kata dunia

duniaku dalam kata

Menyapih Joe (Cerita Menyusui Joe 3 – Habis)

P_20170327_192055_vHDR_Auto

Pernah jaya. Satu hari bisa bawa pulang 4-5 botol ASIP

Kamu pernah, lagi cinta-cintanya sama seseorang tapi harus bubaran? Padahal dia juga lagi cinta-cintanya. “Demi kebaikan kalian,” kata seseorang sekelas Mario Teguh gitu.

Nah, begitulah yang saya rasakan saat harus menyapih Joe. Masih seru-serunya, lagi nikmat-nikmatnya, dokter bilang, “stop beri ASI.” Yang sudah diperah? “Buat apa? Buang!” Ya, Dilan, sakit banget. Aku nggak sanggup, apalagi kamu. Masih pake dimarahin pulak sama dokter, “pilih mana, nggak mau galau atau tumbuh kembang anakmu?” Baiklah. Saya pilih galau sebentar.

Dua tahun menyusui Joe, saya tidak menemukan alasan untuk berhenti, walau banyak mitos memaksa saya untuk segera menyapihnya. Iya, memang  bukan karena alasan apalagi filosofi apa pun saya belum menyapih Joe. Sebaliknya, saya tidak menemukan alasan darurat untuk melepas menyusuinya. Saya masih menikmati. Dia masih menikmati. Saya suka, dia suka. So what?! Ternyata, golongan orang yang ga bisa dinasehati bukan cuma dua, tapi tiga: orang yang jatuh cinta, pendukung capres dan (satu lagi) ibu menyusui.

IMG-20171029-WA0006

Bahkan saat sedang kerja, saya menyusui

Kami berdua memang ketergantungan dengan ASI. Joe baru merasa nyaman pergi tidur kalau menyusu dulu. Sebaliknya, kalau Joe terluka, sedih, atau marah, saya ga akan ngapa-ngapain selain memeluknya, memangkunya lalu menyusui dia. Ampuh! Jaminan mutu.

Lalu tibalah hari penuh drama itu: dokter bilang, Joe kurang nafsu makan karena dia keasikan menyusu pada mamaknya. Jadilah, tanpa babibu, Kamis, tiga pekan lalu saya tidak lagi menyusuinya. Beberapa hari kemudian, tiga botol ASIP dari kulkas, saya buang dengan diantar derai air mata. Mamak sedih.

Beberapa jam pertama usai nasehat dokter itu, semua berjalan lancar. Joe (anehnya) mau minum susu UHT (susu yang selalu dia tolak sebelumnya). Dia pun bisa tidur dengan mudah meski permintaan “nenen, Mak”-nya saya tolak. Ada sedikit kegembiraan, walaupun banyak sedihnya. Gembira karena tidak ada drama. Sedih karena drama itu terjadi di pikiran saya. Semacam: dia-ga-sayang-lagi-sama-gue, saat putus sama pacar. Ada rasa kehilangan momen-momen kelekatan kami: saat hanya saya yang bisa dia andalkan. Saat apa pun yang ditawarkan kepadanya, dia tolak, kecuali tetek saya. Saat dia uring-uringan, obatnya hanya semudah memangkunya lalu menyusuinya.

Drama antara kami berdua hadir pada malam kedua saya menyapihnya. Saya ingat betul, Jumat 23 Maret 2018 malam. Saya ngelonin dia tidur. Dia minta nenen. Saya bilang dia tidak boleh lagi menyusu, sebab dia sudah cukup besar untuk melepas ASI dan mulai minum susu yang lain. Dengan menangis dia jawab, “boleh. Joe boleh nenen. Joe inda becat (belum besar).” Ya, Dilan. Mamak mana yang sanggup? (dan sekarang pun saya masih sedih mengingatnya). Dia menangis sampai tertidur: memeluk saya. Dan, ga perlu saya ceritakan apa yang terjadi kemudian. Mana bapaknya Joe kagak ada lagi. Aaaah… peran ayah ASI harus diperluas sampai menemani ibu di tengah drama menyapih.

Hati rasanya seperti longsor. Ada yang jeblos gitu.

Joe masih terus meminta nenen sampai sekitar sepekan saya menyapihnya. Dan jawabannya saat saya tolak selalu sama: “Joe (masih) boleh nenen.”

Itu  baru cerita emosionalnya. Belum cerita fisisnya. Satu pekan, payudara terasa kenceng kayak mau meledak. Demam pun ga terhindari. Dan entah apakah pengaruh ASI yang nggak keluar atau memang infeksi virus, saya terserang flu dan batuk berat, atau kolaborasi keduanya. Puji Tuhan, rekan-rekan kerja mengerti, padahal mereka cowok semua.

Dua pekan pasca disapih, Joe nggak pernah lagi minta nenen. Malah kadang saya yang menggodanya. Dia cuma tertawa dan menolak. Yay! Sekali lagi kita berhasil melewatinya, Joe. Tos lagi lah.

Advertisements
Leave a comment »

Ketika Joe Lulus ASI Dua Tahun (Cerita Menyusui Joe-2)

Nyari foto Joe lagi nyusu ga dapet-dapet, malah dapet foto lagi nongkrong sambil netekin Joe

Saya ga tau mengapa orang-orang menyebutnya dengan “lulus”. Mungkin karena menyusui (breastfeeding) ini semacam ujian. Ya ujian kesabaran. Ya ujian konsistensi. Ujian keteguhan juga iya.

Di enam bulan pertama umur Joe ujian kesabaran itu terjadi justru karena ASI saya melimpah-limpah. Belum tiga jam sudah harus dikosongkan karena payudara sudah terasa nyeri karena kepenuhan ASI. Tengah malam bisa sampai dua kali memompa, ini masih di luar menyusui langsung yang bisa empat kali dalam satu malam. Saya bersyukur sekali waktu itu tidak disulitkan dalam menyusui. Tapi sebagai ibu baru dengan ritme rutinitas yang baru, kadang memompa ASI itu melelahkan. Apalagi ditambah ngeliat suami nyenyak tidur. Kan keki. KZL! Hahaha…

Ujian lainnya adalah ketika masa cuti habis dan saya mulai masuk kerja kembali, Joe ternyata enggan menyusu dengan media lain selain payudara saya. Pernah satu hari saya tinggal, dia tidak menyusu. Setelah saya pulang, dia memandangi wajah saya beberapa detik lalu menangis. Saya ikut menangis. Hahaha… memang mamak-mamak cengeng.

Joe tidak mau minum pakai dot. Tidak juga pakai sendok. Padahal di hari-hari pertamanya dia sudah pernah disuapi opungnya pakai sendok. Karena drama itu, saya selalu harus buru-buru pulang. Pekerjaan yang bisa saya kerjakan di rumah, saya bawa pulang. Sampai akhirnya saya disarankan menggunakan dan dipinjamkan soft cup feeder merk Medela yang harganya hampir setengah juta. Padahal sendok teh kan harganya cuma goceng. Duh, Joe! Kamu tau sekali mamak punya bakat kaya. Dan loooh… pakai soft cup feeder ternyata tidak mencegah anak bingung putting loh. Saya tinggal dinas luar kota empat hari, nyatanya pas ketemu, Joe ga mau netek tuh. Drama lagi! Tapi memang harus tega, saya paksa terus supaya Joe nenen, terutama kalau Joe sedang tidur lelap. Puji Tuhan! Satu minggu kemudian, dia sudah mau menyusu tanpa ada drama pemaksaan.

Menyusui dengan soft cup feeder tentu lebih merepotkan daripada menggunakan dot. Meski saya tau mamak ga keberatan, saya minta Joe tetap diajari menyusu pakai dot. Umur tujuh atau delapan bulan Joe akhirnya mahir menyusu menggunakan dot walau saya deg-degan juga, takut doi bingung putting dan ga mau netek lagi. Beberapa bulan berlalu, bahkan ketika ditinggal dinas, Joe bebas dari bingung puting. Mamak bangga. Tapi, suatu kali saya tinggal dinas dan tertahan di Papua sampai lima hari, lagi-lagi drama bingung puting terjadi. Duh Gusti. Saya sungguh belum siap kehilangan momen menyusui. Tapi saya kan mamak tega. Saya paksa lagi dia. Dan 3 hari kemudian, dia mau netek lagi. Tos ah, Joe. Puji Tuhan sejak itu Joe ga pernah bingung puting lagi. Sampai sekarang!

Sampai Joe berumur 1,5 tahun urusan menyusui lancar jaya. Stok ASI, walau tidak lagi melimpah, masih tetap cukup. Kalua ditugaskan dinas luar kota, saya pun masih pede lah, ga akan kehabisan stok. Tapi ketika Joe berumur 1 tahun 8 bulan saya mulai kurang pede dinas luar kota lama-lama, sebab stok susu paling Cuma 10 botol saja. Sampai pernah Cuma 3 botol. Bahkan pernah saya tinggal dinas 1 malam dan susu sudah habis. Hahahaha…

Sebenarnya, kalau sudah lebih dari satu tahun, fungsi ASI lebih banyak pada kenyamanan saja (baik bagi anak, maupun emaknya). Tapi dalam hal Joe, fungsi ASI sebagai pemenuh gizi masih besar prosentasenya. Sebab, Joe termasuk anak yang susah makan. Plus lagi, Joe menolak minum susu sapi. Yasih, saya belum coba susu formula. Saya masih hanya nyoba ngasih dia susu UHT atau pasterisasi. Semuanya dia tolak. Bahkan dalam kondisi ngatuk berat!

Saat Joe ulang tahun kedua, saya jemawa ke rekan kantor, “aku udah bisa dinas luar kota. Anakku sudah ga minum ASIP lagi.” Saya pikir, Joe tetap akan direct breastfeeding (baca: netek langsung), tapi tidak perlu lagi minum ASIP. Jadi saya ga perlu mompa lagi. Toh saya juga (masih sangat) menikmati momen netekin anak ganteng itu. Saya masih menikmati ketika matanya memandang mata saya, ketika tangannya menari di dada atau wajah saya, ketika mulutnya menyecap tapi tetap mendendangkan lagu.

Ternyata eh ternyata, Joe tetap ga mau minum susu sapi, pun makannya masih belum oke. Mungkin saya ketulah dengan omongan sendiri: “susu sapi ya untuk sapi. Manusia ya minum susu manusia. Mamaknya masih bisa menghasilkan susu, kenapa harus dikasih susu sapi,” waktu mama dan mertua maksa ngajarin Joe minum susu sapi. Duh, Gusti.. kualat sama orang tua.

Joe ternyata sudah lulus 2 tahun ASI. Tapi ternyata dia masih mau terus melanjutkan pasca sarjana. #eh

Leave a comment »

Satu (Lagi) untuk (Pendeta) Osa

Ini Osa. Saya senang melafalkan nama lengkapnya: Guratan Pamentasing Pragolaesa. (Semoga sudah benar, Sa).

Saya mengenalnya awal tahun 2007 pada akhir masa sekolah di Jogja. Seperti tokoh Daud dan Yonatan di cerita Alkitab, seperti ada aliran listrik tersambung antara jantungnya dengan jantung saya. Saya merasa cocok dengannya.

Hidupnya penuh kejutan. Mengejutkan, ketika di malam sendu, ketika saya kesepian di kos, pacar ga punya, temen nongkrong mulai pada lulus kuliah, sahabat sedang asik dengan pacarnya (setidaknya sekali dalam hidup saya pernah jadi jones. Jomblo ngenes). Saat ngenes itu, dia (orang asing dalam hidup saya) tiba-tiba menelpon, mengajak bergabung dalam pelayaan di GKI Gejayan. Syahdan, kami, bersama teman lain menciptakan nama: Teater Jeruk dengan slogan “membawa kesegaran baru”. Untuk yang belum punya pengalaman humas lumayan lah ya. Sejak itu, saya tidak pernah merasa kesepian lagi. Saya bahkan dapet pacar baru. Saya anak drama, si dia anak musik #eh ini bukan bahas mantan pacar!

Mengejutkan ketika, malam berbulan berikutnya dia menelepon lalu bilang, “gue sayang lo, Dey.” Tentu ini bukan sayang-sayangan seperti yang pemirsa pikirkan. Ini adalah kasih persaudaraan. Persahabatan. Pemirsa mungkin berpikir seperti Vidi, “nggak mungkin ada persahabatan yang tulus antara laki-laki dan perempuan. Pasti ada yang makan hati di antara kalian.”
Saya sih nggak. Eh, nggak tau deh kalo Osa. Hahaha…

Mengejutkan ketika dia mengaku mengundurkan diri dari pekerjaan di perusahaan mapan yang membayarnya dua kali lipat dari tempat saya bekerja membayar saya waktu itu. Dia memilih menekuni hobinya: dunia perfilman. Mengingatkan saya ketika kami menggarap video ecek-ecek dalam pelayanan kami.

Yang paling mengejutkan adalah ketika tiba-tiba dia bilang mau melanjutkan sekolah. Amazing! Banting setir lagi dia. Kali ini mau masuk ke dunia akademik. Belum selesai keterkejutan saya, dia bilang mau kuliah jurusan teologi. Hahaha.. demi kejahilan-kejahilan yang pernah kami lakukan bersama dan kisah-kisah yang pernah kami gunjingkan, saya kaget!

“Gue mau serius pelayanan di film. Tapi gue harus punya dasar ilmu supaya yang gue sampaikan gak sembarangan.” akunya. Saya yang kaget, kagum, kagok dan belum mampu mengontrol jantung dan pikiran cuma ngangguk-ngangguk. Baiklah!

Kejutan lainnya datang ketika dia bilang mau menikah. Kalau ini kejutan manis. Hihi.. Saya adalah pengagum Tyas. Dia ramah dan menyenangkan.

Yang tidak (lagi) mengejutkan adalah ketika dua bulan lalu dia mengirim pesan messenger mengundang untuk menghadiri dan menyaksikan penahbisannya menjadi pendeta di tempat kami berkenalan, akrab dan menjadi sahabat: GKI Gejayan.

Tanpa babibu, saya putuskan berangkat sekalian liburan sebentar dengan Vidi dan Joe. Saya harus menjadi saksi perjalanan besarnya ini. Dan memang saya tak mampu membendung air mata ketika dia berlutut menerima peneguhan dari pendeta lainnya. Jantung saya berdegup kencang sekali waktu itu. Ingin memegang tangan Vidi, ternyata dia jauh karena sedang menjaga Joe. Jadilah saya galau sendirian.

Saya bersyukur mengenal Osa. Lebih bersyukur lagi dengan jalan hidup yang dia pilih. Saya yang badung ini, tentu perlu pengingat macam dia, meski tegurannya kadang membuat sebel dan sangat mengganggu.

Sekali lagi, Selamat ya, Sa. Gembalakanlah gue. Kalau pun ga bisa jadi domba yang baik, minimal gue tetap di kandang dan ga tersesat. Hahaha..

Leave a comment »

Jo dan Mama(k)

DSCF1008

“Itu, Mak,” kata Joe.

Sejak tau saya mengandung, Vidi sudah mantap ingin dipanggil “bapak” oleh anaknya nanti. Kata dia, “Indonesia banget”. Iya sih. Tapi kan, nanti anak itu juga akan memanggil gurunya dengan “bapak”, memanggil rekan kerjanya dengan panggilan yang sama. Dia juga akan memanggil orang dewasa yang dia temui di jalan dengan “bapak”.

“Nggak istimewa,” kata saya.

“Nggak apa-apa. Pokoknya Indonesia banget. Yang penting dia sayang aku,” jawabnya,

 

Kalo saya lebih ribet. Saya ingin panggilan yang istimewa, unik, personal dan nggak ada yang nyamain. Pokoknya, kalo terdengar kata itu, berarti anak itu sedang memanggil saya. Saya tidak ingin dipanggil “ibu”, terlalu buanyak panggilan ibu. Saya juga tidak dipanggil “bunda”, terlalu mainstream di era milenial ini. Saya pun enggan dipanggil “mami”, terlampau elitis. #tsaaahhh. Bagaimana dengan “mamak” seperti saya dengan ibu saya? Saya sebenarnya suka dengan panggilan itu. Hangat dan personal. Tapi saya tidak terlalu dekat dengan mamak. Saya tidak ingin pengalaman tidak baik tentang hubungan ibu-anak antara saya dan mamak terulang pada saya dan Joe.

Pertama, saya ingin dipanggil dengan panggilan yang mengandung nama saya “dey”. Tapi, sampai mendekati HPL Joe, saya tidak jua menemukan nama panggilan yang tepat. Saya menyerah.

Lalu, saya turunkan target, yang penting panggilan saya unik dan istimewa. Maka, saya sempat terpikir ingin dipanggil “inong” yang berarti “ibu” dalam bahasa Batak. Tapi lalu saya ingat, ada teman dekat saya waktu kuliah punya nama panggilan Inong. Duh! Dalam tradisi keluarga Vidi, panggilan ibu bisa disebut dengan “eno”, tapi lagi-lagi, ada pula teman yang punya panggilan demikian. Mau seperti teman-teman yang menggunakan bahasa Arab yang dipanggil “umi”, saya sempat mau mencari kata ibu dalam bahasa Ibrani. Tapi, ah kok norak banget ya. Nggak jadi! Saya menyerah lagi.

HPL semakin dekat. Lebih dari itu, anak itu bahkan lahir 10 hari sebelum HPL dan saya tetap tidak punya sebutan yang istimewa untuk Joe dapat memanggil saya. Saya panik. (Haha.. lebay!)

Ya sudah lah, akhirnya saya malah kembali ke arus utama. Saya menyebut diri saya sebagai “mama” setiap kali berkomunikasi dengan Joe.

Usia 10 bulan, saat mulai bicara sepatah-dua patah kata, Joe memanggil saya dengan “Deti”. Hahaha… Panggilan itu dipakai terus sampai usianya sekitar 14 bulan. Lalu dia mulai memanggil saya mama. Seperti yang saya dan Vidi ajarkan.

Saya lupa mulai kapan tepatnya, Joe mulai memanggil saya “mamak” seperti yang diajari opungnya, mamak saya.

Hahaha.. sak karepmu lah, Joe. Manang aha peta ho.

Leave a comment »

Notasi Rindu pada Joe

DSCF0290

 

Nak, setiap kali lengkung langit memancarkan jingga,

aku selalu tersadar: rinduku pecah, membuncah dadaku.

Jam demi jam ku hitung, sudah berapa lama aku meninggalkanmu

kadang bahkan belum seperdua hari sejak aku menatapmu memandangiku menjauh,

meninggalkanmu

Lalu panggilan itu datang, dan tangismu terdengar di sana memanggil-manggilku.

Maka gelisah tak mampu lagi ku hindari.

Jadi, bagaimana dapat aku mengatur rasa ini?

Ambisiku dan kerinduanku padamu,

obsesiku dan kasih di antara kita.

Leave a comment »

Pernikahan Bukan Balapan, Stop “Nyuruh” “Nyusul”

DSC_5328

 

Suatu kali, saya kurang ingat kapan tepatnya, tapi rasanya sekitar 2011, saya menghadiri resepsi pernikahan seorang sejawat. Saat saya salam dan beri ucapan selamat, dia bilang “Cepet nyusul ya.”
Saya yang memang mulutnya lebih pedas dari cabe mexico menjawab, “beberapa jam lalu lo masih single kayak gue. Sekarang lo udah nasehatin gue. Lo cuma lebih senior beberapa jam dalam hal ini. Lagipula, otoritas apa yang lo punya untuk nyuruh gue nyusul? Belum tentu juga gue mau nyusul.” #eaa
(Disclaimer: kalimat terakhir dalam hati saja) Lega juga rasanya nyemprot penganten baru. Hahahaha…
Dan ya, puji Tuhan, ketika gantian saya yang di pelaminan bersama Vidi, ga sekali pun saya ucapkan kalimat susul menyusul itu.

Hidup bukan balapan, Bro, Sis. Pernikahan bukan pertandingan. Tidak perlu didesak, tidak perlu diburu-buru apalagi dipecut. Setiap orang punya pilihan hidupnya masing-masing.

Ada yang tak ingin berlama-lama pacaran, takut kena fitnah atau malah jadi berzinah, maka mereka menikah. Ada yang gemar pacaran sampai bertahun-tahun, bukan karena takut berkomitmen, tapi nyatanya hidup pacaran memang seru: punya pasangan tapi tetap bisa ngelaba cowok ganteng #eh. Ada yang mau menikah, namun menyimpan ketakutan melamar kekasihnya. Ada pula yang tak mau terikat pernikahan sama sekali. Ya sudahlah, itu pilihan jalan hidup setiap orang.

Vidi pernah bilang, “kamu ga semestinya sewot. Mereka bahagia dan mereka ingin kamu juga berbahagia (dengan nyuruh nyusul menikah),” Tapi nama tengah saya kan sewot. Jadi ga bisa untuk ga sewot.
Lebih tepatnya, kita tidak tahu standar bahagia setiap orang. Maka tugas kita adalah mendoakannya, bukan reseh menasehatinya.

Jadi, mohon maklum kalau kadang saya paling sewot membela hak jomblo semacam, “kalau memang lo bahagia sendiri, ga usah terbeban untuk merencanakan pernikahan apalagi nyari-nyari cowok untuk diajak menikah.” Atau, “2018 masih aja nanya kapan nikah. Terlalu mainstream!” Semacam itulah.

Meski demikian, saya pun akan jadi orang terdepan yang menyemangati dan membantu kalau ada kawan yang memutuskan mengikat janji pernikahan.

Jadi inti tulisan ini apa? Ya, cuma mau sewot aja. Hahaha..

Leave a comment »

Cerita Menyusui Joe (1)

Ini cerita soal menyusui dan ASI Joe. Sejak hamil, saya udah berkomitmen mau ngasih Joe ASI sampe minimal dua tahun. Hingga kini, hampir 8 bulan usia Joe, cita-cita itu tampaknya bisa diwujudkan. Sekarang Joe berumur 7 bulan 18 hari. Hingga usia 6 bulannya, Joe cuma mengonsumsi ASI. Yay!

Dan yak, saya punya banyak stok ASI di rumah. Jadi, mengutip kata temen-temen, saya ga pake acara galau ASI seret, apalagi kalo harus keluar kota ninggalin Joe.

Berawal dari usia janin Joe sekitar 7 bulan. Waktu itu saya pijet-pijet lucuk gitu sama pemijat yang kebetulan tetangga kontrakan. Ah, saya merindukan dia. Dia sempet pegang payudara saya, eh dia bilang, “ASI lo udah mulai keluar nih, Neng. Alhamdulillah. Sesama ibu menyusui biasanya nanya, “makan/minum apa sih?”

Okay, menjawab beragam pertanyaan soal ASI saya, ini yang bisa saya sampaikan berdasar pengalaman.

  1. Saya ga tau, apakah makanan yang dikonsumsi semasa hamil juga berpengaruh pada kuantitas dan kualitas ASI. Tapi kalo ada yang tanya, inilah yang saya konsumsi waktu hamil, yang mungkin berpengaruh pada ASI: bubur kacang ijo, susu almond dan edamame. Aih, jadi pengen lagi!

Hampir setiap hari saya makan bubur kacang ijo. Sedangkan susu almond saya minum dua/tiga hari sekali. Bukan apa-apa- mahal, Cyin. Kalau edamame, belum tentu seminggu sekali sih. Ga terlalu enak. Hehe..

Sebenernya saya konsumsi kacang-kacangan itu untuk asupan protein bagi janin Joe, tapi memang bagi ibu menyusui kacang-kacangan konon adalah booster ASI.

  1. Yang pasti berpengaruh pada kelancaran ASI adalah inisiasi menyusui dini (IMD).

Puji Tuhan, saya memilih melahirkan di RS Sint Carolus yang sangat pro-normal dan pro-ASI. Jadi, RS itu mewajibkan setiap kelahiran untuk menjalani IMD. IMD adalah metode membiarkan bayi nyari puting ibunya, segera setelah lahir. Begitu brot, Joe keluar, suster langsung narok bayi ganteng itu ke atas dada saya. Yang kayaknya terlalu ke atas deh. Saya liat Joe agak kesusahan nemuin puting saya. Kasian dia. Setelah 80 menit, akhirnya Joe berhasil. Yay! Hebat, good job, Sayang.

Lama memang. Sampai mertua saya berkali-kali bilang sama susternya, “Sus, ini mantu sama cucu saya kok dibiarin telanjang begini?” Maklum, jaman doi belum ada yang namanya IMD. Bayangin aja, lebih dari 80 menit saya dibiarin telanjang.

Besoknya, waktu masih dalam perawatan, saya dapet penyuluhan ASI oleh dokter spesialis laktasi dan suster-suster yang adalah bidan. Ibu-ibunya dikasih tau caranya mijet payudara dan meras ASI pake tangan, tanpa bantuan pompa. Bapak-bapaknya dikasih tau mijet istrinya. Tapi sayang oh sayang, Bapaknya Joe ga ikut penyuluhan. Jadi, sampe sekarang, baru sekali dia mijetin saya dalam rangka ayah ASI. Itu pun pake kaki. Padahal pake pamer ke anaknya. “Joe, Joe nenen, bapak mijet mama ya. Tapi pake kaki aja.” Yah lumayanlah, daripada digebukin.

Kembali ke penyuluhan. Dokter Nindya, spesialis laktasi RS St. Carolus sempet membantu meres ASI saya waktu itu. Dia bilang ASI saya banyak. Waaah.. berbunga-bunga banget rasanya. Padahal yang saya liat cuma mungkin sekitar setengah sendok air berwarna kekuningan. Kata dia, itu adalah cairan emas ASI. Kolostrum.

Keluar dari ruang penyuluhan, masuk kamar rawat lagi, seorang kerabat ngecek payudara saya, dia bilang ASI saya ga banyak, jadi harus banyak makan katuk. Meski nurutin nasehatnya, saya ga mau percaya komentarnya soal ASI saya sedikit. Lah, yang udah spesialis aja bilang banyak kok. 😀

  1. Pelekatan yang tepat

Kata seorang teman waktu nengokin kami di RS, meski baru berumur 1 hari, Joe udah pinter menyusunya. “Lo juga pinter banget netekin,” katanya. Saya ga paham ukuran “pinter” di sini. Tapi mungkin, maksudnya, pelekatan Joe dan saya sudah tepat. Perutnya melekat dengan perut saya. dagunya melekat di payudara saya. Kata ahlinya,  pelekatan yang tepat mempengaruhi kelancaran menyusu. Adapun, kelancaran menyusu mempengaruhi banyaknya ASI. Dan iya, Joe memang betah nyusuin lama-lama. Katika growth spurt, Joe bahkan sanggup nenen dan ga mau dilepas dari pangkuan selama 5 jam. Iyak! 5 jam, Sesodara. Tidak kurang, mungkin lebih. Hayati sampe lelah waktu itu, mana masih dalam masa baby blues.

 

  1. Faktor lain yang saya percaya memengaruhi kelancaran ASI saya adalah keluarga yang sangat mendukung. Ah, Vidi, mama, kakak, dan adik-adik saya super baik. Mama melarang saya mengerjakan pekerjaan domestik sampai umur Joe sekitar 40 hari bahkan lebih. Bahkan pakaian saya dan Joe, mama dan kakak yang nyuciin. Kalo saya lagi nyusuin Joe, Kak Pio dengan sigap segera mencarikan posisi enak buat saya mangku Joe. Vidi juga ga segen ngambilin dan nyuapin makan atau minum kalo saya lagi nyusuin Joe. Iyah, maklum, saya laperan kalo lagi nyusuin. Tingkat kerakusan memang berlipat ganda saat menyusui. Saya ga segan ngemil biscuit, roti, nasi (ya kali ngemil nasi) waktu nyusuin.

Eh, ga usah takut badan jadi melar. Kalo ASI lancar, anak kita doyan nenen, walhasil badan kembali seperti sebelum hamil. Saya ga janji jadi kurus yah, setidaknya berukuran kurang lebih seperti sebelum hamil.

 

  1. Dukungan mama pada saya waktu menyusui bukan cuma dalam bentuk tenaga dan nasehat. Mama juga yang setiap hari masakin makanan untuk ibu menyusui yang laperan ini. Makanan yang mama siapin selalu bergizi. Dan yang harus di-high light adalah KATUK dan BANGUN-BANGUN. Ga kurang dari seminggu, saya makan sayur daun katuk dan bangun-bangun secara bergantian tiap hari. Hari ini katuk, besok bangun-bangun. Dan memang terbukti, seminggu pertama itu ASI saya udah lancar banget. Saya bahkan sampai berhenti ngonsumsi vitamin pelancar ASI yang dikasih dokter 4 hari sejak pulang dari RS. Karna ASI saya udah banjir-banjir.

 

  1. Iyah loh, bener banjir-banjir. Dan itulah yang bikin saya kudu merah ASI sebelum atau sesudah nyusuin Joe bahkan waktu Joe masih berumur seminggu . Soalnya kalo ngga, payudara berasa kenceng. Naaaah, mungkin itulah yang bikin ASI saya tambah banyak. Karna konon, ASI itu supply by demand. Karena otak saya menerima tanda bahwa si payudara sudah kosong, dia pun mengirim sinyal pada hormon-hormon pembentuk ASI untuk segera memproduksi ASI dan kembali memenuhi payudara saya. Lalu saya merasa kepenuhan, dan saya mulai ngosongin lagi dengan mompa. Otak menerima tanda kekosongan payudara lagi, lalu mengirim sinyal lagi. Begitu seterusnya, tetek saya ga diizinkan kosong oleh otak.

Tapi, buru-buru memompa ASI (terutama untuk stok) sebenernya ga disarankan. Saya sempet diomelin dokter spesialis anak (DSA) Joe. Kata dia, yang kebetulan konselor laktasi juga, ASI pada seminggu pertama itu kandungan gizinya paling tinggi dan harus diberikan sesuai usianya. “Abis penuh terus, Dok. Tumpah-tumpah,” jawab saya. :p

 

7. yang paling penting dari semua booster ASI itu adalah: berbahagia. Bahagia itu bisa bikin ASI ngucur. Lah, siapa yang ga bahagia punya anak ganteng, sehat, cerdas dan ga nyusahin kayak Joe.

Etapi, kayaknya semua ibu menyusui emang kudu mengalami kegalauan yah. Nah, kegalauan ini akan saya ceritakan dalam tulisan lain. Kalo kepanjangan nanti bosen.

Salamduanenen.

Etapi, kayaknya semua ibu menyusui emang kudu mengalami kegalauan yah. Nah, kegalauan ini akan saya ceritakan dalam tulisan lain. Kalo kepanjangan nanti bosen.

Salamduanenen.

Leave a comment »

Baby Blues di Antara Haru Biru Kelahiran Joe

Dulu, saya yakin, sangat yakin, kalau punya anak, saya tidak akan terserang depresi atau lazim dikenal baby blues. Saya pikir, saya ini perempuan tangguh dan independen. Lagipula, anak yang saya kandung adalah anak yang saya dan Vidi idam-idamkan.

Sampai bayi itu datang. Ah, dia lucu dan sehat sekali. Wajahnya mirip bapaknya. Bersemangat seperti mamanya. Ah, tapi bukan itu yang mau saya bahas.

Saya sangat berbahagia oleh kehadiran bayi itu. Berbunga-bunga. Masih dapat saya rasakan, bagaimana bahagianya saya waktu itu. Belum lagi banyak famili, sahabat dan kolega yang datang menjenguk. Lelah? Iya. Mengantuk? Pasti. Semalaman saya tidak tidur, bersalin. Tapi rasanya tidak sebanding dengan kebahagiaan yang menghampiri saya.

Belum lagi, Joe ternyata bukan bayi yang rewel. Dia hanya menangis kalau lapar, pipis dan e’ek. Kalau dia lapar, saya tinggal jejali puting payudara saya -yang puji Tuhan melimpah ASI (soal ini akan saya ceritakan kemudian). Kalau Joe pipis atau e’ek, tinggal pencet bel dan suster RS akan datang mengganti popok dan bedongnya. Hehe.. enak yah. Sayang, suster-suster penuh kasih itu tidak boleh ikut dibawa pulang.

Tapi ternyata, kemudahan itu hanya berjalan 3 hari. Setelah 2,5 hari istirahat di RS, saya dan Joe, yang tidak mendapat masalah kesehatan, sudah dibolehkan pulang. Saya bahkan minta pulang cepat-cepat.
Dan kemudian hari, saya menyesal minta pulang cepat. Kalau bisa, saya mau sebulan saja dirawat. Hahaha…

Karena ternyata, lelah itu datang juga. Joe tidak lagi setegar ketika di RS. Pipis dan e’eknya lebih sering. Menyusunya pun lebih banyak. Pernah, dia tidak mau diletakkan karna ingin terus menyusu selama tidak kurang dari 4 jam. Urusan pipis dan e’ek jadi melelahkan karna saya (sempat) memutuskan tidak menggunakan popok sekali pakai karna mahal dan tidak ramah lingkungan. Saya memutuskan menggunakan popok kain biasa. Selain irit dan ramah lingkungan, saya juga jadi bisa memantau seberapa sering dia pipis.

Lalu perasaan itu datang. Belum sampai sepekan usia Joe, hampir setiap saat saya nangis. Kalau ada orang, sekuat tenaga saya harus menahan tangis. Sempat saya bilang sama Vidi, tangis saya lantaran bekas jahitan di vagina saya mengalami infeksi. Sakit. Dan jadilah dia tidak mengerti perasaan saya.

Pokoknya nangis melulu. Joe nangis, saya nangis. Joe tidur kelamaan, saya nangis. Vidi pergi kerja, saya nangis. Vidi pulang malem, saya nangis. Vidi pulang kerja, saya peluk dia sambil nangis.
Dipakein gurita sama mama, saya nangis. Bilang terima kasih sama mama, saya nangis. Mandi, saya nangis. Makan, saya nangis. Baca messenger nanya kabar, saya nangis. Mungkin, cuma waktu tidur, saya tidak nangis.

Suatu kali, subuh-subuh, saya sempat kelahi dengan Vidi. Dia lelah, saya depresi. Jadi barang itu. Dia yang ga paham soal baby blues, bingung sebingung-bingungnya dengan kelakuan saya. Yang dia tau cuma, saya capek. Tapi dia juga capek. Jadi mungkin dia pikir, saya ga seharusnya begitu. Dia bahkan nyuruh saya periksa ke dokter, karna dia masih berpikir penyebab tangis saya adalah bekas jahitan tadi.
Ah, saya merasa hampir gila. Karna Vidi ga paham soal baby blues, saya merasa sendirian. Jadi, kalau ada laki-laki, terutama calon bapak baca tulisan ini, banyak-banyak bacalah soal baby blues atau depresi pasca melahirkan.

Kalau ditanya apa penyebab tangis itu, saya juga bingung. Saya lelah, ya. Tapi, rasanya berlebihan kalau hanya karna lelalh saya nangis melulu. Kadang saya mikir, akan kehilangan kemesraan Vidi. Itu membuat saya menangis. Kadang saya ingat, banyak hal yang belum saya lakukan sebelum Joe lahir, dan mungkin akan sulit melakukannya setelah Joe lahir. Karna itu pun saya menangis. Kadang saya pikir, saya mungkin ga bisa jadi ibu yang hebat. Lalu saya nangis. Kadang saya membayangkan, betapa akan beratnya hari-hari saya sebagai ibu. Kemudian saya nangis. Dan banyak lamunan-lamunan saya yang mendorong air mata saya ke luar.

Saya lupa, tepatnya berapa lama saya mengalami depresi seperti itu. Mungkin sekitar sebulan. Yang pasti, setiap kali saya nangis atau mau nangis, saya justru akan memeluk Joe. Saya pernah dengar, ada ibu yang mengalami baby blues dan meninggalkan bayinya. Iyah, saya takut mengalami itu, makanya, saya usahakan selalu memeluk Joe.

Dan puji Tuhan, pelukan-pelukan itu justru membuat ikatan di antara kami semakin kuat dan saya bisa melewati depresi yang membingungkan itu. Dan, makin hari, saya makin sayang pada bayi itu. Tangisnya tidak lagi membuat saya menangis. Kelelahan karena mengurusnya tidak lagi membuat saya mewek.

Dan kini, puji Tuhan, kami sudah sering tertawa bersama. Tos, Joe!

2 Comments »

Terima Kasih

Suamiku, sahabatku, Vidi, terima kasih banyak, Sayang. Terima kasih untuk tetap bersamaku. Meski aku tau kau ketakutan, khawatir, panik. Kau tidak bisa menyembunyikannya dari wajahmu, saat kau berdiri di pinggir tempat tidurku, di ruang berJpegsalin, dini hari ini. Tapi, meski getir, kau tetap mendampingiku.
Terima kasih, Sayang, untuk menemaniku di RS -tempat yang sangat tidak kusuka ini- sejak tengah malam tadi hingga subuh begini. Meski nanti jelang siang, kau harus menjalani tes masuk kerja agar kau kembali berprofesi seperti panggilan hatimu.
Sayang, terima kasih untuk kesetiaanmu bersamaku selama 9 bulan ini -ketika aku membawa anak kita di rahimku. Meski badanku terus membesar, meski rupaku terus memburuk, meski emosiku tidak stabil.

Terima kasih, Sayang, untuk memilihku menjadi ibu bagi anak (-anak)mu. Meski di luar sana, aku tau, banyak perempuan yang lebih pandai, lebih cantik, lebih trendi dan lebih sabar dibandingkan aku, Deytrimu ini.
Terima kasih, Sayang. Aku bersyukur, akhirnya kita memilikinya di tengah-tengah kita. Akhirnya, aku bisa menciumnya dan tidak perlu lagi iri padamu karna kau bisa menciumnya saat masih di perutku dan aku tidak.

Mama, perempuan yang barangkali sering kudurhakai dengan melawan dan mendebatmu, terima kasih. Terima kasih telah datang pagi-pagi, menggantikan suamiku mendampingiku melahirkan. Kau bilang, belum pernah menemani persalinan orang. Tapi, tak sedikit pun kau tunjukkan rasa takut saat aku kesakitan dan mengejan.
Terima kasih untuk pijatan lembut yang kau berikan setiap kali kontraksi datang, membuatku jauh lebih baik, Ma.

JpegTerima kasih untuk makanan bergizi yang kerap kau siapkan pada masa kehamilanku. Kau kerap bilang, enak hamil dan melahirkan sekarang, ada mamanya (ibu hamil) yang bantu ngurus. Iya, memang enak, Ma, terlebih, bila ibu yang dimiliki adalah kau. Seperti yang pernah kubilang belasan tahun lalu di hari ulang tahunmu, kau teristimewa.

Dokter Royanto, dokter spesialis kandungan yang menangani kehamilanku sejak beberapa bulan lalu, terima kasih, Dok. Terima kasih untuk selalu menenangkanku dan menghilangkan kekhawatiranku setiap aku datang “menjenguk” janinku di rahimku. Terima kasih untuk meyakinkanku, kalau persalinan bukanlah hal yang harus kutakuti. “Aku perkirakan, kamu melahirkan gampang, Sayang,” katamu. Iyah, dengan kata “sayang” di hampir setiap kalimatmu. Membuatku merasakan kehadiran ayahku yang telah pergi lima tahun lalu.
Jpeg

Terima kasih untuk setiap pesan singkatku yang kau sempatkan balas.
Terima kasih untuk beberapa kali menengokku pagi itu di ruang bersalin di tengah kesibukanmu melayani pasienmu.
Terima kasih untuk membantu persalinanku dengan kata-kata penuh motivasimu. Semua jadi terasa lebih mudah, Dok. Seperti kubilang padamu pada pertemuan terakhir kita, aku galau kehilangan masa kehamilan, salah satunya, karna tak lagi bisa berbincang dan berdiskusi denganmu. “Sampai ketemu, Dok,” kataku. “Ya, jangan dalam waktu dekat dulu, tapi,” jawabmu, bikin aku tambah galau. Hahaha…

Sampaikan juga terima kasihku yang banyak untuk para bidan yang membantumu dan merawatku dan anakku selama kami menginap di RS. Mereka, membuatku jauh lebih menghormati bidan. Aku bahkan jadi ingin menjadi bidan.

Joachim Goklas, anakku yang penuh sukacita dan kehangatan, anak yang dibangun oleh Tuhan, terima kasih, Nak. Meski memang kau tak punya pilihan, terima kasih untuk hadir di hidupku. Kau tau, sayang, hidupku berubah sejak tau kau ada di sana, di rahimku. Ada kegalauan yang nikmat kurasakan. Entah apa aku siap menghadapi kehadiranmu. Tapi menantimu selama 9 bulan, sungguh terasa lama.
Terima kasih untuk kehamilan yang nyaman, Nak. Tak pernah sedikit pun kau memberatkanku. Kadang itu justru membuatku khawatir. Karenanya, setiap kali dokter kandunganku bertanya ada keluhan apa, aku seperti ingin mengarang-ngarang, sebab, tidak ada yang harus kukeluhkan, Nak. Tidak ada sakit, nyeri atau mual yang mengganggu.
Terima kasih untuk proses persalinan yang menyenangkan dan tidak sulit, Nak. Terima kasih untuk bekerja sama denganku mencari jalan keluarmu.
Selamat datang di hidupku, Sayang. Hari kedatanganmu, 16 Februari 2016 itu, adalah hari terindah dalam hidupku. Selanjutnya, hingga esok dan selamanya, pasti akan terasa lebih indah lagi dengan banyak kejutan darimu.

Tuhan, terima kasih untuk berkat yang tidak mampu kuhitung. Terima kasih untuk Vidi, terima kasih untuk mama, kakak-kakak dan adik-adikku, terima kasih untuk Joachim, terima kasih untuk berkat yang tak pernah habis. Terima kasih untuk mengasihiku dan melayakkanku menerima berkatmu.

Kerabat yang tak mampu kusebutkan satu demi satu, terima kasih untuk menjagaku pada masa kehamilanku. Terima kasih untuk makanan, perhatian, pakaian, kursi penumpang, mengkhawatirkanku, mengantarku, mengerjakan tugasku, mengangkat tasku.

Terima kasih untuk perhatian yang lebih besar yang kalian berikan saat Joachim datang. Terima kasih untuk doa, kunjungan, puluhan -ah, ratusan- hadiah. Kelak, saat Joachim besar, akan kuceritakan padanya betapa kami diliputi cinta kalian. Hingga dia mau membalasnya dengan -seperti yang kubilang- menjadi orang baik.

Leave a comment »

Sinar Harapan dan Dukaku

Lebih dari dua bulan lalu, sebelum tidur, Vidi menyampaikan desas-desus Sinar Harapan berhenti terbit. Dengan (sok) tegar dan bijak, panjang-lebar aku (sok) menguatkan Vidi. Aku minta agar dia jangan khawatir. Banyak jalan rezeki bagi kami. Panjang dan lebar aku bicara, belajar dari mama yang sering mengusir khawatir bapa. Sampai akhirnya Vidi kembali bicara, “aku ga khawatir, Seng. Aku sedih.”

Dua minggu setelah perbincangan kami itu, Komisaris Sinar Harapan resmi mengumumkan rencana penutupan koran sore legendaris itu. Media kebanggaanku. Iyah, kebanggaanku. Meski sudah lebih dari dua tahun tidak lagi bergabung dengannya. 31 Desember akan jadi hari terakhir penerbitan Sinar Harapan.

“Aku mau ikut sampai SH karam,” kata Vidi. Ada kegelian yang kurasa aneh mendengarnya. Semacam, “cinta banget sih sama SH.”

Vidi melepaskan kesempatan menghabiskan jatah cutinya. Bahkan saat libur natal lalu, dia rela menggunakan waktunya untuk memikirkan dan mengerjakan edisi terakhir Sinar Harapan.

lucu (20)

Di ruang ini, di lobi lantai 2 Gedung Sinar Harapan, aku dan Vidi pertama kali berjumpa, Juni 2008. Aku mau wawancara kerja, Vidi cari perhatian pada calon karyawan. Hahaha… Lima tahun kemudian kami menikah. Kini, tujuh setengah tahun setelah pertemuan itu, kami tidak bisa lagi mengobrol di ruangan itu.

Lalu..

Adalah sedih yang menggelayut di hati dan pikiran kami. Berturut-turut, dua hari terakhir penerbitan Sinar Harapan, aku melancong ke kantor yang berlokasi di Jalan Raden Saleh itu. Suatu kali, aku tanya Vidi, “Sedih ya, Seng?” Dia menggeleng. Dua kali aku tanya, responnya sama. Mungkin dia sudah berhasil move on.

Malah aku yang jadi menye-menye. Teringat enam tahun “belajar” di sana bersama teman-teman yang mungkin sangat pantas kubilang saudara.

Betapa bangga aku pernah ikut berjuang di sana; memberikan suara pada yang tak bersuara, memberikan telinga bagi yang sengaja menutup telinganya. Aku memang sepatutnya bangga bekerja bagi idealisme “Memperjuangkan Kemerdekaan dan Keadilan, Kebenaran dan Perdamaian Berdasarkan Kasih”

 

Dan aku tau sekarang, mengapa Vidi ngotot “berlari sampai garis finis meski tau sudah kalah”. Adalah cinta yang membuat Sinar Harapan bertahan. Adalah cinta pula yang didapat mereka yang pernah berjuang dengan Sinar Harapan.

Maka kita tau kini, kita harus terus berharap. Karna, harapan itulah yang membuat sinar tetap ada.

 

Mengutip kata seorang senior, biarlah masa berkabung itu dijalani. Besok, kita bisa move on lagi, meski tanpa Sinar Harapan kala sore.

1 Comment »