Selangkah Lagi Meninggalkan Mabes Polri

Tidak banyak orang dapat bekerja, berprofesi seperti yang dicita-citakannya. Puji Tuhan, saya termasuk orang yang diberi kesempatan mengecap cita-cita saya: wartawan.

Kalau ditanya kenapa saya jadi wartawan, jawabnya adalah karena saya banyak ingin tahu, ingin belajar tapi enggan sekolah, juga karena saya ingin mengenal dunia, lainnya karena saya ingin keliling dunia.

Banyak hal-hal ideal saya simpan di benak saya terkait cita-cita saya. Tetapi, semakin kita dewasa, memang semakin kita diyakinkan kalau idealisme kadang berbanding terbalik dengan realita.

Konflik-konflik dalam pekerjaan pun saya hadapi. Baik konflik dengan diri sendiri, maupun konflik dengan lingkungan saya. Pada rentang waktu Juni hingga September 2009, saat saya meliput perkotaan, konflik-konflik itu tidak terhindari lagi. Kadang bahkan mencuat ke permukaan yang mengganggu sistem pekerjaan di kantor saya.

Pemimpin redaksi kemudian memutuskan memindahkan saya ke kompartemen hukum. 12 Oktober 2009 saya resmi jadi wartawan hukum yang ngepos di Mabes Polri, Komnas HAM dan pos-pos desk hukum lain (saya tentu harus siap kalau diminta liputan selain di dua tempat itu).

Saya tidak suka polisi. Saya menyimpan sinisme tertentu pada polisi. Ditambah lagi, Hukum di Indonesia penuh intrik dan friksi. Tapi, lagi-lagi, saya harus siap ditempatkan di mana saja.

Liputan hukum pertama saya tepat saat kasus dugaan pemerasan Bibit-Chandra dan Cicak vs Buaya jadi headline media massa Indonesia. Tambah pusinglah saya. Tiap hari saya harus pulang larut demi menunggu hasil pemeriksaan pimpinan KPK itu, atau sekedar mendengar pernyataan normatif dari pejabat Polri. Esok paginya, saya sudah harus stand by di Mabes Polri (untuk liputan lagi) atau di kantor saya (untuk menerima pencerahan dari Bang Erik, redaktur saya). Sebagai catatan, Sinar Harapan adalah koran sore yang tenggat waktu beritanya pagi pukul 11.00 WIB.

Satu bulan pertama liputan hukum merupakan salah satu masa terberat hidup saya. Serius! Begitu beratnya, hampir tiap malam saya mimpi liputan. Pernah saya mimpi ngejar-ngejar Susno Duadji larut malam di Mabes Polri. Kali lain, saya mimpi nyegat Bibit dan Chandra dan memberondong mereka dengan banyak pertanyaan. Yang terbaik, di antara yang buruk, saya mimpi menerima arahan dari Bang Erik. Tiap malam, sebelum tidur, saya selalu dihantui pertanyaan “besok follow up apa lagi ya?” Fiuh..

Lebih buruk lagi, saat itu, saya merasa kurang cocok dengan beberapa teman yang ngeblok dan ada juga yang hobi ngobrol mesum.

Tapi waktu berjalan. Saya berhasil melewati masa-masa berat itu. Senang rasanya waktu bertemu teman liputan lama, Mas Cipto. Rasanya, seperti punya sandaran saat di lapangan karena dia cukup punya pengalaman liputan polisi dibanding saya. Orangnya juga ngemong banget. ;)

Tidak lama kemudian saya bertemu teman baru, Aby. Konstituen media kami berbeda. Kami sering menyebut Republika adalah koran Islam dan Sinar Harapan adalah koran ‘Kresten’. Meski berbeda, kami cocok bekerja sama.

Aku, Mas Cipto dan Aby saling back up. Dengan wartawan-wartawan lain saya menjalin kerjasama, tapi kerjasama antara aku, Mas Cipto dan Aby lebih ‘galak’. Hihi.. Ada rahasia kami bertiga yang tidak bisa saya buka di sini, kecuali atas izin mereka.

Kedekatan saya dengan teman-teman semakin terbangun oleh tur media wartawan Mabes Polri ke Semarang, Jawa Tengah. Hal-hal tidak penting yang tidak bisa dikutip dan dijadikan berita mengakrabkan kami, walau kehadiran satu teman, Vanroy Pakpahan membuat saya sebal sedikit. Hihi..
Setelah itu, ada perjalanan ke Pusdik Reskrim di Mega Mendung, Jawa Barat dan ke Aceh. Banyak juga perjalanan liputan bareng ke Depok atau Bogor dan tempat-tempat lain.

Puji Tuhan saya mulai paham celah-celah kasus hukum. Saya tau bagaimana bisa menjadi skeptis atas pernyataan narasumber. Tapi itu tidak membuat saya betah.

Meski kemudian betah dan mungkin malah jatuh sayang dengan teman-teman liputan di Mabes Polri, saya tidak serta merta menyukai liputan hukum dan polisi. Saya merasa terlalu sering dibodoh-bodohi dan ditipu polisi. Banyak hal yang disembunyikan polisi-polisi. Banyak pertanyaan mencuat dari benak saya, tapi hanya sedikit yang dijawab Tribrata. Jawabannya pun sering tidak memuaskan.

Mungkin ditambah faktor dari dalam diri juga, saya kemudian mulai jenuh. Mungkin juga karena ketidakcocokan dengan rekan kerja baru, saya mulai muak. Lebih dari satu setengah tahun saya mantengin Mabes Polri, saya memberontak. Saya minta dipindah (lagi).

Lama permintaan saya tidak digubris. Sempat kesal juga. Sampai suatu hari Pak Adi, redaktur saya memanggil saya. Dia bilang, saya boleh bertukar tempat liputan dengan Lili. Ada semangat baru yang memicu adrenalin saya. Saya selalu suka hal-hal baru dan tertantang untuk menaklukkannya.

Tapi di sisi lain, berat juga meninggalkan kawan-kawan dekat di Mabes Polri. Teman-teman yang selalu siap mendukung saya kalau saya sedang halangan liputan. Teman-teman yang datang berbondong-bondong menghibur dan memberikan empati terdalamnya saat ayah saya menghadap Tuhan.

Saya tau, saya pasti akan merindukan nonton Bob diusili atau mengusili Bang Jona dan Sandro. Saya pasti akan rindu mendengar tawa bagai primata Cak Arnaz. Saya pasti rindu mendengar ledekan yang menyerang Kris dan Ijal. Saya juga pasti akan kangen meledek pasangan-pasangan fiktif Ika-Abe, Bang Rama-Laela. Yah pasti akan rindu membuka surat elektronik berisi transkrip narasumber dari Dipo atau Bang Suri. Saya mungkin akan rindu mendengar kisah-kisah Bang Dharta, Mbak Woro, Bang Ariest dan Bang Dodo. Saya pasti merindukan semua, termasuk Bang Aphe, Rofiq atau Bang Aco.
Meski mungkin dalam waktu yang akan lama, saya pasti rindu tiba pagi-pagi di Mabes Polri untuk mencegat Pak Pulisi.

Tapi saya penasaran juga, bagaimana liputan di Kemendagri dan sekitarnya. Besok saya akan memulainya! :)

Advertisement

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.