Kau tau, Yah,
Betapa sakitnya menahan rindu, karena dia yang kurindu tak dapat lagi kupeluk raganya.
Atau bahkan sekedar kutelepon untuk mendengar suaranya.
Aku jadi ingat, Yah saat aku begitu merindumu saat kuliah. Kau, -dengan, entah kebijakan atau gengsi khas lelaki batakmu- menjawab, “begitulah risiko kejar cita-cita. Ga boleh cengeng.” Tapi mendengar suaramu kala itu mampu sembuhkan rinduku, memompa lagi semangat belajar yang sempat kempis.
Kau tau, Yah,
Betapa perihnya mengejar mimpi tanpa ada yang melihat, menanyakan dan mengingatkan. Aku tidak kehilangan semangat mengejar mimpi kita. Hanya peluhnya kini terasa lebih berat.
Aku jadi ingat, Yah, pada hari-hari pertama aku bekerja dan menjadi wartawan, setiap malam, bahkan hingga larut, kau menjemputku. Kau menungguku dengan sepeda motor bebekmu di persimpangan Kali Malang. “Cita-cita itu demokratis,” katamu menengahi perselisihanku dengan bunda yang memaksaku menjadi pegawai negeri sipil.
Walau agak bertentangan juga dengan yang kualami tahun-tahun sebelumnya. “Terserah mau pilih sekolah apa. Pokoknya kalo ga dapet (SMA) negeri ga boleh sekolah,” sergahmu waktu aku menetapkan pilihan SMA-ku pada SMA favorit dan bergengsi.
Belakangan aku tau, kau bukan meragukan kemampuan akademisku, kau meragukan finansial keluarga kita membiayai sekolahku. “Bapa ga mau kau patah semangat,” kau berkilah waktu aku tanya alasanmu berbohong.
Kau tau, Yah,
Betapa sakitnya memperingati ulang tahunmu hari ini tanpamu. Biasanya, aku selalu heboh memikirkan kado terbaik untukmu. Yang lalu-lalu, aku kerap sibuk berkoordinasi dengan kakak, adik, dan bunda menyiapkan kejutan untukmu.
Aku tau betul, tidak pernah ada hadiah yang cukup indah dibanding yang kau beri padaku. Tapi kau tidak pernah mengeluh, kau selalu memuji pemberianku. Apapun itu. “Terimakasih ya, Boru,” katamu.
Kau tau, Yah,
Betapa sakitnya melihat gambarmu saat meniup lilin ulang tahun di ulangtahun ke-60 (de facto 61)mu.
Sungguh sakit ketika aku sadar, itulah perayaan terakhir kita bersama. Sungguh sakit ketika tau, hari ini aku tidak bisa memotret momen itu lagi.
Kau tau, Yah,
Aku rela menanggung sakit ini, kalau memang itu berarti kebahagiaanmu bersama Bapa kita di Surga sana.
Kau tau, Yah,
Meski masih mencari makna dan -apa yang disebut orang- rencana terbaik Tuhan, aku akan tetap melanjutkan hidupku mewujudkan mimpi kita.
Tersenyumlah di sana, Yah. Selamat ulang tahun. Ini… Segenggam rindu untukmu, tidak ada kado tahun ini, Yah. Ini, kecupan rindu dan cintaku.. Selamat ulang tahun, Yah
