe-2)

Nyari foto Joe lagi nyusu ga dapet-dapet, malah dapet foto lagi nongkrong sambil netekin Joe

Saya ga tau mengapa orang-orang menyebutnya dengan “lulus”. Mungkin karena menyusui (breastfeeding) ini semacam ujian. Ya ujian kesabaran. Ya ujian konsistensi. Ujian keteguhan juga iya.

Di enam bulan pertama umur Joe ujian kesabaran itu terjadi justru karena ASI saya melimpah-limpah. Belum tiga jam sudah harus dikosongkan karena payudara sudah terasa nyeri karena kepenuhan ASI. Tengah malam bisa sampai dua kali memompa, ini masih di luar menyusui langsung yang bisa empat kali dalam satu malam. Saya bersyukur sekali waktu itu tidak disulitkan dalam menyusui. Tapi sebagai ibu baru dengan ritme rutinitas yang baru, kadang memompa ASI itu melelahkan. Apalagi ditambah ngeliat suami nyenyak tidur. Kan keki. KZL! Hahaha…

Ujian lainnya adalah ketika masa cuti habis dan saya mulai masuk kerja kembali, Joe ternyata enggan menyusu dengan media lain selain payudara saya. Pernah satu hari saya tinggal, dia tidak menyusu. Setelah saya pulang, dia memandangi wajah saya beberapa detik lalu menangis. Saya ikut menangis. Hahaha… memang mamak-mamak cengeng.

Joe tidak mau minum pakai dot. Tidak juga pakai sendok. Padahal di hari-hari pertamanya dia sudah pernah disuapi opungnya pakai sendok. Karena drama itu, saya selalu harus buru-buru pulang. Pekerjaan yang bisa saya kerjakan di rumah, saya bawa pulang. Sampai akhirnya saya disarankan menggunakan dan dipinjamkan soft cup feeder merk Medela yang harganya hampir setengah juta. Padahal sendok teh kan harganya cuma goceng. Duh, Joe! Kamu tau sekali mamak punya bakat kaya. Dan loooh… pakai soft cup feeder ternyata tidak mencegah anak bingung putting loh. Saya tinggal dinas luar kota empat hari, nyatanya pas ketemu, Joe ga mau netek tuh. Drama lagi! Tapi memang harus tega, saya paksa terus supaya Joe nenen, terutama kalau Joe sedang tidur lelap. Puji Tuhan! Satu minggu kemudian, dia sudah mau menyusu tanpa ada drama pemaksaan.

Menyusui dengan soft cup feeder tentu lebih merepotkan daripada menggunakan dot. Meski saya tau mamak ga keberatan, saya minta Joe tetap diajari menyusu pakai dot. Umur tujuh atau delapan bulan Joe akhirnya mahir menyusu menggunakan dot walau saya deg-degan juga, takut doi bingung putting dan ga mau netek lagi. Beberapa bulan berlalu, bahkan ketika ditinggal dinas, Joe bebas dari bingung puting. Mamak bangga. Tapi, suatu kali saya tinggal dinas dan tertahan di Papua sampai lima hari, lagi-lagi drama bingung puting terjadi. Duh Gusti. Saya sungguh belum siap kehilangan momen menyusui. Tapi saya kan mamak tega. Saya paksa lagi dia. Dan 3 hari kemudian, dia mau netek lagi. Tos ah, Joe. Puji Tuhan sejak itu Joe ga pernah bingung puting lagi. Sampai sekarang!

Sampai Joe berumur 1,5 tahun urusan menyusui lancar jaya. Stok ASI, walau tidak lagi melimpah, masih tetap cukup. Kalua ditugaskan dinas luar kota, saya pun masih pede lah, ga akan kehabisan stok. Tapi ketika Joe berumur 1 tahun 8 bulan saya mulai kurang pede dinas luar kota lama-lama, sebab stok susu paling Cuma 10 botol saja. Sampai pernah Cuma 3 botol. Bahkan pernah saya tinggal dinas 1 malam dan susu sudah habis. Hahahaha…

Sebenarnya, kalau sudah lebih dari satu tahun, fungsi ASI lebih banyak pada kenyamanan saja (baik bagi anak, maupun emaknya). Tapi dalam hal Joe, fungsi ASI sebagai pemenuh gizi masih besar prosentasenya. Sebab, Joe termasuk anak yang susah makan. Plus lagi, Joe menolak minum susu sapi. Yasih, saya belum coba susu formula. Saya masih hanya nyoba ngasih dia susu UHT atau pasterisasi. Semuanya dia tolak. Bahkan dalam kondisi ngatuk berat!

Saat Joe ulang tahun kedua, saya jemawa ke rekan kantor, “aku udah bisa dinas luar kota. Anakku sudah ga minum ASIP lagi.” Saya pikir, Joe tetap akan direct breastfeeding (baca: netek langsung), tapi tidak perlu lagi minum ASIP. Jadi saya ga perlu mompa lagi. Toh saya juga (masih sangat) menikmati momen netekin anak ganteng itu. Saya masih menikmati ketika matanya memandang mata saya, ketika tangannya menari di dada atau wajah saya, ketika mulutnya menyecap tapi tetap mendendangkan lagu.

Ternyata eh ternyata, Joe tetap ga mau minum susu sapi, pun makannya masih belum oke. Mungkin saya ketulah dengan omongan sendiri: “susu sapi ya untuk sapi. Manusia ya minum susu manusia. Mamaknya masih bisa menghasilkan susu, kenapa harus dikasih susu sapi,” waktu mama dan mertua maksa ngajarin Joe minum susu sapi. Duh, Gusti.. kualat sama orang tua.

Joe ternyata sudah lulus 2 tahun ASI. Tapi ternyata dia masih mau terus melanjutkan pasca sarjana. #eh

Leave a comment »

Satu (Lagi) untuk (Pendeta) Osa

Ini Osa. Saya senang melafalkan nama lengkapnya: Guratan Pamentasing Pragolaesa. (Semoga sudah benar, Sa).

Saya mengenalnya awal tahun 2007 pada akhir masa sekolah di Jogja. Seperti tokoh Daud dan Yonatan di cerita Alkitab, seperti ada aliran listrik tersambung antara jantungnya dengan jantung saya. Saya merasa cocok dengannya.

Hidupnya penuh kejutan. Mengejutkan, ketika di malam sendu, ketika saya kesepian di kos, pacar ga punya, temen nongkrong mulai pada lulus kuliah, sahabat sedang asik dengan pacarnya (setidaknya sekali dalam hidup saya pernah jadi jones. Jomblo ngenes). Saat ngenes itu, dia (orang asing dalam hidup saya) tiba-tiba menelpon, mengajak bergabung dalam pelayaan di GKI Gejayan. Syahdan, kami, bersama teman lain menciptakan nama: Teater Jeruk dengan slogan “membawa kesegaran baru”. Untuk yang belum punya pengalaman humas lumayan lah ya. Sejak itu, saya tidak pernah merasa kesepian lagi. Saya bahkan dapet pacar baru. Saya anak drama, si dia anak musik #eh ini bukan bahas mantan pacar!

Mengejutkan ketika, malam berbulan berikutnya dia menelepon lalu bilang, “gue sayang lo, Dey.” Tentu ini bukan sayang-sayangan seperti yang pemirsa pikirkan. Ini adalah kasih persaudaraan. Persahabatan. Pemirsa mungkin berpikir seperti Vidi, “nggak mungkin ada persahabatan yang tulus antara laki-laki dan perempuan. Pasti ada yang makan hati di antara kalian.”
Saya sih nggak. Eh, nggak tau deh kalo Osa. Hahaha…

Mengejutkan ketika dia mengaku mengundurkan diri dari pekerjaan di perusahaan mapan yang membayarnya dua kali lipat dari tempat saya bekerja membayar saya waktu itu. Dia memilih menekuni hobinya: dunia perfilman. Mengingatkan saya ketika kami menggarap video ecek-ecek dalam pelayanan kami.

Yang paling mengejutkan adalah ketika tiba-tiba dia bilang mau melanjutkan sekolah. Amazing! Banting setir lagi dia. Kali ini mau masuk ke dunia akademik. Belum selesai keterkejutan saya, dia bilang mau kuliah jurusan teologi. Hahaha.. demi kejahilan-kejahilan yang pernah kami lakukan bersama dan kisah-kisah yang pernah kami gunjingkan, saya kaget!

“Gue mau serius pelayanan di film. Tapi gue harus punya dasar ilmu supaya yang gue sampaikan gak sembarangan.” akunya. Saya yang kaget, kagum, kagok dan belum mampu mengontrol jantung dan pikiran cuma ngangguk-ngangguk. Baiklah!

Kejutan lainnya datang ketika dia bilang mau menikah. Kalau ini kejutan manis. Hihi.. Saya adalah pengagum Tyas. Dia ramah dan menyenangkan.

Yang tidak (lagi) mengejutkan adalah ketika dua bulan lalu dia mengirim pesan messenger mengundang untuk menghadiri dan menyaksikan penahbisannya menjadi pendeta di tempat kami berkenalan, akrab dan menjadi sahabat: GKI Gejayan.

Tanpa babibu, saya putuskan berangkat sekalian liburan sebentar dengan Vidi dan Joe. Saya harus menjadi saksi perjalanan besarnya ini. Dan memang saya tak mampu membendung air mata ketika dia berlutut menerima peneguhan dari pendeta lainnya. Jantung saya berdegup kencang sekali waktu itu. Ingin memegang tangan Vidi, ternyata dia jauh karena sedang menjaga Joe. Jadilah saya galau sendirian.

Saya bersyukur mengenal Osa. Lebih bersyukur lagi dengan jalan hidup yang dia pilih. Saya yang badung ini, tentu perlu pengingat macam dia, meski tegurannya kadang membuat sebel dan sangat mengganggu.

Sekali lagi, Selamat ya, Sa. Gembalakanlah gue. Kalau pun ga bisa jadi domba yang baik, minimal gue tetap di kandang dan ga tersesat. Hahaha..

Leave a comment »