Di Dalam Gerobak, Dia Berlindung
July 4, 2009
Rumah Mereka Hanya Sebuah Gerobak

Pak Poniman dan "Rumah"-nya
JAKARTA – Meski usianya telah mencapai 482 tahun, Jakarta belum menjadi kota yang nyaman bagi warganya untuk dapat meletakkan kepala. Ratusan orang masih hidup nomaden dengan gerobaknya. Mama, Aku Ingin Pulang” adalah lagu yang selalu mereka nyanyikan, tapi tidak akan pernah menjadi kenyataan.
Poniman (62) sontak terbangun dari tidur nyenyaknya ketika seseorang membangun-kannya. Matahari baru saja meninggalkan peraduannya. Lalu lintas Ibu Kota sudah mulai padat. Orang itu membangunkannya bukan untuk mengusirnya, tapi agar dia bisa menghindar dari kejaran Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Jakarta Timur yang tengah menertibkan kawasan kota. Masih dalam lelah dan kantuknya, dia bangkit. Lelaki asal Malang, Jawa Timur, ini pun segera keluar dari rumahnya.
Matanya masih lebam akibat tidur yang hanya sebentar. Namun, kantuk tidak menghalangi niatnya untuk melaju seribu langkah. Ketika seluruh tubuhnya sudah berada di luar gerobaknya, Poniman menarik “rumah”-nya itu. Ya, rumah Poniman hanya gerobak berukuran 2×1 meter (m) dengan tinggi 1 m. Tidak sampai seratus meter dia melangkah, Poniman berhenti. Pria yang mengaku pernah bekerja sebagai kuli bangunan ini duduk sejenak, mengistirahatkan tubuh kecilnya yang mulai bungkuk. Selang bebe-rapa menit, dia mengambil seduhan jahe yang disimpannya sejak malam. Diseruputnya minuman itu dengan harapan mampu menghangatkan tubuhnya dan memelekkan matanya. Poniman mengusap matanya yang masih kotor. Ia membersihkannya dengan jaket lusuh yang membalut tubuhnya. Tidak lama, ia sadar dia berlari tanpa alas kaki. “Sampai lupa pakai sandal saking takutnya,” ujarnya. Dia kembali untuk mengambil sandal.
Dengan tangan hitam dan kotor, lelaki tua itu tidak lupa menikmati kue lapis yang didapatnya dari orang yang menaruh belas kasihan padanya. Kebutuhan hidupnya memang kebanyakan dipenuhi dari belas kasihan orang-orang yang mengenalnya. Beberapa orang tidak segan menaruh simpati pada Poniman. Beberapa yang lain barangkali tidak peduli pada keberadaan pemulung yang setiap harinya merebahkan badannya di dalam ge-robaknya itu.
Setiap malam dia memarkir gerobaknya di sisi selatan Taman Jatinegara, Jakarta Timur. Sekitar tahun 1950-an, lelaki yang telah bercerai dari istrinya ini memutuskan mencari nafkah di Jakarta.
Saat itu, Jakarta-seperti yang didengarnya dari perantau di kampung halamannya-adalah tambang emas. Mengumpulkan rupiah di Ibu Kota bukanlah perkara yang sulit baginya yang saat itu masih muda dan produktif. Bukan cuma di Jakarta, Poniman muda juga sempat melanglang buana, mencoba keberuntungannya hingga Pulau Sumatera, mengerjakan proyek pembangunan jalan. Tidak ada kebutuhan primernya yang tidak tercukupi. Untuk sekadar makan, tinggal, dan berpakaian, ia masih bisa memenuhi dari hasil kerjanya sebagai kuli bangunan. Dia bahkan sesekali dapat mengirim uang ke kampung halamannya. Namun, keberuntungan tidak melulu menjadi garis takdirnya. Krisis moneter tahun 1998 membuat beberapa rencana proyek pembangunan terhenti. Ia tidak mempunyai pekerjaan dan penghasilan.
Dia tidak ingin pulang ke kampung halamannya. “Malu,” ujarnya lirih. Lagi pula, menurutnya, bagaimana pun sulitnya hidup di Jakarta, masih ada yang bisa dilakukannya untuk menyambung hidupnya. Di Malang, tanpa lahan bertani, ia tidak dapat bekerja. Poniman memutuskan tetap bertahan di Jakarta meski nasibnya terkatung-katung. Hari ini barangkali ia bisa makan, besok belum tentu demikian. Tidur di emperan toko atau di stasiun kereta api menjadi kisahnya setiap hari. Namun, kegetiran itu tidak membuatnya melangkah pulang meski hasratnya untuk kembali begitu besar.
Hingga suatu hari, seorang lelaki tua menawarinya sebuah gerobak. Dengan kebingung-annya, diterimanya gerobak itu. Keberuntungan kali ini miliknya. Pemberi gerobak itu tidak meminta imbalan. “Asal dijaga dan dipakai yang be-nar,” kata laki-laki yang adalah malaikat bagi Poniman itu. Sejak itu, gerobak menjadi rumah bergerak baginya. Dia hanya perlu mencari tempat untuk memarkir gerobaknya. Jika tempat itu menurutnya aman, dia tinggal masuk ke dalam gerobak, menutupnya dengan plastik terpal, dan tidur. Entah lelap atau tidak.
Tidak terbersit sedikit pun di pikiran Poniman untuk mengeluh. Kesulitan hidupnya selalu dijalaninya dengan rasa syukur. Lelaki yang kulitnya gosong terbakar matahari ini pun tidak mau menggantungkan hidupnya pada orang lain. “Kalau bisa, saya jangan sampai merepotkan orang,” ujarnya. Pantang merepotkan orang lain tetap dipegangnya meski dalam kondisi tubuh lemah karena penyakit. Masih sangat jelas diingatannya ketika be-berapa tahun lalu didera pe-nyakit yang tidak dikenalnya.
Penyakit itu menempel di tubuhnya hingga sebulan. Menggigil kedinginan ditambah nyeri tulang setiap hari dialaminya. Tanpa obat, makanan bergizi, dan keluarga yang merawatnya, Poniman mencoba bertahan.”Saya mau minta tolong orang tidak enak. Waktu itu sampai satu minggu tidak makan. Tidak ada uang, tapi tidak sanggup mencari,” ujarnya di pinggir gerobaknya. Bau pesing tidak mengganggunya sedikit pun. Poniman merasa kematian akan mendatanginya segera. Namun, ia terus berdoa agar diberi kekuatan dan kesehatan. Setidaknya mayatnya tidak akan merepotkan orang lain, begitu pikirnya.
Setiap hari, Poniman mencari nafkah dengan mengumpulkan sampah kertas dan plastik. Pagi-pagi ia berkeliling kawasan Jatinegara pada pukul 09.00 WIB. Hanya sekitar 30 menit mengumpulkan sampah de-ngan membawa karung, ia kembali ke gerobak yang di-tinggalkannya. Sesudahnya, ia mandi di kamar mandi umum dengan membayar Rp 1.000. Urusan cuci pakaian dilakukannya di Kalimalang. “Kalau nyuci di kamar mandi harus bayar Rp 3.000. Bisa untuk makan satu atau dua kali,” katanya.Penghasilan
nya tidak besar. Jika beruntung, ia bisa mendapat uang hingga Rp 10.000 dengan menjual hasil pulungannya di Kebon Nanas, Jakarta Timur. Jika tidak, dalam tiga hari pun ia tidak menghasilkan satu rupiah pun.
Kalau sudah begitu, makanan akan menjadi kebutuhan yang mewah baginya. Bisa makan sekali sehari, apalagi sampai dua kali sehari, adalah anugerah yang sangat disyukuri Poniman. Tidak jarang ia baru makan setelah dua hari tidak makan. Perut perih melilithayan dapat ditahannya.
Taman tempatnya meletakkan gerobak tidak tergolong nyaman karena berada di pinggir jalan yang banyak dilalui kendaraan bermotor ukuran besar. Belum lagi tempat itu berbau pesing karena sopir-sopir sering buang air kecil di sana.
Kerinduan terbesar Poniman adalah pulang ke rumah orang tuanya di Malang. Jika ada sisa uang, ia akan mengumpulkannya hingga mencapai Rp 60.000 untuk digunakan membeli tiket kereta kelas ekonomi. “Pilihan (pemilihan umum-red) yang lalu, saya mau pulang, tetapi uangnya belum ada. Mudah-mudahan pilihan nanti bisa pulang,” ujarnya dengan tatapan penuh kerinduan.
(deytri aritonang)
Untuk Apa Menikah?
April 16, 2009
Kemarin aku mengeluh pada seorang teman karena mengalami nyeri haid (yang kedua kalinya dalam satu bulan. Wow!!) Lalu dia bilang, “Satu-satunya cara menyembuhkan dan menghilangkannya adalah dengan menikah.”
Lalu kujawab: berarti kalo nanti ditanya alasan menikah, aku bilang, “Untuk menghilangkan nyeri haid yang kerap datang tiap bulan.” Hehehehe… Lucu juga. Tapi memang katanya, habis melahirkan, orang yang selalu mengalami nyeri haid terbebas dari rasa sakit. Dan aku masih menganggap tabu melahirkan tanpa menikah. (pemikiran purba ya?) Jadi menikahlah hai kau gadis yang mengalami nyeri haid….
Tadi temenku yang lain curhat. Dia bercerita, pacarnya sedang mengalami kesulitan ekonomi dan pendidikan.
Orang tua pacarnya itu tidak lagi sanggup membiayai kuliahnya. Pacarnya itu adalah kontributor sebuah media. Konon penghasilannya tidak cukup untuk membiayai kuliahnya. Belum lagi skripsi pacarnya itu dibajak orang lain.
Duh! Aku tidak dapat memberi tanggapan. Salah-salah malah bikin dia makin pusing.
Lalu, dia melanjutkan ceritanya, dia mengirim pesan pendek (sms) pada pacarnya itu. “Dia bilang kalau begitu gue nikahin lo aja deh, biar gue yang nanggung semua hidup lo”.
Wow!!!
Sekilas kata-katanya itu emang terdengar sangat mulia dan menggetarkan hati. Tapi aku kemudian berpikir, berarti temanku itu mau menikahi temannya dengan tujuan menanggung hidup sang kekasih. Sesempit itukah?
Jadi inget juga, sebelum nikah temen gue pernah bilang “daripada jadi zinah. Mending di-sah-in aja,” waktu gue tanya kenapa mau menikah di usia yang masih tergolong muda.
Apa boleh gue ambil kesimpulan, dia menikah biar gelora seksualnya jadi sah dan ga dosa? Gitu doank?!
Tadi gue iseng-iseng tanya temen gue yang (kayanya) udah ngebet banget nikah. Dia bilang dengan menikah dia ingin berada bersama seseorang yangg punya visi misi yg sama membangun masa depan. “Simpel ya”, tanyanya.
Ah! Aku no comment untuk pernyataannya teman masa ABG-ku itu.
Yang memuaskan untukku adalah jawaban temanku yang mengaku kalau menikah untuknya adalah memenuhi panggilan Tuhan. Dia bilang dengan menikah artinya seseorang harus siap menerima tanggung jawab dan tugas baru, sebagai seorang suami/isteri, ibu/ayah. Dia juga harus siap menghadapi permasalahan yang timbul dalam kehidupan pernikahan.
…..
Aku pernah ‘ngebet’ nikah. Dulu pada teman-teman dan mantan pacarku kukatakan aku ingin meikah di umur 25 tahun (yang kemudian membuat mantan pacarku kabur. Ga yakin bisa menikahiku di usia segitu. Hahahaha…. kasian kalian!!! maap ya *jadi curhat!!*)
Dan kontempelasiku hari ini mengingatkanku kalau menikah tidak boleh cuma dijadikan ambisi.
“Menikah itu Panggilan”
Siapa yang tau panggilan itu datang padaku besok. (hehehehe…ngarep!) atau tahun depan, atau lima tahun lagi, atautidak datang-datang (duh!! mudah2an nggak, Tuhan)
Kita Jalani Saja
February 10, 2009
“Aku ingin mengajakmu berdamai,” katamu suatu kali pada pertemuan pertama kita setelah tragedi itu.
Sinis kujawab ‘keinginanmu’ kala itu. (Percayalah kesinisanku itu berarti ‘aku saja belum bisa berdamai dengan diriku sendiri’) Aku hanya tidak terima kalau semua harus berjalan seperti maumu dan bukan mauku atau mau kita. Kau ingin satu, jadi satu. Sedikit demi sedikit aku menyesuaikan diriku dengan satu itu. Lalu kau ingin dua, kuturuti dua walau sulit. Langkah demi langkah kutapaki dalam dua.
Lalu kau ingin damai….
Aku sendiri tidak mengerti damai yang kau maksud. Apa seperti perdamaian antara Yakub dan Esau ataaaaaauuuu… Ah. Aku bingung.
“Kamu nyaman seperti ini,” katamu kali lain.
Ah!!! Aku hanya membiarkan hatiku terletak di atas kepala. Aku tidak lagi mau berusaha menaruh kepala di atas hatiku. Karena setiap kali operasi mengembalikan kepala di atas hati kulakukan, aku malah sakit. Bius sinis tidak bekerja. Pengetahuan dan pengalaman tidak ampuh. Malah mungkin menulari sakit padamu juga.
Aku nyaman. Mungkin juga tidak. Mungkin aku hanya ingin berdamai (perlahan) dengan diriku sendiri, agar bisa berdamai denganmu. Meski mungkin berdamai yang kau maksud bukan satu, bukan pula dua, mungkin satu setengah.
Mari kita jalani saja.
Hey… Ini bukan usaha mengintimidasi (kalau kau berpikir begitu). Ini hanya curhat (curarahan hati penjahat. Heheheh).
Rp 500
February 2, 2009
Aku nggak tau apa arti uang sebesar Rp 500 untuk seorang permpuan cantik. Umh… Entahlah cantik atau tidak(karena itu adalah penilaian subyektif). Entah bagaimana artinya uang sebesar Rp 500 untuk perempuan berkulit putih, berdagu lancip itu. Mungkin memang besar artinya bagi dia yang saat itu menggunakan kemeja putih bermerek, tas bermerek dan sandal cantik yang juga bermerek. Ah… Apalah arti Rp 500 untuk dia? Entahlah. Aku nggak tau. Tapi aku tau apa artinya Rp 500 yang sama bagi kernet bus Kopaja 502 itu. Uang sebesar Rp 500 mungkin bisa digunakannya untuk membayar timer yang banyak bertebaran di terminal, halte, persimpangan. Rp 500 itu juga bisa digunakannya untuk membayar pungutan semena-mena yang dilakukan polisi cepek di jalanan. Atau Rp 500 itu mungkin juga digunakannya untuk menggenapi setoran hingga sebesar Rp 230.000 kepada pemilik bus. Mungkin juga Rp 500 itu bisa menutupi kekurangan untuk mebeli solar Rp 4.500. Bisa juga Rp 500 itulah yang nanti akan dibawanya pulang dan diberikan kepada anaknya untuk membeli buku atau jajan anaknya. Kadang kernet bus itu cuma bisa membawa pulang Rp 50.000, tanpa Rp 500, berarti dia cuma punya 49.500. Saat itu, kedua orang itu berdebat sengit. Yang perempuan memberi uang sebesar Rp 10.000 kepada kernet yang mengembalikan kembalian ongkosnya p 7.500. Waktu itu gubernur sudah mengeluarkan titah kalau tarif angkutan harus turun Rp 500 jadu Rp 2.000. Belum ada kejelasan soal penurunan tarif kala itu. Maka baik supor atau kernet angkutan masih memberlakukan tarif lama, apa lagi setoran kepada pemilik mobil juga belum diturunkan. Si penumpang dengan produk fesyen bermerek di tubuhnya itu kemudian mengembalikan koin Rp 500 kepada si kernet yang menggunakan kemeja murahan berikatkepalakan handuk buluk. Si kernet bingung. Si penumpang bilang “Sini seribu. Tarifnya kan udah turun jadi Rp 2.000.” Si kernet bingung. Kurasa dia tau peraturan memang menetapkan demikian. Tapi perut keluarganya sepertinya sulit bertoleransi dengan peraturan. “Saya juga butuh makan, Bu,” katanya. Perdebatan sengit pun terjadilah. Aku nggak tau apa arti Rp 500 bagi si penumpang. Tapi angka itu berarti besar bagi si kernet. “Apalah arti 200-300 bagi Anda. Rp 500 tidak akan membuat Anda miskin, tidak juga membuat kami kaya,” kata seorang preman ga penting yang naik ke bus itu beberapa menit kemudian…. Koq bisa pas ya?
deytri aritonang

Ongkos
kata dunia
January 12, 2009
Aku sering mendengar kata dunia. Aku bahkan kadang membuka telinga terlalu lebar soal apa kata dunia. Aku pernah menyesal karena banyak mempertimbangkan kata dunia.
Aku pernah terlalu percaya kata dunia. Hingga aku sadar kata dunia tidak sepenuhnya benar, tidak pula sepenuhnya salah.
Aku tau, sebaiknya aku berkata hingga itu menjadi kata dunia.
Hello world!
January 12, 2009
Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!