Osa tidak dapat berucap sepatah kata pun saat saya sampaikan kabar bahwa bapa telah pulang ke Rumah Bapa di Surga. Tapi saya tau, Osa tidak akan menghakimi saya cengeng apalagi melarang saya menangis. Osa pun tidak menuntut saya untuk tabah dan sabar. Osa tidak memaksa diri bersimpati apalagi berempati ikut berduka dan merasa kehilangan bapa.
Osa hanya diam, menjulurkan kedua tangannya untuk memeluk saya dari jarak kejauhan di Jogja sana.
Osa mengerti saya. Dan inilah surat cintanya…
“Hari ini, Sahabat baik ku harus menangis…
Aku teringat beberapa tahun ini menjalani persahabatan dengan Deytri Robekka Aritonang. Di tengah2 derasnya tuntutan untuk menyelesaikan studi Sarjanaku, tiba2 aku mengenalnya, gadis yang berbeda dengan seratus, bahkan mungkin seribu gadis lain yang pernah kutemui sepanjang 23 tahun usiaku. Ia istimewa. Bercengkrama, bercanda, bertukar pikiran dengannya seperti menemukan bagian dari diriku yang tak asing lagi. Sering aku merasa bagian diriku ada di dirinya, mungkin juga sebaliknya, rasanya sungguh menyenangkan. Ketika kami terus menjalin persahabatan, aku melihat gambar dirinya yang begitu kokoh dengan pendiriannya, semangat akan cita-citanya, berdampingan dengan kekonyolan dan kekemprohannya yang sering membuatku tertawa dan sering meledek dia. Dan satu yang kusadari, aku menyayanginya. Kami telah melintasi batas waktu beranjak dari dunia studi, masuk dunia kerja, bahkan ketika aku memutuskan untuk keluar dari pekerjaan untuk studi Theologia sampai hari ini, ia tetap mewarnai lika-liku perjalanan hidupku. Deytri, gadis yang beranjak menjadi wanita dewasa, tegar dalam menghadapi tantangan hidupnya.
Tiba-tiba sore ini aku mendapat panggilan telephone darinya. Perasaan senang bercampur ingin bercanda mencuat seketika. Aku membayangkan dia ingin tertawa terbahak-bahak menyapaku, atau ingin sekedar curhat tentang pekerjaannya yang membuatnya kadang sebal. Langsung saja kuangkat telfonku. Mendengar suaranya yang diselimuti tangis, bayanganku tadi runtuh seketika. Ia berkata : “Sa, bokap ga sadar di Rumah Sakit. Tolong doain ya.” Terbata-bata aku meresponi ungkapan hatinya kala itu. Aku lupa bahwa setahun ini Deytri memang sedikit berbeda. Ada gambaran keprihatinan, kesedihan melintasi ekspresi wajahnya ketika sesekali kumenemuinya. Ya, ia bergumul karena dokter telah memvonis bahwa ayahnya menderita kanker paru-paru stadium 4, sebuah penyakit yang sangat berat tentunya bagi penderita dan juga keluarga yang mengasihinya.
Tak terasa hari sudah larut malam, karena sepanjang hari hingga malam ini aku disibukkan oleh berbagai aktivitas studiku. Kemudian aku teringat tentang Deytri dan sang ayah. Aku menanyakan keadaan Deytri melalui sms. Tak selang berapa lama, handphone ku berdering. Deytri menelfon. Dengan isak tangis ia mengatakan : “Sa, bokap gue udah ga ada..” Aku terdiam… “Pasti lo bingung ya mau bilang apa, ya udah ya sa..” Telfon pun kami akhiri. Aku merasakan kesedihan yang begitu dalam pada sahabatku. Seseorang yang kukasihi harus kehilangan orang yang sangat penting dan sangat dicintai dalam hidupnya. Entah apa saja yang terlintas dalam pikiran dan perasaannya saat ini. Wanita tegar dan berpendirian itu kini harus bersedih menghadapi masa berat dalam hidupnya.
Entah aku harus berkata apa saat ini. Aku tak ada disampingnya saat ini, aku juga tak akan ada saat esok jenazah ayahnya harus dimakamkan, atau paling tidak di hari-hari setelahnya saat ia harus menghadapi kenyataan dunia tanpa ayahnya lagi. Rasanya aku tidak ingin menghiburnya dengan kata-kata yang terkesan manis seperti “gue ngerti perasaan lo, sabar ya dey”, “ini yang terbaik dari Tuhan, percaya ya Dey, lo ga boleh sedih”, dan sebagainya. Kalau aku bisa, aku hanya ingin berada di dekatnya saat ini, mungkin ia sedang menangis, aku ingin merangkulnya, memeluknya, ikut merasakan kesedihan hatinya. Aku ingin memaklumkan hatinya akan kesedihannya, ikut merasakan kegundahan hatinya memikirkan hari esok tanpa ayah bagi mamanya, kakak2nya, adiknya. Kata-kata “Gue ngerti perasaan lo”, justru harusnya memberi ruang akan rasa kehilangan, rasa sedih yang mendalam yang sedang dirasakannya, bermacam-macam pertanyaan yang ingin dia lontarkan pada Sang Khalik akan segala kejadian yang dialaminya dan keluarganya.
Dey, gue cuma pengen bilang, saat lo pengen nangis, menangis lah, saat pengen bersedih, bersedih lah.. meskipun raga gue ga disana, gue selalu nemenin lo.. Itu memang harus lo lakukan.
Dan karena aku yakin ceritanya nggak akan berhenti sampai saat itu aja. Aku yakin tetap pada prinsip utama yang dimilikinya : Deytri seorang yang dapat meneruskan jalan hidupnya, ia seorang yang tegar dan berpendirian. Suatu saat ia akan bangun menatap dunia dalam segala rintangan yang baru mesikipun harus tanpa sosok orang yang dicintainya lagi, ia mampu. Karena ia tetap memiliki cinta itu pada dunia yang ditatapnya kemarin, kini dan esok. Dan dengan sangat bangga aku beroleh kesempatan untuk dapat terus menemaninya, dan melihatnya bangun kembali. Karena dalam semuanya itu aku pun akan menyaksikan bahwa Tuhan turut hadir saat ia menangis, merasa kehilangan yang sangat mendalam, juga saat Ia memulai untuk melangkah kembali dalam perjalanan hidupnya, menolong, memberikan kekuatan yang ia butuhkan.
Jangan merasa sendiri, Dey, mari kita jalani semua ini bersama-sama… Tuhan juga ada bersamamu.. Merasakan kesedihan hatimu.. We Love U.. God loves U”
Tulisan ini dipublikasi sudah atas ijin penulisnya :p
Posted by Ma Sang Ji on March 17, 2011 at 2:32 am
Yes, you are not alone.
Maka menangislah bila perlu…