Vidi

Namanya Vidi, sebut saja demikian. Dia adalah laki-laki terakhir yang menemani saya membangun mimpi. Sampai saya buat tulisan ini, setidaknya.

Dia tidak sempurna. Toh saya juga tidak menginginkan laki-laki yang sempurna. Saya tidak berfungsi melengkapi donk, kalau dia laki-laki sempurna. Pengalamannya yang masih minim soal berhubungan dengan lawan jenis kerap membuat saya harus mengurut dada. Tidak perlu saya jabarkan di sini rasanya. Kalau penasaran, bisa hubungi saya langsung. Hehe..

Vidi, laki-laki yang saya kenal di tempat saya bekerja adalah pemuda keturunan Ambon, berkulit hitam, bertubuh agak gemuk. (makin hari makin gemuk aja lo, Vi). Makannya memang banyak. Kadang dia juga mau menghabiskan makanan saya kalau saya kekenyangan.

Vidi, lelaki yang saya kenal baru dua tahun lalu, berhasil jadi orang yang paling dekat dengan saya. Kami bersahabat. Rasa-rasanya hati saya sudah memutuskan bersahabat dengannya sejak pertemuan pertama kami pada wawancara kerja saya. Dia memang membuat saya nyaman dan ingin berlama-lama berbincang dengannya.

Vidi, semua orang yang mengenalnya mungkin tau, dia orang yang sangat cuek cenderung apatis. Dia tidak suka ngomongin orang. “kamu ngapain sih ngomongin piiiip. Ga penting tau” tegurnya suatu kali waktu melihat dan mendengar saya dan teman saya yang lain ngerumpiin orang.

Vidi memang hanya peduli dengan apa yang ada di depannya. Misalnya, dia akan memfokuskan pikiran dan perhatiannya pada berita yang akan dia buat kalau sedang deadline. Tidak peduli saya merintih-rintih kesakitan, yang dia tau dia harus menyelesaikan beritanya sebelum tenggatnya. Begitu berita itu selesai, baru dia mengalihkan pandangannya kepada saya. Kalau keliatan gawat, baru dia ambil tindakan darurat, kalau biasa saja, dia sempatkan update status di FB sebentar. Hikikikik..

Vidi, sering lupa mengaktifkan ponselnya atau mengubah profil dering hapenya, hingga saya sering kesal setengah mati karena kesulitan menghubunginya. Dia bahkan pernah enak-enak tidur padahal saya sedang menunggunya di suatu tempat. (Kalau berat badan lo lebih ringan dari gue, mungkin udah gue angkat ke bak mandi lo waktu gue liat lo tidur lelap di kamar lo waktu itu, Vi. Hihihi..)

Vidi

Tapi saya rasa hanya Vidi yang mau melakukan hal-hal konyol demi meladeni sifat kekanak-kanakan saya. Dia rela jalan dengan mata tertutup dengan langkah yang saya tuntun seperti orang buta karena saya minta. “Percaya sama aku,” kata saya waktu itu. Dia pun tidak protes, waktu temannya melihat kekonyolan kami itu sambil cekikikan sendiri. Dia memang tidak sempurna, tidak pandai membuat saya merasa istimewa.

Tidak pernah dia menghadiahi saya kado-kado spesial selain di hari ulang tahun saya. Dia pun tidak terlalu sering mengantar jemput saya ke atau dari tempat saya beraktivitas. Dia tau saya mampu melakukannya sendiri. Tapi saya tau betul dia berusaha menjadi lelaki yang hebat bagi saya. Dengan sangat keras dia berusaha menyediakan telinga untuk mendengar kisah-kisah saya yang sepertinya tidak penting. Padahal, di awal pertemanan kami dia pernah berkata “Terus, apa pentingnya cerita itu buat gue?” waktu saya bercerita pengalaman saya. Haha.. (Gondok banget rasanya waktu itu, Vi). Dia belajar meladeni pesan-pesan singkat dari saya yang masuk ke ponselnya yang kadang tidak ada nilai urgency-nya.

Sampai hari ini, Vidi masih laki-laki terbaik buat saya. Hingga saya buat tulisan ini, belum terpikir nama lain yang bersama pemiliknya saya ingin membangun mimpi saya. Entah bagaimana mau Tuhan.

5 responses to this post.

  1. Posted by ine on July 31, 2010 at 6:00 am

    Mudah2an yang bernana vidi mau sedikit berpikir utk berubah.. Dkiiiiit aja da bagus, klo perempuan da dari zaman orok pengen dimengerti :p. How lucky si vidi itu dapat boru batak yang baik, pengertian dan rame biar hari-hari vidi itu ada biru, kuning, hijau dan hmmm pink? Ya bolehlah pink :D
    May pray for both of you ya dinda semoga pengalaman hidup menyempurnakan cinta kalian jadi makin matang, dewasa dan siap mencetak gokkon dohot jou jou hahahahaaaa

    Reply

    • Posted by deyzahir on October 11, 2010 at 2:30 am

      Kak Ine… thank’s for the prayer yah :)
      ga usah pake cetakan gokkon dohot jou-jou lah.. sms aja yah. hehe..

      Reply

  2. Posted by astrid on September 26, 2010 at 10:38 am

    aaaaa…manisnyaaaa…..
    kayaknya kalian sudah saling mengerti yeee kak…xixixi…
    ^^v

    Reply

  3. Posted by justyusti on November 16, 2010 at 8:56 am

    Perasaan udah pernah baca di FB. Tapi baca di sini kok rasanya beda ya, Dey. hihi lebih terasa… apa ya.. :D
    ah, bahagianya kalian.. Semoga terus begitu

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.