Cinta di Pandega Duksina 4
“ting.. ting.. tiiiing….” telepon genggamku berdering, membunyikan petikan gitar yang dimainkan Vidi. Aku sudah berpikir kalau bukan redaktur, narasumber, itu pasti customer service karaoke yang aku pesan kemarin.
Tapi betapa terkejutnya aku, waktu melihat nama yang tercantum di Nokia E63 itu adalah “Tante Iman”, ibu kosku ketika merantau di Jogja. Kejutan yang menyenangkan tentunya.
Mudah-mudahan, kabar baiklah yang ingin disampaikannya. “Mau kasih undangan Mbak Adis ya, Tante,” kataku spontan setelah dia tanya kapan aku main ke Jogja. Ternyata tante hanya rindu, ingin bertanya kabar.
Tante Iman (aku lupa nama lahirnya, Iman adalah nama suaminya) aku kenal sejak 2003. Rumah Tante memiliki sembilan kamar, beberapa di antaranya tidak dihuni. Maka dia memutuskan untuk mengontrakkan rumah di Jalan Kaliurang KM 5,6 Gang Pandega Duksina Nomor 4 itu.
Aku mengontrak di salah satu kamar di belakang dengan biaya sewa hanya Rp 150.000 per bulan yang harus kubayar setiap tiga bulan.
Rumah Tante Iman besar, nyaman. Tamannya cukup luas. Aku bahkan pernah bermain upacara-upacaraan dengan Adit di taman rumah itu. Hihihi.. Tapi bukan besarnya Duksina 4 (begitu aku menyebut rumah itu) yang membuatku betah tinggal di sana. Kasih yang tulus yang terpancar disanalah yang mengikatku dan membuatku betah tinggal selama 4 tahun 5 bulan di sana.
Tante Iman seperti ibuku di Jogja. Anak-anaknya seperti kakak-kakakku. Tante Iman tidak segan memarahiku atas kesalahanku. Dia pernah ngomel waktu aku baru sampai di kos lebih dari jam 10 malam. “Pulang malem ga bilang-bilang,” katanya saat membukakanku pintu. Tante juga tidak segan memintaiku tolong. Kami sering masak bareng loooh…
Suatu hari, aku jatuh sakit. Tidak sanggup ke luar beli makan, tidak ada yang bisa dimintai tolong. Lagi pula, aku tidak nafsu makan saat itu. Tapi lalu, tengah malam, aku kelaparan dan tidak bisa tidur, aku pun pergi ke dapur dan melihat buah-buahan di meja dapur tante. Aku lalu memakannya dan baru minta izin pada Tante Iman keesokan paginya.
Sekali lagi dia mengomeliku karena tidak mengatakan padanya soal sakitku. Maka, sampai aku sembuh, dia memastikan aku sudah makan tepat waktu dan mengonsumsi obatku.
Tante Iman ‘jatuh cinta’ pada seorang kakak kelas di kampusku yang naksir aku :p Menurutnya, lelaki itu sopan, baik hati, dan ganteng tentunya. Tetapi sayang, pendekatan aku dan lelaki itu tidak berhasil. Tante sangat menyesali itu. Dia sungguh berharap, setiap malam minggu, lelaki itu berkunjung ke Duksina 4, membawa martabak misalnya, lalu nonton teve bareng di ruang keluarga.
Kali lain, pasca gagalnya hubungan kami, lelaki itu datang menjemputku di Duksina 4. Kalian tau? Tante Iman mengintipku dari ruang tamunya. Hihihi…
Saat Aa Erwin, anak kedua tante menikah di Jakarta, aku dan keluargaku menyempatkan datang. Kedatangan kami tampaknya membuat ikatan di antara kami semakin kuat.
2007 November, aku resmi dinyatakan lulus dari UGM. Di tengah rempongnya persiapan wisudaku, aku disibukkan juga dengan urusan mencari penginapan untuk keluargaku. Tante Iman mengetahui kerepotanku, maka, dia pun menyiapkan satu kamar tambahan untuk menampung keluargaku. Kamarku, dan kamar yang disiapkannya memang besar, maka wajar kalau dua kamar saja cukup untuk menampung tujuh kepala. “Ngapain jauh-jauh sih? Kalo emang Dey nganggap Tante keluarga, mama suruh tidur di sini aja,” katanya memaksa.
Kebaikan-kebaikan keluarga tante itulah yang membuat mama selalu menitipkan oleh-oleh setiap kali aku pulang. Mulai dari ikan teri medan, sirup markisa sampai brownies. Mama pun tidak mengizinkan aku pindah ke tempat lain, meski jarak antara kos dan kampusku sekitar 2 km dan harus ditempuh dengan angkutan umum.
Duksina 4 Berpindah Tangan
“Anak tante di Jakarta gimana kabarnya? Tante mau ngabarin, rumah om (Duksina 4) udah laku. Tante udah punya rumah baru. Nanti kalo ke Jogja, Dey nginep yah.” SMS di suatu malam di (kalo tidak salah) Maret 2009 itu mengejutkanku. Mataku berkaca-kaca. Sungguh sedih kehilangan Duksina 4.
Sepeninggal Om Iman, keluarga Tante memang menanggung bebam yang tidak ringan. Lagipula, kamar-kamar di sana, banyak yang tidak dihuni. Seandainya aku punya tabungan Rp 1,5 miliar saja, pasti sudah kubeli rumah itu. “Nanti kita beli lagi yah. Sekarang kita berjuang dulu,” ujar seorang sahabatku.
Tante mengaku sangat kehilangan rumah itu. Bukan hanya bangunannya yang tahan goncangan gempa dengan kekuatan 5,9 SR saja. Rumah itu menyimpan banyak memori baginya. Pun bagiku.
Pun bagi Rita, Nisa, Rina, teman-teman kosku dulu. Rita, dokter lulusan UGM bahkan sempat menjalin asmara dengan keponakan tante. Teras rumah Duksina 4 menjadi saksi cinta mereka. Teras Duksina 4, menjadi saksi cinta semua remaja yang pernah kos di sana.
Rita, karibku di Duksina 4. Aku sering numpang tidur di kamar Rita kalau sedang ketakutan atau sedang galau. Hehehe.. Ritalah yang setia melayaniku di hari kematian mantan pacarku. Rita sering meminjamkan bajunya kalau ada kondangan pernikahan. Rita juga yang repot mendadaniku kalau ada lelaki khilaf yang mengajakku berkencan. “Pokoknya lo harus cantik,” katanya.
Aku dan Rita, pernah seperti orang gila berkaraoke di kamar Nisa. Kamar Nisa sangat besar, tapi selalu berantakan. Beda dengan Rita yang resikan. Kesamaan antara Rita dan Nisa adalah, keduanya sama-sama sering disambangi laki-laki. Bedanya, kalau laki-laki yang menyambangi Rita berniat pedekate. Sedangkan laki-laki yang mendatangi Nisa datang dengan niat berteman dan bermain, tidak sedikit juga yang belajar. Nisa memang cemerlang dalam kuliah. Setidaknya menurutku.
“Kalau ke Jogja, kabarin Tante ya, Non. Salam untuk Mamah (Tante selalu mamaku dengan mamah) dan semua. Assalamualaikum (semoga tidak salah eja),” ujar Tante menutup perbincangan kami pagi ini.
Jakarta, 28 Oktober 2011


They say...