Kekuatan serta penghiburan
diberikan Tuhan padaku.
Tiap hari aku dibimbingNya;
tiap jam dihibur hatiku.
Dan sesuai dengan hikmat Tuhan
‘ku dib’rikan apa yang perlu.
Suka dan derita bergantian
memperkuat imanku.
Paulo Coelho, dalam sebuah bukunya, yang saya lupa judulnya, tapi rasa-rasanya yang berjudul “By The River Piedra I Sat Down and Wept” menulis, kalau Tuhan hanya memberikan yang baik-baik saja, maka Ia tidak pantas disebut Maha Kuasa. Maka, Dia pun memberikan ujian bagi manusia, hal yang sulit diterima manusia.
Saya aminkan pernyataan itu, selain karena dia penulis favorit saya, tetapi juga karena demikianlah yang saya percaya.
Saya percaya, Tuhan tau cara terbaik menempa saya. Dia tahu, bagaimana untuk bisa menjadi sarjana komunikasi saya harus harus khatam 135 SKS (kalo ga salah) teori mata kuliah, menyusun skripsi, dan menjalani kuliah kerja nyata (KKN).
Tuhan tau, untuk bisa menjadi wartawan andal saya harus mengalami penolakan surat lamaran, saya pun harus menerima dimaki-maki redaktur dan narasumber. Dan saya masih melalui prosesnya.
Saya pun percaya -sangat percaya- ada rancangan indah yang sedang Tuhan tanamkan di hidup saya ketika Dia mengambil bapa -ayah saya- dari dunia ini. Saya percaya itu, meski berat rasanya kehilangan.
Seperti lirik lagu yang diajarkan bapa ketika saya anak-anak; “Dan sesuai dengan hikmat Tuhan, ku dib’rikan apa yang perlu”. Hikmat manusia saya yang egois, begitu menginginkan ayah saya tetap hidup, sembuh dari segala penyakitnya yang mengikatnya selama sekitar tiga tahun. Hikmat manusia saya mengatakan, kesmbuhan itu perkara yang mudah bagi Tangan-Nya yang ajaib. Hikmat manusia saya ingin memaksa Tuhan memberi saya waktu beberapa tahun lagi saja untuk dapat menyenangkan bapa, membalas semua jasanya; menjadi sukses, menikah dan memberikannya cucu. Hikmat manusia saya ingin setiap malam ketika saya pulang bisa memeluk bapa.
Tetapi hikmat Tuhan memberikan apa yang saya perlu, bukan apa yang saya mau.
Barangkali -yah, barangkali, karena saya tidak tau bagaimana jalan-Nya- Tuhan pikir saya perlu merasa kehilangan ayah saya. Barangkali, Tuhan tau “kesembuhan abadi” ayah saya akan membentuk saya menjadi manusia yang lebih matang. Yah, Tuhan lebih tau apa yang saya perlu.
Tulisan ini bukan ekspresi bahwa saya tidak kehilangan bapa. Ini hanya ucapan syukur pada Tuhan karena saya percaya “Suka dan derita bergantian. Memperkuat imanku”. Saya percaya, setiap airmata yang terus menetes tiap saya mengingat bapa, akan Tuhan catat dan dibayar-Nya dengan hal yang tidak terduga.
Toh, bapa meninggal dunia, bukan meninggalkan saya.
Posted by virtri on March 14, 2011 at 12:55 am
kagum dengan caramu menyikapi, deyt!
(dan seperti yang sudah-sudah) kagum dengan caramu menuangkannya dalam kata-kata!
Posted by bariq on May 15, 2012 at 8:20 pm
saya tau rasanya kehilangan ayah gimana. sakit lebih dari apapun,
like blog