(Tetap) Jadi Anak Gaol Setelah Berkeluarga

Saya baru dapat kabar bahagia: keluarga kecil sahabat saya, Valentina baru dianugerahkan seorang anak. Saya bahagia. Sepenuh hati, saya bahagia, meski tidak sebesar kebahagiaan Valen dan Posan, tentu.
Saya bahagia, meski saya tahu, kasih sayang Valen akan terbagi banyak. Setelah sebelumnya, saya harus berbagi Valen dengan Posan. Kini, kue kasih sayang Valen harus juga dibagi dengan Edmund Milton Nadapdap, anak mereka.
Saya tau benar, waktu-waktu hingga larut malam nongkrong bersamanya, berbagi kisah, cinta dan makanan tidak akan ada lagi. Saya tau betul, daripada meladeni curhatan saya, pasti Valen lebih memilih mengajari anaknya berjalan dan memanggilnya “mama”.
Di antara teman-temanku yang sudah menikah, Valen memang yang paling ‘metal’. Meski sudah berperut buesar. Dia tidak pernah mau ketinggalan saat kami sedang nongkrong. Dia bahkan pernah ‘kabur’ dari rumah demi bisa menjemput janji bakar-bakaran di rumah kawan kami. Tapi kenekatan dan kegilaan itu pasti tidak akan bisa dilakukannya setelah Ed hadir.

Perasaan kehilangan ini pulalah yang berkecamuk dibenak saya, sekitar 5 tahun lalu, waktu sahabat, kakak dan teman bermain saya, Angki memutuskan menerima lamaran pacarnya Icham. Banyak pernikahan sudah saya hadiri, namun, bagi saya, saat itu, tidak ada yang seindah pernikahan Angki. Tidak ada yang lebih membahagiakan saya saat itu daripada melihatnya berdiri di pelaminan bersama suaminya. Begitu bahagianya, saya sampai tidak ingat makan waktu itu.
Tapi kemudian, perasaan sedih menyelimuti saya. Icham “menculik” Angki ke Samarinda. Dengan dia menikah saja, waktu Angki untuk saya sudah banyak berkurang. Kini, pilihan hidup suami-istri itu menjauhkan saya dari kakak yang saya temukan di tempat les saya di Jogjakarta itu. Tidak ada yang bisa saya katakan waktu itu selain “I’m happy for you, Ki. Tetap berhubungan yah”, meski saya sadar, saya tengah menahan air mata saya. Ya, puji Tuhan saya tidak menangis, meski yang saya lihat, air mata Angki pun menggenang di matanya saat perpisahan kami di Bandara Adi Sucipto itu.

Dua bulan lalu, sahabat saya yang lain, Yusti diterima nikahnya oleh suaminya yang ganteng. Hei, saya tidak keberatan dengan pernikahannya. Sungguh. Kebahagiaan saya waktu Yusti minta dicarikan paket pernikahan, barangkali lebih besar daripada saat Vidi meminta kami berpacaran saja. :D
Haru, bahagia, berbunga-bunga saya kala itu. Ingin betul memeluknya. Tapi kabar gembira itu disampaikan Yusti lewat obrolan kami di dunia maya. Tidak mungkin kan saya peluk monotir komputer saya.
Meski terancam menghadiri pernikahan Yusti tanpa teman, saya nekat berangkat ke Tasikmalaya, Jawa Barat, demi menjadi saksi momen bahagia itu. Tapi untung Beca bisa ikut bersama saya.
Saya tidak ingat, apakah pada Bambang, suami Yusti saya minta berbagi kasih. Tapi kepada suami-suami dan istri-istri teman-teman saya yang menikah, saya pasti akan mengatakan “dia masih boleh main sama gue kan?”
Jawabannya pasti “iya.” Tapi percayalah, saya tau “iya” itu bisa berarti “kalo ga lagi sama gue yah” atau “setelah selesai ngurus gue yah” atau “jangan sampe larut malam yah”.
Lihat saja, saya pernah nongkrong dengan Yusti hingga pukul 3 pagi, menjelang dia sahur saat dia masih berstatus belum menikah. Tapi kemudian, beberapa minggu setelah pernikahannya, dia sudah gelisah saat jam 10 malam baru selesai nonton film bersama teman-teman se-gank masa SMU kami. “Jangan sampe gue ditalak suami gue nih,” katanya.

Yaaah… Teman saya, Raja bilang, memang sudah begitu konsekuensi berkeluarga. Maka, wajar rasanya kalau saya kemudian berpikir ulang tentang rencana pernikahan saya dengan Vidi. “Belum siap ngurus Vidi dan ngerawat anak” kata saya pekan lalu pada senior saya di kantor waktu ditanya kapan menikah. Padahal sebenarnya saya hanya belum mau kehilangan indahnya persahabatan, saya hanya takut tidak boleh nakal lagi.
Sabar ya, Vi :p

Advertisement

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.