Merayakan Hidup a la Perempuan

Jakarta, 8 Oktober 2011

I love my life, today.

Kenapa today? Karena saya memang sangat mencintai hidup saya hari ini. Yes! Hari ini. Saya mencintai hidup saya kemarin, dan saya pastikan saya akan mencintai hidup saya besok. Tapi saya sungguh mencintai hidup saya hari ini.

Hari ini, saya mulai dengan terbangun pagi hari di kamar teman. Selimut yang saya pakai sejak malam sudah awur-awuran di atas tempat tidur menjauhi saya (atau saya yang menjauhi dia?). Dan di mana partner tidur saya, Mareta? Ahaaa!! Ternyata dia sudah tergeletak di kasur bawah. Seingat saya, dia sedang menyusui anaknya. Ya.. Maret memang sudah beranak satu. (Itulah salah satu kelebihan dia dibanding saya, makanya dia terus menyatakan “cepat-cepat (nikah)”) hehe..

Jangan tanya, bagaimana bisa saya terdampar di kamar Maret. Oh iya.. Suami Maret ada di Timor Leste. Makanya saya bisa tidur bersama Maret. Saya hanya terdampar di sana. Hihi…

Maret adalah teman SMP saya. Kami sekelas di bangku kelas satu dan tiga. Marga mama Maret dan saya sama. Aritonang. Tapi Mama Maret bermarga Aritonang Rajagukuguk dan saya Aritonang Ompusunggu… Kelak, kalau saya menulis soal batak-batakan, akan saya jelaskan apa maksudnya :p

Suatu hari, ketika saya sakit pasca ujian sekolah, saya tidak sanggup pulang sendiri. Rumah saya memang jauh dari lokasi SMP saya. Lalu Maret yang memang dasarnya penuh kasih memaksa (ya, memaksa dan bukan mempersilakan) saya istirahat di rumahnya. Hingga malam, sakit saya tidak juga pulih. Akhirnya, orang tua saya datang menjemput ke rumah Maret.

Di sanalah ketauan kalau ternyata oh ternyata, saya dan Maret bersaudara. Saya baru ingat, marga Mama Maret memang sama dengan marga Mamanya Mama saya. Hihi.. Bingung kaan.. Pokoknya, ternyata kami bersaudara dekat.

Sejak itu, hubungan pertemanan saya dan Maret makin akrab. Tapi lalu, kami terpisah. Maret bersekolah di SMU St. Antonius, saya di SMU 12. Kami hampir kehilangan kontak.

Saat kuliah, lebih lagi. Maret semakin ke barat, kuliah di USU, Medan, Sumatera Utara. Aku semakin ke timur, kuliah di UGM, Jogjakarta.

Terimakasih pada Mark Zuckeberg yang menciptakan Facebook. Situs jejaring sosial itu mempertemukan saya dan Maret. Dari sana, meski Maret di luar negeri, kami tetap intensif berkomunikasi.

Dan pagi ini, saya terbangun di kamarnya setelah semalam ngerumpi sampai ngantuk-ngantuk.

Jelang sore, sahabatku yang lain, Josephine (selanjutnya disebut Pina) menyusul kami. Tampaknya dia tidak kuat menahan godaan dan memikirkan saya haha-hihi dengan Maret.

Saya sendiri heran, sungguh terheran-heran, apa sebenarnya yang saya, Maret dan Pina lakukan di rumah itu. Hanya ngerumpi, nge-game, mengganggu putri Maret, Reyjeane dan merusak program diet Pina dengan makan-makanan berlemak dan berkolesterol tinggi.

(atas permintaan beberapa pihak, bagian ini harus disensor… ga asik)

Waktu SMP, saya sebenarnya tidak terlalu dekat dengan Pina. Tapi, sama seperti dengan Maret, saya sekelas dengan Pina di kelas satu dan tiga SMP. Saya menduga, Maret dan Pina dekat saat SMA di St. Antonius, makanya, tiap nongkrong denganku, Maret selalu bilang “ajak si Josepin.”

Pina, yang paling saya ingat, hampir selalu berkipas. Cara duduknya yang tegak, membuat dia tampak seperti seorang ibu suri di film-film kolosal berlatar belakang kerajaan atau dinasti di Cina. Hihi..

Saya ingat, teman saya yang lain pernah bilang padanya “lo sebenernya kegerahan ga sih Pin? Ngipas mulu!” Haha..

Belakangan, saya dan Pina sangat dekat. Mungkin karena kesamaan nasib: belum ada lelaki nekat yang menikahi kami. :D

Teman-teman dekat kami kebanyakan sudah menikah, bahkan punya anak. Sebut saja Maret dan Valentina. Jadilah aku, Pina dan seorang lelaki di antara kami, Raja, kerap menghabiskan waktu bersama, menunggu tangan Tuhan mengantar kami ke gerbang pernikahan. Hehe…

Tapi, sendiri bagi Pina bukanlah keadaan. Sama seperi saya, itu masih pilihan bagi dia. Ini bukan bela diri apalagi mengasihani diri sendiri. Hehe… Terbukti dengan, Pina memilih mengembangkan dirinya dengan melanjutkan kuliah pasca-sarjana. Pina pun enggan mengasihani dirinya saat patah hati. ;)

Saat malam akhirnya datang, kami memutuskan makan malam di luar. Saah.. Waktu bagi perempuan. Mau menyebut gadis, Maret sudah tidak gadis lagi. Hehehe..

Dalam perjalanan ke Tebet, Maret terpikir untuk mengajak Osa. Nama lengkapnya, kalau tidak salah, Rosalina Elysabeth (koreksi kalo salah ya, Sa). Jadilah kami suruh supir taksi putar balik dan menjemput Osa di depan gang rumahnya.

Osa adalah teman SMA Maret dan Pina. Saya kenal dengannya baru sekitar sebulan. Tapi, sudah beberapa kali kami nongkrong bareng, dan sepertinya, saya cocok dengannya.

Osa, seperti banyak perempuan batak lain, merindukan datangnya seorang pangeran berdarah batak melamarnya. Orangtuanya melarangnya menjalin asmara dengan lelaki non-batak. Saya pengaruhi dia untuk berjuang kalau memang cintanya berlabuh di hati lelaki yang bukan batak, dia tidak terpengaruh. Jadi, kalau kamu adalah lelaki batak, dekatilah Osa. Saya punya nomor hapenya, hubungi saja saya. :p

“Orang gilaaaa…” kata Osa, saat naik ke taksi yang kami tumpangi. Kami hanya tertawa, bak remaja yang berhasil mengecoh guru kamu lalu madol dari sekolah.

Barangkali kami memang gila. Tapi kalau kegilaan ini membahagiakan kami, meski tanpa pacar atau suami di samping kami saat malam minggu, kami tidak akan menolaknya.

And I love my life today, meski Vidi asik dengan teman-teman kuliahnya. Hehe..Meski hari ini aku tidak produktif, tapi kurasa ada baiknya juga “mengembalikan energi” kataku pada seorang kawan.

Thank’s for the weekend guys. Love you. Xoxo

Advertisement

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.