Apa begitu aja yah? Ga usah ngerayain ulang tahun lagi. Karena, setiap kali ngerayain ulang tahun di rumah, ada ajaaaa air mata yang tumpah.
Terakhir, ulang tahun ke 24 Pheni tadi malam. Niat gue mau kasih kejutan kecil untuk dia. Dia pulang kuliah, suara ojek motor jadi kode kalo dia udah sampe di depan rumah. Pintu rumah emang sengaja gue kunci, biar ada jeda waktu antara dia turun ojek dan gue nyiapin kue ulang tahun yang ga seberapa. Beberapa kali dia ngetok pintu dan manggil-manggil, “Kaak… Maa..”
Yes.. Tepat saat pintu dibuka, gue dan Kak Dela udah di depan pintu. Lalu dengan dua potong balckforest di tangan gue, kami nyanyi lagu Selamat Ulang Tahun. “Waaah…” kata Pheni. Tapi lalu dia membenamkan wajahnya di dada gue. Yah benar.. Dia menangis. Gue sih berharap itu adalah tangisan haru. Tapi dari tangisannya gue tau betul dia merindukan bapa. Dari tangisannya, bisa gue pahami betapa dia menginginkan bapa ada bersama kami, menyanyikan lagu Selamat Ulang Tahun untuknya. Mata bapa yang sendu, suara bapa yang serak, tepuk tangannya yang kalem, pasti akan ikut memeriahkan perayaan kecil itu. Dalam tangisnya, ingin Pheni tumpahkan semua kerinduan dan harapan agar bapa bisa ikut memperhatikannya menuangkan setiap kata di skripsi yang sedang disusunnya.
“Yang penting kueku laku,” gue bilang pada temen gue, lebih pada menghibur diri.
Sebelumnya, ulang tahun mama. Yeaah… sepanjang lagu ulang tahun dinyanyikan, saat lilin ulang tahun ditiup, selama mama buka tumpukan kado dari anak-anaknya (sebenernya dari Kak Pio doank sih. Duitnya dari dia semua. hehe..), selama itulah mama menangis.
Ulang tahun Kak Pio juga begitu. Kami nyanyi lagu selamat ulang tahun dengan semua menahan nangis. Pasti memang lebih membahagiakan kalo ada bapa saat doa-doa ulang tahun diluncurkan.
Satu-satunya yang ga nangis waktu ulang tahunnya dirayain adalah Tandi. Bukan karena apa. tapi, karna, saat seremoni tiup lilin dilakukan, dia masih ngantuk. Hihi.. iyaah, kami emang melakukan tiup lilin tengah malem dan bangunin Tandi dari tidur lelapnya. Dan, emang ga ada yang bisa ganggu tidur Tandi. Gempa bumi sekali pun, kayaknya. Jadi, alih-alih terharu atau sedih, Tandi malah nggerutu kesel karna dibangunin. Hihi..
Yang sesenggukan malah mama. Gue paham kesedihannya, putra mahkotanya harus merayakan ulang tahun ke-17nya, tanpa kehadiran ayahnya. Harusnya itu jadi momen membahagiakan, mengingat, bapa juga pernah janjiin Tandi, ngerayain ulang tahun ke-17 nya sama-sama. “Katanya bapa mau ikut ngerayain ulang tahun ke-17 aku. Tungguin kek, Pa. Sebentar lagi juga,” kata Tandi di depan jenazah bapa. Memang hanya selisih sebulan antara kesembuhan bapa dan ulang tahun ke-17 Tandi.
Besok ulang tahun ke-29 Kak Della. Kalo ga ditiupin lilin dan didoain bareng, ga adil rasanya. Tapi kalo jadi bikin nangis-nangisan, kayaknya perlu dipikirkan selebrasi yang lebih jitu untuk mendatangkan kegembiraan tanpa sisipan kesedihan deh. Apa yah?
Mudah-mudahan, ulang tahun gue nanti, semua bahagia. Cihuuy…