“Kami bangsa Indonesia dengan ini menjatakan kemerdekaan Indonesia.
Hal-hal jang mengenai pemindahan kekoeasaan d.l.l., diselenggarakan dengan tjara seksama dan dalam tempo jang sesingkat-singkatnja.
Djakarta, hari 17 boelan 8 tahoen 05
Atas nama bangsa Indonesia.
Soekarno/Hatta”
Ketika masih duduk di bangku SD, saya sungguh bangga menjadi warga negara Indonesia.
Kebanggaan itu membuncah tiap kali saya mengikuti upacara peringatan hut kemerdekaan Indonesia, 17 Agustus setiap tahun. Dengan doktrin yang dijejali pemerintah orde baru melalui guru-guru di sekolah ke kepala saya soal perjuangan kemerdekaan dan soal mengisi kemerdekaan, saya bangga menjadi anak Indonesia yang bebas dari kolonialisme; saya bangga!
Memasuki masa remaja, di SMP, euforia peringatan proklamasi berkurang. Pasalnya, selama 3 tahun bersekolah di sekolah milik yayasan Katolik itu, seingat saya, tidak pernah digelar upacara peringatan klaim kemerdekaan Indonesia. Apa alasannya, sampai sekarang saya tidak tau. Tapi sekolah saya itu memang jarang sekali mengadakan upacara bendera. Okey.. Ini bukan soal upacara di SMP saya.
Ketika SMA, saya terpilih menjadi anggota paskibra sekolah. Entah apa pertimbangan senior-senior saya itu. Bagi saya, saya tidak cukup berpenampilan menarik, postur tubuh saya juga cenderung mungil (baca: pendek). Tapi saya dipilih jadi anggota paskibra dan orang tua mendesak untuk ikut terlibat, pasrah saja.
Bukan bangga yang saya rasakan saat itu, namun keterpaksaan. Gelora cinta Indonesia, tidak terlampau mengalir dalam darah saat saya derapkan langkah menuju tiang bendera. Hingga saya ditunjuk untuk ikut seleksi calon pasukan pengibar bendera pusaka di Istana Negara, saya menolak ikut. Padahal, konon, menjadi anggota paskibraka adalah cita-cita anggota paskibra sekolah. Tapi saya tidak, Cape. Saya tidak malu jadi putra Indonesia, tapi tidak juga bangga, kala itu.
Saya tidak terlalu ingat hal apa yang menumbuhkan kecintaan saya pada Indonesia. Yang saya ingat, setiap kali liputan acara yang menyisipkan penyanyian lagu Indonesia Raya, saya pasti berdiri dan menyanyikan lagu kebangsaan itu dengan lantang. Yang saya ingat, saya senang menyanyikan lagu “Indonesia Tanah Air Beta” dengan sepenuh hati. Ya, segenap hati seperti orang jatuh cinta.
Yang saya ingat, saya ingin betul berkontribusi (istilah orba, “mengisi kemerdekaan”) untuk negeri ini. Yang saya ingin, setiap kerja profesi saya, memiliki peran dan manfaat bagi negeri ini.
Saya cinta Indonesia, maka saya protes kalau ada pejabat korupsi. Saya cinta Indonesia, maka saya protes kalau ada ketertindasan dan pelanggaran HAM.
Saya cinta Indonesia, itu sebab setiap ada hal buruk, sebisa mungkin saya tidak akan menyebut “namanya aja Indonesia” atau “Indonesia..Indonesia” atau “emang udah begitu Indonesia, jangan harap bisa berubah”. Saya cinta Indonesia, itu sebab saya protes jika ada yang mengatakan hal itu. Perubahan dimulai dari optimisme dan optimisme terpancar dari hati. Dan mulut ada cerminan hati. Ucapkan yang baik tentang Indonesia, mudah-mudahan Tuhan mendengar dan menjamah Indonesia.
Saya pun percaya, bahwa bangsa ini sudah merdeka. “Merdeka apa, Mbak, kalau cari uang masih susah,” kata supir taksi yang saya tumpangi kemarin. “Belum merdeka kita ini. Yang udah merdeka cuma yang punya uang aja,” kata tante jauh saya. Saya ingin betul protes.
Barangkali kita masih jauh dari definisi ideal merdeka. Barangkali kita masih terkungkung kapitalisme, korupsi, pelanggaran HAM, pengangguran, kemiskinan.
Tapi, kalau boleh, mari kita akui, bahwa perjuangan Jenderal Sudirman memang tidak sia-sia. Kalau boleh, mari jangan menafikan upaya-upaya politis diplomatis Soekarno yang mengupayakan eksistensi Indonesia sebagai bangsa dan negara merdeka di dunia internasional. Well, saya tidak terlalu paham sejarah.
Kalau boleh, janganlah kita lupa, bahwa nenek moyang kita berpeluh darah dan mati di jalanan akibat kerja paksa. Kalau boleh, marilah kita bersyukur sedikit saja kalau akhirnya kita bisa memperjuangkan nasib kita sendiri dan bukannya kerja paksa menanam dan menuai rempah-rempah untuk londo.
Yaah.. Saya pun tidak lupa, kalau tanah kaya Papua, Kalimantan, Sumatera, (hampir semua, rasa-rasanya) habis dieksploitasi bangsa asing, juga pribumi kapitalis. Saya pun tidak mengingkari masih banyak pengangguran dan penduduk miskin. Sangat banyak.
Tapi kalau boleh, marilah kita tidak lagi mengutuk Indonesia dengan mengatakan “he’eh Indonesia” dengan nada menyesal dan dengki. Kalau boleh, mari kita imani Indonesia memang sudah merdeka dan terus berjuang mempertahankan kemerdekaannya. Kalau boleh, biar saja pejabat yang sudah terlanjur korupsi, pelaku pelanggaran HAM berat demikian dan menjalankan tanggungjawabnya. Tidak perlu dikutuk, negara ini. Tidak perlu disalahkan bangsa ini. Berdoa saja, Indonesia sungguh merdeka. Lakukan saja peran saya, peran kamu, peran kita masing-masing sebagai Indonesiana (saya menemukan istilah saya sendiri untuk menyebut warga negara Indonesia. Hehehe..). Asal jangan mengutuk.
Kalau boleh, percayalah, Indonesia yang saya banggakan ini akan menjadi kebanggaan sekitar 230 juta penduduk Indonesia dan 7 miliar penduduk dunia.
Karena saya percaya, Indonesia sudah merdeka. Puji Tuhan, kita sudah merdeka.(Deytri Aritonang, Seorang Indonesiana)
