Karena saya merasa diperlakukan demikian. Oleh mama saya. Oleh keluarga saya. Oleh lingkungan saya.
Ingin betul saya memberontak; SAYA BUKAN MESIN UANG
Begitu inginnya memberontak, saya pernah berjanji dengan teman, sahabat, kakak saya. Saya bilang padanya “Kalau misalnya kamu dan aku menikah, dan punya anak, kita tidak boleh menjadikannya mesin uang (sebagaimana yang mama lakukan padaku)”. Dia sangat setuju. Kami pun berjanji dan akan membuat perjanjian di atas materai, kalau kami menikah nanti. Tidak ada yang boleh melanggar. Tapi ternyata saya punya pacar dan dia punya pacar (kenalin donk, Mas, pacarmu).
Dia sepaham dengan saya. Tampaknya karena memang dia pun merasa diperlakukan demikian oleh keluarganya. Dia dituntut lulus dari salah satu universitas negeri ternama di Yogyakarta. Dia, barangkali, dimaui keluarganya kerja di sebuah perusahaan besar dengan gaji besar, lalu jadi orang kaya.
Ah.. Begitu pula yang aku rasakan, Mas. Aku dipaksa lulus cepat-cepat dari kampus itu, untuk kemudian mencari kerja, gajian, punya uang banyak, punya tabungan, punya rumah, punya kendaraan pribadi, kaya. Setelah kaya, menikah, punya anak, punya cucu, mati!
Orangtua saya tidak mau tau apa yang saya rasakan. Mereka tidak ingin peduli gejolak, keprihatinan dan kerinduan yang bersarang di benak saya. Yang ingin mereka tau, saya disekolahkan tinggi-tinggi untuk jadi pegawai (mungkin negeri sipil) yang masuk kerja pukul 08.00 atau 09.00 dan sudah sampai di rumah sebelum matahari terbenam. Yang seminggu kerja hanya lima hari. Dan yang punya dana pensiun. (padahal itu juga gaji pegawai yang dipotong tiap bulan) “Begitulah seharusnya perempuan,” berpuluh kali mama saya mengatakan sampai kuping saya terasa sangat panas.
Saya sudah sangat jengah dengan metode mesin uangnya itu. Dia memang pernah bilang tidak akan meminta sedikit pun dari penghasilan saya. Tapi rongrongan dalam setiap ucapannya soal pekerjaan dan penghasilan kerap mengganggu saya.
Begini.. Saya alumnus S1 dari universitas besar yang menghasilkan orang-orang hebat dan orang-orang jahat di Indonesia. Butuh perjuangan keras untuk bisa masuk dan ke luar kampus itu. Harus bisa menumbangkan banyak pesaing dan harus bisa membuat karya tulis yang oke. Singkat kata: Saya Pandai!
Saya juga muda dan enerjik, cantik pula. Hehehe..
Saya pikir, dengan segala kualifikasi saya itu, masa iya saya harus rela mempetieskan otak saya dengan masuk ke dalam sistem yang tidak memanfaatkan ide-ide brilian anak muda?
Masa iya saya harus mengubur kenyamanan saya demi terlibat dalam sistem yang korup.
Lalu buat apa saya sekolah tinggi-tinggi?! Lalu buat apa saya diberi gizi yang cukup untuk asupan di otak saya?! Lalu buat apa saya punya cita-cita.
“Yang penting uangnya banyak!” kata seorang tante saya yang dibenarkan mama saya.
BUSET!! Saya kehabisan akal menjawab tesis itu.
Sama juga dengan yang dikatakan sepupu saya, “Definisi sukses itu ya, uang. It’s all about money. Money talks.” katanya waktu saya masih kuliah. Dia minta pada saya untuk tidak percaya pada idealisme. Semuanya pasti berujung pada uang, menurutnya. Percuma jadi orang idealis tapi miskin. Kurang lebih begitu maksudnya.
Hei! Saya tidak idealis. Saya hanya nyaman. Saya juga tidak miskin. Saya berkecukupan.
Puncaknya waktu mama saya bilang “Kaulah yang paling cape kerja. Tapi nggak keliatan hasilnya”. Sebenarnya tadi itu kali kedua dia bicara begitu. Tapi yang barusan rasanya lebih menyakitkan, karena kemudian dia bilang “Disuruh jadi PNS nggak mau. Sok idealis. Kan enak nggak kerja tapi banyak uang. Gimana mau ngurus keluarga kalau tiap hari pulang malem?!”
Nah loh..
Tapi daripada cape berdebat, saya pikir, lebih baik menunjukkan kalau saya nyaman jadi wartawan dan bukan PNS. Saya cukup dengan penghasilan yang saya kerjakan dari kerja keras. Tidak perlu gaji terlalu berlebihan uang negara yang pasti sudah ada tiap bulan.
Ada hal penting selain uang, saudaraku. Yaitu passion..kerinduan..kenyamanan dan cita-cita.

Posted by teman on May 21, 2010 at 2:39 am
hehehe.. sory, aku lagi baca ini. maklum karna aku bukan penggemar f***book. jd sangat jarang buka2… makanya kalo kirim surat kabar kabar dong (aku jadi nyalahin ya)
udah dey, cepetan punya rumah aja, nikah, punya anak
ato kita cepet cepetan nikah piye?…
cepet cepetan punya anak juga…
emang ga gampang kok..
tapi yang pasti *nyaman
*ntah apakah nyaman saat itu mengandung “cukup”
aku ingin tau..
kenapa tulisan ini di upload?…
Posted by deyzahir on May 22, 2010 at 4:26 am
ekspresi dan aktualisasi diri
Posted by teman on May 23, 2010 at 4:58 pm
tapi tulisan ini kan cukup “berat”.
hehe.. ok, i got it..
yg di reply cm masalah itu ya?…
Posted by deyzahir on May 27, 2010 at 2:57 am
nih deh reply yang lain…
kau ga mau cepet2an, mas. Kamu duluan deh. gapapa..
Posted by gusmul on June 28, 2010 at 2:07 am
dey.. paling aman.. buruan nikah trus keluar dari rumah..
rasakan kemerdekaan.. hehehe…
biasalah ortu selalu menuntut anaknya jadi PNS
Posted by Ida on July 7, 2010 at 6:32 am
“Ketika saya melihat seseorang yang benar-benar merasa terpanggil dalam pekerjaannya, ia bersukacita dengan pekerjaannya … ia akan bersemangat dengan apa yang dilakukannya. Ia merasa bahwa ada sesuatu yang unik yang perlu ia kontribusikan pada dunia. ”
(RICHARD BOLLES, What Color of Your Parachute?)
“If you haven’t discovered something you would die for
you aren’t fit to live”
(MARTIN LUTHER KING)
Aku pikir itulah yg disebut passion. Sesuatu yang selalu menggerakkan kita untuk melakukannya, bahkan sampai titik darah penghabisan. MERDEKA!!
Sabarlah adekku… Setialah jika itu passion yg diberikan padamu. Dia tau yg lg kau alami. Dia akan pimpin kau terus sampe nanti di akhir hidup kau dapat berkata: “Aku telah mempermuliakan Engkau di bumi dengan jalan menyelesaikan pekerjaan yang Engkau berikan kepada-Ku untuk melakukannya.”
AMIN!!
Posted by justyusti on November 16, 2010 at 9:03 am
Masih inget dengan cita-cita dokter jaman SMA, Dey?