Kau tau, Yah, Betapa sakitnya menahan rindu, karena dia yang kurindu tak dapat lagi kupeluk raganya. Atau bahkan sekedar kutelepon untuk mendengar suaranya. Aku jadi ingat, Yah saat aku begitu merindumu saat kuliah. Kau, -dengan, entah kebijakan atau gengsi khas lelaki batakmu- menjawab, “begitulah risiko kejar cita-cita. Ga boleh cengeng.” Tapi mendengar suaramu kala itu [...]
They say...