Cinta di Duksina 4

Cinta di Pandega Duksina 4

“ting.. ting.. tiiiing….” telepon genggamku berdering, membunyikan petikan gitar yang dimainkan Vidi. Aku sudah berpikir kalau bukan redaktur, narasumber, itu pasti customer service karaoke yang aku pesan kemarin.
Tapi betapa terkejutnya aku, waktu melihat nama yang tercantum di Nokia E63 itu adalah “Tante Iman”, ibu kosku ketika merantau di Jogja. Kejutan yang menyenangkan tentunya.
Mudah-mudahan, kabar baiklah yang ingin disampaikannya. “Mau kasih undangan Mbak Adis ya, Tante,” kataku spontan setelah dia tanya kapan aku main ke Jogja. Ternyata tante hanya rindu, ingin bertanya kabar.

Tante Iman (aku lupa nama lahirnya, Iman adalah nama suaminya) aku kenal sejak 2003. Rumah Tante memiliki sembilan kamar, beberapa di antaranya tidak dihuni. Maka dia memutuskan untuk mengontrakkan rumah di Jalan Kaliurang KM 5,6 Gang Pandega Duksina Nomor 4 itu.
Aku mengontrak di salah satu kamar di belakang dengan biaya sewa hanya Rp 150.000 per bulan yang harus kubayar setiap tiga bulan.
Rumah Tante Iman besar, nyaman. Tamannya cukup luas. Aku bahkan pernah bermain upacara-upacaraan dengan Adit di taman rumah itu. Hihihi.. Tapi bukan besarnya Duksina 4 (begitu aku menyebut rumah itu) yang membuatku betah tinggal di sana. Kasih yang tulus yang terpancar disanalah yang mengikatku dan membuatku betah tinggal selama 4 tahun 5 bulan di sana.

Tante Iman seperti ibuku di Jogja. Anak-anaknya seperti kakak-kakakku. Tante Iman tidak segan memarahiku atas kesalahanku. Dia pernah ngomel waktu aku baru sampai di kos lebih dari jam 10 malam. “Pulang malem ga bilang-bilang,” katanya saat membukakanku pintu. Tante juga tidak segan memintaiku tolong. Kami sering masak bareng loooh…
Suatu hari, aku jatuh sakit. Tidak sanggup ke luar beli makan, tidak ada yang bisa dimintai tolong. Lagi pula, aku tidak nafsu makan saat itu. Tapi lalu, tengah malam, aku kelaparan dan tidak bisa tidur, aku pun pergi ke dapur dan melihat buah-buahan di meja dapur tante. Aku lalu memakannya dan baru minta izin pada Tante Iman keesokan paginya.
Sekali lagi dia mengomeliku karena tidak mengatakan padanya soal sakitku. Maka, sampai aku sembuh, dia memastikan aku sudah makan tepat waktu dan mengonsumsi obatku.
Tante Iman ‘jatuh cinta’ pada seorang kakak kelas di kampusku yang naksir aku :p Menurutnya, lelaki itu sopan, baik hati, dan ganteng tentunya. Tetapi sayang, pendekatan aku dan lelaki itu tidak berhasil. Tante sangat menyesali itu. Dia sungguh berharap, setiap malam minggu, lelaki itu berkunjung ke Duksina 4, membawa martabak misalnya, lalu nonton teve bareng di ruang keluarga.
Kali lain, pasca gagalnya hubungan kami, lelaki itu datang menjemputku di Duksina 4. Kalian tau? Tante Iman mengintipku dari ruang tamunya. Hihihi…
Saat Aa Erwin, anak kedua tante menikah di Jakarta, aku dan keluargaku menyempatkan datang. Kedatangan kami tampaknya membuat ikatan di antara kami semakin kuat.

2007 November, aku resmi dinyatakan lulus dari UGM. Di tengah rempongnya persiapan wisudaku, aku disibukkan juga dengan urusan mencari penginapan untuk keluargaku. Tante Iman mengetahui kerepotanku, maka, dia pun menyiapkan satu kamar tambahan untuk menampung keluargaku. Kamarku, dan kamar yang disiapkannya memang besar, maka wajar kalau dua kamar saja cukup untuk menampung tujuh kepala. “Ngapain jauh-jauh sih? Kalo emang Dey nganggap Tante keluarga, mama suruh tidur di sini aja,” katanya memaksa.
Kebaikan-kebaikan keluarga tante itulah yang membuat mama selalu menitipkan oleh-oleh setiap kali aku pulang. Mulai dari ikan teri medan, sirup markisa sampai brownies. Mama pun tidak mengizinkan aku pindah ke tempat lain, meski jarak antara kos dan kampusku sekitar 2 km dan harus ditempuh dengan angkutan umum.

Duksina 4 Berpindah Tangan
“Anak tante di Jakarta gimana kabarnya? Tante mau ngabarin, rumah om (Duksina 4) udah laku. Tante udah punya rumah baru. Nanti kalo ke Jogja, Dey nginep yah.” SMS di suatu malam di (kalo tidak salah) Maret 2009 itu mengejutkanku. Mataku berkaca-kaca. Sungguh sedih kehilangan Duksina 4.
Sepeninggal Om Iman, keluarga Tante memang menanggung bebam yang tidak ringan. Lagipula, kamar-kamar di sana, banyak yang tidak dihuni. Seandainya aku punya tabungan Rp 1,5 miliar saja, pasti sudah kubeli rumah itu. “Nanti kita beli lagi yah. Sekarang kita berjuang dulu,” ujar seorang sahabatku.
Tante mengaku sangat kehilangan rumah itu. Bukan hanya bangunannya yang tahan goncangan gempa dengan kekuatan 5,9 SR saja. Rumah itu menyimpan banyak memori baginya. Pun bagiku.

Pun bagi Rita, Nisa, Rina, teman-teman kosku dulu. Rita, dokter lulusan UGM bahkan sempat menjalin asmara dengan keponakan tante. Teras rumah Duksina 4 menjadi saksi cinta mereka. Teras Duksina 4, menjadi saksi cinta semua remaja yang pernah kos di sana.
Rita, karibku di Duksina 4. Aku sering numpang tidur di kamar Rita kalau sedang ketakutan atau sedang galau. Hehehe.. Ritalah yang setia melayaniku di hari kematian mantan pacarku. Rita sering meminjamkan bajunya kalau ada kondangan pernikahan. Rita juga yang repot mendadaniku kalau ada lelaki khilaf yang mengajakku berkencan. “Pokoknya lo harus cantik,” katanya.
Aku dan Rita, pernah seperti orang gila berkaraoke di kamar Nisa. Kamar Nisa sangat besar, tapi selalu berantakan. Beda dengan Rita yang resikan. Kesamaan antara Rita dan Nisa adalah, keduanya sama-sama sering disambangi laki-laki. Bedanya, kalau laki-laki yang menyambangi Rita berniat pedekate. Sedangkan laki-laki yang mendatangi Nisa datang dengan niat berteman dan bermain, tidak sedikit juga yang belajar. Nisa memang cemerlang dalam kuliah. Setidaknya menurutku.

“Kalau ke Jogja, kabarin Tante ya, Non. Salam untuk Mamah (Tante selalu mamaku dengan mamah) dan semua. Assalamualaikum (semoga tidak salah eja),” ujar Tante menutup perbincangan kami pagi ini.

Jakarta, 28 Oktober 2011

Merayakan Hidup a la Perempuan

Jakarta, 8 Oktober 2011

I love my life, today.

Kenapa today? Karena saya memang sangat mencintai hidup saya hari ini. Yes! Hari ini. Saya mencintai hidup saya kemarin, dan saya pastikan saya akan mencintai hidup saya besok. Tapi saya sungguh mencintai hidup saya hari ini.

Hari ini, saya mulai dengan terbangun pagi hari di kamar teman. Selimut yang saya pakai sejak malam sudah awur-awuran di atas tempat tidur menjauhi saya (atau saya yang menjauhi dia?). Dan di mana partner tidur saya, Mareta? Ahaaa!! Ternyata dia sudah tergeletak di kasur bawah. Seingat saya, dia sedang menyusui anaknya. Ya.. Maret memang sudah beranak satu. (Itulah salah satu kelebihan dia dibanding saya, makanya dia terus menyatakan “cepat-cepat (nikah)”) hehe..

Jangan tanya, bagaimana bisa saya terdampar di kamar Maret. Oh iya.. Suami Maret ada di Timor Leste. Makanya saya bisa tidur bersama Maret. Saya hanya terdampar di sana. Hihi…

Maret adalah teman SMP saya. Kami sekelas di bangku kelas satu dan tiga. Marga mama Maret dan saya sama. Aritonang. Tapi Mama Maret bermarga Aritonang Rajagukuguk dan saya Aritonang Ompusunggu… Kelak, kalau saya menulis soal batak-batakan, akan saya jelaskan apa maksudnya :p

Suatu hari, ketika saya sakit pasca ujian sekolah, saya tidak sanggup pulang sendiri. Rumah saya memang jauh dari lokasi SMP saya. Lalu Maret yang memang dasarnya penuh kasih memaksa (ya, memaksa dan bukan mempersilakan) saya istirahat di rumahnya. Hingga malam, sakit saya tidak juga pulih. Akhirnya, orang tua saya datang menjemput ke rumah Maret.

Di sanalah ketauan kalau ternyata oh ternyata, saya dan Maret bersaudara. Saya baru ingat, marga Mama Maret memang sama dengan marga Mamanya Mama saya. Hihi.. Bingung kaan.. Pokoknya, ternyata kami bersaudara dekat.

Sejak itu, hubungan pertemanan saya dan Maret makin akrab. Tapi lalu, kami terpisah. Maret bersekolah di SMU St. Antonius, saya di SMU 12. Kami hampir kehilangan kontak.

Saat kuliah, lebih lagi. Maret semakin ke barat, kuliah di USU, Medan, Sumatera Utara. Aku semakin ke timur, kuliah di UGM, Jogjakarta.

Terimakasih pada Mark Zuckeberg yang menciptakan Facebook. Situs jejaring sosial itu mempertemukan saya dan Maret. Dari sana, meski Maret di luar negeri, kami tetap intensif berkomunikasi.

Dan pagi ini, saya terbangun di kamarnya setelah semalam ngerumpi sampai ngantuk-ngantuk.

Jelang sore, sahabatku yang lain, Josephine (selanjutnya disebut Pina) menyusul kami. Tampaknya dia tidak kuat menahan godaan dan memikirkan saya haha-hihi dengan Maret.

Saya sendiri heran, sungguh terheran-heran, apa sebenarnya yang saya, Maret dan Pina lakukan di rumah itu. Hanya ngerumpi, nge-game, mengganggu putri Maret, Reyjeane dan merusak program diet Pina dengan makan-makanan berlemak dan berkolesterol tinggi.

(atas permintaan beberapa pihak, bagian ini harus disensor… ga asik)

Waktu SMP, saya sebenarnya tidak terlalu dekat dengan Pina. Tapi, sama seperti dengan Maret, saya sekelas dengan Pina di kelas satu dan tiga SMP. Saya menduga, Maret dan Pina dekat saat SMA di St. Antonius, makanya, tiap nongkrong denganku, Maret selalu bilang “ajak si Josepin.”

Pina, yang paling saya ingat, hampir selalu berkipas. Cara duduknya yang tegak, membuat dia tampak seperti seorang ibu suri di film-film kolosal berlatar belakang kerajaan atau dinasti di Cina. Hihi..

Saya ingat, teman saya yang lain pernah bilang padanya “lo sebenernya kegerahan ga sih Pin? Ngipas mulu!” Haha..

Belakangan, saya dan Pina sangat dekat. Mungkin karena kesamaan nasib: belum ada lelaki nekat yang menikahi kami. :D

Teman-teman dekat kami kebanyakan sudah menikah, bahkan punya anak. Sebut saja Maret dan Valentina. Jadilah aku, Pina dan seorang lelaki di antara kami, Raja, kerap menghabiskan waktu bersama, menunggu tangan Tuhan mengantar kami ke gerbang pernikahan. Hehe…

Tapi, sendiri bagi Pina bukanlah keadaan. Sama seperi saya, itu masih pilihan bagi dia. Ini bukan bela diri apalagi mengasihani diri sendiri. Hehe… Terbukti dengan, Pina memilih mengembangkan dirinya dengan melanjutkan kuliah pasca-sarjana. Pina pun enggan mengasihani dirinya saat patah hati. ;)

Saat malam akhirnya datang, kami memutuskan makan malam di luar. Saah.. Waktu bagi perempuan. Mau menyebut gadis, Maret sudah tidak gadis lagi. Hehehe..

Dalam perjalanan ke Tebet, Maret terpikir untuk mengajak Osa. Nama lengkapnya, kalau tidak salah, Rosalina Elysabeth (koreksi kalo salah ya, Sa). Jadilah kami suruh supir taksi putar balik dan menjemput Osa di depan gang rumahnya.

Osa adalah teman SMA Maret dan Pina. Saya kenal dengannya baru sekitar sebulan. Tapi, sudah beberapa kali kami nongkrong bareng, dan sepertinya, saya cocok dengannya.

Osa, seperti banyak perempuan batak lain, merindukan datangnya seorang pangeran berdarah batak melamarnya. Orangtuanya melarangnya menjalin asmara dengan lelaki non-batak. Saya pengaruhi dia untuk berjuang kalau memang cintanya berlabuh di hati lelaki yang bukan batak, dia tidak terpengaruh. Jadi, kalau kamu adalah lelaki batak, dekatilah Osa. Saya punya nomor hapenya, hubungi saja saya. :p

“Orang gilaaaa…” kata Osa, saat naik ke taksi yang kami tumpangi. Kami hanya tertawa, bak remaja yang berhasil mengecoh guru kamu lalu madol dari sekolah.

Barangkali kami memang gila. Tapi kalau kegilaan ini membahagiakan kami, meski tanpa pacar atau suami di samping kami saat malam minggu, kami tidak akan menolaknya.

And I love my life today, meski Vidi asik dengan teman-teman kuliahnya. Hehe..Meski hari ini aku tidak produktif, tapi kurasa ada baiknya juga “mengembalikan energi” kataku pada seorang kawan.

Thank’s for the weekend guys. Love you. Xoxo

(Ga Usah) Ngerayain Ulang Tahun Lagi

Apa begitu aja yah? Ga usah ngerayain ulang tahun lagi. Karena, setiap kali ngerayain ulang tahun di rumah, ada ajaaaa air mata yang tumpah.

 

Terakhir, ulang tahun ke 24 Pheni tadi malam. Niat gue mau kasih kejutan kecil untuk  dia. Dia pulang kuliah, suara ojek motor jadi kode kalo dia udah sampe di depan rumah. Pintu rumah emang sengaja gue kunci, biar ada jeda waktu antara dia turun ojek dan gue nyiapin kue ulang tahun yang ga seberapa. Beberapa kali dia ngetok pintu dan manggil-manggil, “Kaak… Maa..”

Yes.. Tepat saat pintu dibuka, gue dan Kak Dela udah di depan pintu. Lalu dengan dua potong balckforest di tangan gue, kami nyanyi lagu Selamat Ulang Tahun. “Waaah…” kata Pheni. Tapi lalu dia membenamkan wajahnya di dada gue. Yah benar.. Dia menangis. Gue sih berharap itu adalah tangisan haru. Tapi dari tangisannya gue tau betul dia merindukan bapa. Dari tangisannya, bisa gue pahami betapa dia menginginkan bapa ada bersama kami, menyanyikan lagu Selamat Ulang Tahun untuknya. Mata bapa yang sendu, suara bapa yang serak, tepuk tangannya yang kalem, pasti akan ikut memeriahkan perayaan kecil itu.  Dalam tangisnya, ingin Pheni tumpahkan semua kerinduan dan harapan agar bapa bisa ikut memperhatikannya menuangkan setiap kata di skripsi yang sedang disusunnya.

“Yang penting kueku laku,” gue bilang pada temen gue, lebih pada menghibur diri. :D

 

Sebelumnya, ulang tahun mama. Yeaah… sepanjang lagu ulang tahun dinyanyikan, saat lilin ulang tahun ditiup, selama mama buka tumpukan kado dari anak-anaknya (sebenernya dari Kak Pio doank sih. Duitnya dari dia semua. hehe..), selama itulah mama menangis.

 

Ulang tahun Kak Pio juga begitu. Kami nyanyi lagu selamat ulang tahun dengan semua menahan nangis. Pasti memang lebih membahagiakan kalo ada bapa saat doa-doa ulang tahun diluncurkan.

 

Satu-satunya yang ga nangis waktu ulang tahunnya dirayain adalah Tandi. Bukan karena apa. tapi, karna, saat seremoni tiup lilin dilakukan, dia masih ngantuk. Hihi.. iyaah, kami emang melakukan tiup lilin tengah malem dan bangunin Tandi dari tidur lelapnya. Dan, emang ga ada yang bisa ganggu tidur Tandi. Gempa bumi sekali pun, kayaknya. Jadi, alih-alih terharu atau sedih, Tandi malah nggerutu kesel karna dibangunin. Hihi..

Yang sesenggukan malah mama. Gue paham kesedihannya, putra mahkotanya harus merayakan ulang tahun ke-17nya, tanpa kehadiran ayahnya. Harusnya itu jadi momen membahagiakan, mengingat, bapa juga pernah janjiin Tandi, ngerayain ulang tahun ke-17 nya sama-sama. “Katanya bapa mau ikut ngerayain ulang tahun ke-17 aku. Tungguin kek, Pa. Sebentar lagi juga,” kata Tandi di depan jenazah bapa. Memang hanya selisih sebulan antara kesembuhan bapa dan ulang tahun ke-17 Tandi.

 

Besok ulang tahun ke-29 Kak Della. Kalo ga ditiupin lilin dan didoain bareng, ga adil rasanya. Tapi kalo jadi bikin nangis-nangisan, kayaknya perlu dipikirkan selebrasi yang lebih jitu untuk mendatangkan kegembiraan tanpa sisipan kesedihan deh. Apa yah?

 

Mudah-mudahan, ulang tahun gue nanti, semua bahagia. Cihuuy…

 

 

(Tetap) Jadi Anak Gaol Setelah Berkeluarga

Saya baru dapat kabar bahagia: keluarga kecil sahabat saya, Valentina baru dianugerahkan seorang anak. Saya bahagia. Sepenuh hati, saya bahagia, meski tidak sebesar kebahagiaan Valen dan Posan, tentu.
Saya bahagia, meski saya tahu, kasih sayang Valen akan terbagi banyak. Setelah sebelumnya, saya harus berbagi Valen dengan Posan. Kini, kue kasih sayang Valen harus juga dibagi dengan Edmund Milton Nadapdap, anak mereka.
Saya tau benar, waktu-waktu hingga larut malam nongkrong bersamanya, berbagi kisah, cinta dan makanan tidak akan ada lagi. Saya tau betul, daripada meladeni curhatan saya, pasti Valen lebih memilih mengajari anaknya berjalan dan memanggilnya “mama”.
Di antara teman-temanku yang sudah menikah, Valen memang yang paling ‘metal’. Meski sudah berperut buesar. Dia tidak pernah mau ketinggalan saat kami sedang nongkrong. Dia bahkan pernah ‘kabur’ dari rumah demi bisa menjemput janji bakar-bakaran di rumah kawan kami. Tapi kenekatan dan kegilaan itu pasti tidak akan bisa dilakukannya setelah Ed hadir.

Perasaan kehilangan ini pulalah yang berkecamuk dibenak saya, sekitar 5 tahun lalu, waktu sahabat, kakak dan teman bermain saya, Angki memutuskan menerima lamaran pacarnya Icham. Banyak pernikahan sudah saya hadiri, namun, bagi saya, saat itu, tidak ada yang seindah pernikahan Angki. Tidak ada yang lebih membahagiakan saya saat itu daripada melihatnya berdiri di pelaminan bersama suaminya. Begitu bahagianya, saya sampai tidak ingat makan waktu itu.
Tapi kemudian, perasaan sedih menyelimuti saya. Icham “menculik” Angki ke Samarinda. Dengan dia menikah saja, waktu Angki untuk saya sudah banyak berkurang. Kini, pilihan hidup suami-istri itu menjauhkan saya dari kakak yang saya temukan di tempat les saya di Jogjakarta itu. Tidak ada yang bisa saya katakan waktu itu selain “I’m happy for you, Ki. Tetap berhubungan yah”, meski saya sadar, saya tengah menahan air mata saya. Ya, puji Tuhan saya tidak menangis, meski yang saya lihat, air mata Angki pun menggenang di matanya saat perpisahan kami di Bandara Adi Sucipto itu.

Dua bulan lalu, sahabat saya yang lain, Yusti diterima nikahnya oleh suaminya yang ganteng. Hei, saya tidak keberatan dengan pernikahannya. Sungguh. Kebahagiaan saya waktu Yusti minta dicarikan paket pernikahan, barangkali lebih besar daripada saat Vidi meminta kami berpacaran saja. :D
Haru, bahagia, berbunga-bunga saya kala itu. Ingin betul memeluknya. Tapi kabar gembira itu disampaikan Yusti lewat obrolan kami di dunia maya. Tidak mungkin kan saya peluk monotir komputer saya.
Meski terancam menghadiri pernikahan Yusti tanpa teman, saya nekat berangkat ke Tasikmalaya, Jawa Barat, demi menjadi saksi momen bahagia itu. Tapi untung Beca bisa ikut bersama saya.
Saya tidak ingat, apakah pada Bambang, suami Yusti saya minta berbagi kasih. Tapi kepada suami-suami dan istri-istri teman-teman saya yang menikah, saya pasti akan mengatakan “dia masih boleh main sama gue kan?”
Jawabannya pasti “iya.” Tapi percayalah, saya tau “iya” itu bisa berarti “kalo ga lagi sama gue yah” atau “setelah selesai ngurus gue yah” atau “jangan sampe larut malam yah”.
Lihat saja, saya pernah nongkrong dengan Yusti hingga pukul 3 pagi, menjelang dia sahur saat dia masih berstatus belum menikah. Tapi kemudian, beberapa minggu setelah pernikahannya, dia sudah gelisah saat jam 10 malam baru selesai nonton film bersama teman-teman se-gank masa SMU kami. “Jangan sampe gue ditalak suami gue nih,” katanya.

Yaaah… Teman saya, Raja bilang, memang sudah begitu konsekuensi berkeluarga. Maka, wajar rasanya kalau saya kemudian berpikir ulang tentang rencana pernikahan saya dengan Vidi. “Belum siap ngurus Vidi dan ngerawat anak” kata saya pekan lalu pada senior saya di kantor waktu ditanya kapan menikah. Padahal sebenarnya saya hanya belum mau kehilangan indahnya persahabatan, saya hanya takut tidak boleh nakal lagi.
Sabar ya, Vi :p

PujiTuhan, Indonesia Sudah Merdeka

“Kami bangsa Indonesia dengan ini menjatakan kemerdekaan Indonesia.

Hal-hal jang mengenai pemindahan kekoeasaan d.l.l., diselenggarakan dengan tjara seksama dan dalam tempo jang sesingkat-singkatnja.

Djakarta, hari 17 boelan 8 tahoen 05

Atas nama bangsa Indonesia.

Soekarno/Hatta”

Pembacaan Teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia oleh Sukarno

Ketika masih duduk di bangku SD, saya sungguh bangga menjadi warga negara Indonesia.

Kebanggaan itu membuncah tiap kali saya mengikuti upacara peringatan hut kemerdekaan Indonesia, 17 Agustus setiap tahun. Dengan doktrin yang dijejali pemerintah orde baru melalui guru-guru di sekolah ke kepala saya soal perjuangan kemerdekaan dan soal mengisi kemerdekaan, saya bangga menjadi anak Indonesia yang bebas dari kolonialisme; saya bangga!

Memasuki masa remaja, di SMP, euforia peringatan proklamasi berkurang. Pasalnya, selama 3 tahun bersekolah di sekolah milik yayasan Katolik itu, seingat saya, tidak pernah digelar upacara peringatan klaim kemerdekaan Indonesia. Apa alasannya, sampai sekarang saya tidak tau. Tapi sekolah saya itu memang jarang sekali mengadakan upacara bendera. Okey.. Ini bukan soal upacara di SMP saya.

Ketika SMA, saya terpilih menjadi anggota paskibra sekolah. Entah apa pertimbangan senior-senior saya itu. Bagi saya, saya tidak cukup berpenampilan menarik, postur tubuh saya juga cenderung mungil (baca: pendek). Tapi saya dipilih jadi anggota paskibra dan orang tua mendesak untuk ikut terlibat, pasrah saja.
Bukan bangga yang saya rasakan saat itu, namun keterpaksaan. Gelora cinta Indonesia, tidak terlampau mengalir dalam darah saat saya derapkan langkah menuju tiang bendera. Hingga saya ditunjuk untuk ikut seleksi calon pasukan pengibar bendera pusaka di Istana Negara, saya menolak ikut. Padahal, konon, menjadi anggota paskibraka adalah cita-cita anggota paskibra sekolah. Tapi saya tidak, Cape. Saya tidak malu jadi putra Indonesia, tapi tidak juga bangga, kala itu.

Saya tidak terlalu ingat hal apa yang menumbuhkan kecintaan saya pada Indonesia. Yang saya ingat, setiap kali liputan acara yang menyisipkan penyanyian lagu Indonesia Raya, saya pasti berdiri dan menyanyikan lagu kebangsaan itu dengan lantang. Yang saya ingat, saya senang menyanyikan lagu “Indonesia Tanah Air Beta” dengan sepenuh hati. Ya, segenap hati seperti orang jatuh cinta.
Yang saya ingat, saya ingin betul berkontribusi (istilah orba, “mengisi kemerdekaan”) untuk negeri ini. Yang saya ingin, setiap kerja profesi saya, memiliki peran dan manfaat bagi negeri ini.
Saya cinta Indonesia, maka saya protes kalau ada pejabat korupsi. Saya cinta Indonesia, maka saya protes kalau ada ketertindasan dan pelanggaran HAM.

Saya cinta Indonesia, itu sebab setiap ada hal buruk, sebisa mungkin saya tidak akan menyebut “namanya aja Indonesia” atau “Indonesia..Indonesia” atau “emang udah begitu Indonesia, jangan harap bisa berubah”.  Saya cinta Indonesia, itu sebab saya protes jika ada yang mengatakan hal itu. Perubahan dimulai dari optimisme dan optimisme terpancar dari hati. Dan mulut ada cerminan hati. Ucapkan yang baik tentang Indonesia, mudah-mudahan Tuhan mendengar dan menjamah Indonesia.

Saya pun percaya, bahwa bangsa ini sudah merdeka. “Merdeka apa, Mbak, kalau cari uang masih susah,” kata supir taksi yang saya tumpangi kemarin. “Belum merdeka kita ini. Yang udah merdeka cuma yang punya uang aja,” kata tante jauh saya. Saya ingin betul protes.

Barangkali kita masih jauh dari definisi ideal merdeka. Barangkali kita masih terkungkung kapitalisme, korupsi, pelanggaran HAM, pengangguran, kemiskinan.

Tapi, kalau boleh, mari kita akui, bahwa perjuangan Jenderal Sudirman memang tidak sia-sia. Kalau boleh, mari jangan menafikan upaya-upaya politis diplomatis Soekarno yang mengupayakan eksistensi Indonesia sebagai bangsa dan negara merdeka di dunia internasional. Well, saya tidak terlalu paham sejarah.
Kalau boleh, janganlah kita lupa, bahwa nenek moyang kita berpeluh darah dan mati di jalanan akibat kerja paksa. Kalau boleh, marilah kita bersyukur sedikit saja kalau akhirnya kita bisa memperjuangkan nasib kita sendiri dan bukannya kerja paksa menanam dan menuai rempah-rempah untuk londo.

Yaah.. Saya pun tidak lupa, kalau tanah kaya Papua, Kalimantan, Sumatera, (hampir semua, rasa-rasanya) habis dieksploitasi bangsa asing, juga pribumi kapitalis. Saya pun tidak mengingkari masih banyak pengangguran dan penduduk miskin. Sangat banyak.

Tapi kalau boleh, marilah kita tidak lagi mengutuk Indonesia dengan mengatakan “he’eh Indonesia” dengan nada menyesal dan dengki. Kalau boleh, mari kita imani Indonesia memang sudah merdeka dan terus berjuang mempertahankan kemerdekaannya. Kalau boleh, biar saja pejabat yang sudah terlanjur korupsi, pelaku pelanggaran HAM berat demikian dan menjalankan tanggungjawabnya. Tidak perlu dikutuk, negara ini. Tidak perlu disalahkan bangsa ini. Berdoa saja, Indonesia sungguh merdeka. Lakukan saja peran saya, peran kamu, peran kita masing-masing sebagai Indonesiana (saya menemukan istilah saya sendiri untuk menyebut warga negara Indonesia. Hehehe..). Asal jangan mengutuk.
Kalau boleh, percayalah, Indonesia yang saya banggakan ini akan menjadi kebanggaan sekitar 230 juta penduduk Indonesia dan 7 miliar penduduk dunia.
Karena saya percaya, Indonesia sudah merdeka. Puji Tuhan, kita sudah merdeka.(Deytri Aritonang, Seorang Indonesiana)

Selangkah Lagi Meninggalkan Mabes Polri

Tidak banyak orang dapat bekerja, berprofesi seperti yang dicita-citakannya. Puji Tuhan, saya termasuk orang yang diberi kesempatan mengecap cita-cita saya: wartawan.

Kalau ditanya kenapa saya jadi wartawan, jawabnya adalah karena saya banyak ingin tahu, ingin belajar tapi enggan sekolah, juga karena saya ingin mengenal dunia, lainnya karena saya ingin keliling dunia.

Banyak hal-hal ideal saya simpan di benak saya terkait cita-cita saya. Tetapi, semakin kita dewasa, memang semakin kita diyakinkan kalau idealisme kadang berbanding terbalik dengan realita.

Konflik-konflik dalam pekerjaan pun saya hadapi. Baik konflik dengan diri sendiri, maupun konflik dengan lingkungan saya. Pada rentang waktu Juni hingga September 2009, saat saya meliput perkotaan, konflik-konflik itu tidak terhindari lagi. Kadang bahkan mencuat ke permukaan yang mengganggu sistem pekerjaan di kantor saya.

Pemimpin redaksi kemudian memutuskan memindahkan saya ke kompartemen hukum. 12 Oktober 2009 saya resmi jadi wartawan hukum yang ngepos di Mabes Polri, Komnas HAM dan pos-pos desk hukum lain (saya tentu harus siap kalau diminta liputan selain di dua tempat itu).

Saya tidak suka polisi. Saya menyimpan sinisme tertentu pada polisi. Ditambah lagi, Hukum di Indonesia penuh intrik dan friksi. Tapi, lagi-lagi, saya harus siap ditempatkan di mana saja.

Liputan hukum pertama saya tepat saat kasus dugaan pemerasan Bibit-Chandra dan Cicak vs Buaya jadi headline media massa Indonesia. Tambah pusinglah saya. Tiap hari saya harus pulang larut demi menunggu hasil pemeriksaan pimpinan KPK itu, atau sekedar mendengar pernyataan normatif dari pejabat Polri. Esok paginya, saya sudah harus stand by di Mabes Polri (untuk liputan lagi) atau di kantor saya (untuk menerima pencerahan dari Bang Erik, redaktur saya). Sebagai catatan, Sinar Harapan adalah koran sore yang tenggat waktu beritanya pagi pukul 11.00 WIB.

Satu bulan pertama liputan hukum merupakan salah satu masa terberat hidup saya. Serius! Begitu beratnya, hampir tiap malam saya mimpi liputan. Pernah saya mimpi ngejar-ngejar Susno Duadji larut malam di Mabes Polri. Kali lain, saya mimpi nyegat Bibit dan Chandra dan memberondong mereka dengan banyak pertanyaan. Yang terbaik, di antara yang buruk, saya mimpi menerima arahan dari Bang Erik. Tiap malam, sebelum tidur, saya selalu dihantui pertanyaan “besok follow up apa lagi ya?” Fiuh..

Lebih buruk lagi, saat itu, saya merasa kurang cocok dengan beberapa teman yang ngeblok dan ada juga yang hobi ngobrol mesum.

Tapi waktu berjalan. Saya berhasil melewati masa-masa berat itu. Senang rasanya waktu bertemu teman liputan lama, Mas Cipto. Rasanya, seperti punya sandaran saat di lapangan karena dia cukup punya pengalaman liputan polisi dibanding saya. Orangnya juga ngemong banget. ;)

Tidak lama kemudian saya bertemu teman baru, Aby. Konstituen media kami berbeda. Kami sering menyebut Republika adalah koran Islam dan Sinar Harapan adalah koran ‘Kresten’. Meski berbeda, kami cocok bekerja sama.

Aku, Mas Cipto dan Aby saling back up. Dengan wartawan-wartawan lain saya menjalin kerjasama, tapi kerjasama antara aku, Mas Cipto dan Aby lebih ‘galak’. Hihi.. Ada rahasia kami bertiga yang tidak bisa saya buka di sini, kecuali atas izin mereka.

Kedekatan saya dengan teman-teman semakin terbangun oleh tur media wartawan Mabes Polri ke Semarang, Jawa Tengah. Hal-hal tidak penting yang tidak bisa dikutip dan dijadikan berita mengakrabkan kami, walau kehadiran satu teman, Vanroy Pakpahan membuat saya sebal sedikit. Hihi..
Setelah itu, ada perjalanan ke Pusdik Reskrim di Mega Mendung, Jawa Barat dan ke Aceh. Banyak juga perjalanan liputan bareng ke Depok atau Bogor dan tempat-tempat lain.

Puji Tuhan saya mulai paham celah-celah kasus hukum. Saya tau bagaimana bisa menjadi skeptis atas pernyataan narasumber. Tapi itu tidak membuat saya betah.

Meski kemudian betah dan mungkin malah jatuh sayang dengan teman-teman liputan di Mabes Polri, saya tidak serta merta menyukai liputan hukum dan polisi. Saya merasa terlalu sering dibodoh-bodohi dan ditipu polisi. Banyak hal yang disembunyikan polisi-polisi. Banyak pertanyaan mencuat dari benak saya, tapi hanya sedikit yang dijawab Tribrata. Jawabannya pun sering tidak memuaskan.

Mungkin ditambah faktor dari dalam diri juga, saya kemudian mulai jenuh. Mungkin juga karena ketidakcocokan dengan rekan kerja baru, saya mulai muak. Lebih dari satu setengah tahun saya mantengin Mabes Polri, saya memberontak. Saya minta dipindah (lagi).

Lama permintaan saya tidak digubris. Sempat kesal juga. Sampai suatu hari Pak Adi, redaktur saya memanggil saya. Dia bilang, saya boleh bertukar tempat liputan dengan Lili. Ada semangat baru yang memicu adrenalin saya. Saya selalu suka hal-hal baru dan tertantang untuk menaklukkannya.

Tapi di sisi lain, berat juga meninggalkan kawan-kawan dekat di Mabes Polri. Teman-teman yang selalu siap mendukung saya kalau saya sedang halangan liputan. Teman-teman yang datang berbondong-bondong menghibur dan memberikan empati terdalamnya saat ayah saya menghadap Tuhan.

Saya tau, saya pasti akan merindukan nonton Bob diusili atau mengusili Bang Jona dan Sandro. Saya pasti akan rindu mendengar tawa bagai primata Cak Arnaz. Saya pasti rindu mendengar ledekan yang menyerang Kris dan Ijal. Saya juga pasti akan kangen meledek pasangan-pasangan fiktif Ika-Abe, Bang Rama-Laela. Yah pasti akan rindu membuka surat elektronik berisi transkrip narasumber dari Dipo atau Bang Suri. Saya mungkin akan rindu mendengar kisah-kisah Bang Dharta, Mbak Woro, Bang Ariest dan Bang Dodo. Saya pasti merindukan semua, termasuk Bang Aphe, Rofiq atau Bang Aco.
Meski mungkin dalam waktu yang akan lama, saya pasti rindu tiba pagi-pagi di Mabes Polri untuk mencegat Pak Pulisi.

Tapi saya penasaran juga, bagaimana liputan di Kemendagri dan sekitarnya. Besok saya akan memulainya! :)

Surat Cinta untuk Ayah (selamat Ulang Tahun, Yah)

Kau tau, Yah,
Betapa sakitnya menahan rindu, karena dia yang kurindu tak dapat lagi kupeluk raganya.
Atau bahkan sekedar kutelepon untuk mendengar suaranya.
Aku jadi ingat, Yah saat aku begitu merindumu saat kuliah. Kau, -dengan, entah kebijakan atau gengsi khas lelaki batakmu- menjawab, “begitulah risiko kejar cita-cita. Ga boleh cengeng.” Tapi mendengar suaramu kala itu mampu sembuhkan rinduku, memompa lagi semangat belajar yang sempat kempis.

Kau tau, Yah,
Betapa perihnya mengejar mimpi tanpa ada yang melihat, menanyakan dan mengingatkan. Aku tidak kehilangan semangat mengejar mimpi kita. Hanya peluhnya kini terasa lebih berat.
Aku jadi ingat, Yah, pada hari-hari pertama aku bekerja dan menjadi wartawan, setiap malam, bahkan hingga larut, kau menjemputku. Kau menungguku dengan sepeda motor bebekmu di persimpangan Kali Malang. “Cita-cita itu demokratis,” katamu menengahi perselisihanku dengan bunda yang memaksaku menjadi pegawai negeri sipil.
Walau agak bertentangan juga dengan yang kualami tahun-tahun sebelumnya. “Terserah mau pilih sekolah apa. Pokoknya kalo ga dapet (SMA) negeri ga boleh sekolah,” sergahmu waktu aku menetapkan pilihan SMA-ku pada SMA favorit dan bergengsi.
Belakangan aku tau, kau bukan meragukan kemampuan akademisku, kau meragukan finansial keluarga kita membiayai sekolahku. “Bapa ga mau kau patah semangat,” kau berkilah waktu aku tanya alasanmu berbohong.

Kau tau, Yah,
Betapa sakitnya memperingati ulang tahunmu hari ini tanpamu. Biasanya, aku selalu heboh memikirkan kado terbaik untukmu. Yang lalu-lalu, aku kerap sibuk berkoordinasi dengan kakak, adik, dan bunda menyiapkan kejutan untukmu.
Aku tau betul, tidak pernah ada hadiah yang cukup indah dibanding yang kau beri padaku. Tapi kau tidak pernah mengeluh, kau selalu memuji pemberianku. Apapun itu. “Terimakasih ya, Boru,” katamu.

Kau tau, Yah,
Betapa sakitnya melihat gambarmu saat meniup lilin ulang tahun di ulangtahun ke-60 (de facto 61)mu.
Sungguh sakit ketika aku sadar, itulah perayaan terakhir kita bersama. Sungguh sakit ketika tau, hari ini aku tidak bisa memotret momen itu lagi.

Kau tau, Yah,
Aku rela menanggung sakit ini, kalau memang itu berarti kebahagiaanmu bersama Bapa kita di Surga sana.

Kau tau, Yah,
Meski masih mencari makna dan -apa yang disebut orang- rencana terbaik Tuhan, aku akan tetap melanjutkan hidupku mewujudkan mimpi kita.

Ulang Tahun Ke-60 Ayah

Tersenyumlah di sana, Yah. Selamat ulang tahun. Ini… Segenggam rindu untukmu, tidak ada kado tahun ini, Yah. Ini, kecupan rindu dan cintaku.. Selamat ulang tahun, Yah :)

Matahari Buat Kak Darma

Mentari untuk Kak Darma

“Deeey,” bunyi dan nadanya masih melekat di telingaku. Aku bahkan bisa membayangkan bagaimana ekspresi wajahnya ketika mengatakan itu.

“Dei” begitu dia selalu menulis namaku. Bagaimana pun aku protes dan berusaha mengubahnya, dengan keras kepalanya dia mengembalikannya dengan gaya menulisnya. Haha.. Entah mengapa. Aku belum tertarik menanyakannya.

Dia, Kak Darma. Bukan pelangiku, yang melengkung warna-warni di atas kepalaku. Tidak pernah dia menggantikan hujan yang mengguyurku.
Dia, Kak Darma. Bukan matahariku, yang menggugah pandangku dari tidur yang kupaksakan demi meninggalkan kenyataan.
Dia, Kak Darma. Bukan bunga lili yang tumbuh di padang yang kosong yang kusinggahi. (walau kalau mau dipersonifikasi bisa juga, soalnya Kak Darma kan tinggi dan putih, kaya bunga lili. Hehe…)

Dia hanya Kak Darma, yang mengaku sedih, waktu aku, dalam laraku memilih lari ke sahabatku yang lain, Adit. “Gue sedih, lo ga mau berbagi sama gue”. Walau demikian, dia tetap rela mengantarku menemui Adit.
Dia hanya Kak Darma, yang tidak pernah lupa mengingatkanku kalau aku mulai nakal menantang dosa. (namanya juga pendeta).
Dia hanya Kak Darma, yang tiba-tiba jadi manja kalau harinya datang tiap bulan. “Sakit, Dey,” erangnya manja.
Dia hanya Kak Darma, yang mengajarkanku ketulusahan persahabatan.
Dia hanya Kak Darma yang menyadarkanku betapa lelakiku tak layak dilepaskan. (Okelah kalau begitu, kak. Cepat-cepat kusurh dia nikahin aku. Haha..)
Dia hanya Kak Darma, sahabat, kakak yang sangat kurindukan saat ini.

Gimana kabar, Kak? Suaramu masih cempreng? Hehe. Gesturmu masih centil tapi tomboy?

Ini, ada sejumput hangat matahari. Kusimpan dari pendarnya tadi pagi. Ingin pula membawa cahayanya, apa boleh buat, dia keburu pergi. Besok pagi, kalau dia datang nanti kuculik dia untukmu. Biar kau sempat menikmati matahari terbit setiap pagi.

 

28 Juli 2010

Matikan Saja Telepnnya

Matikan saja teleponnya

biar sunyi

 

berjanji tidak akan merintih lagi

bersumpah tidak akan melirih lagi

 

berlalu saja hingga jauh

lupakan saja janji bertemu sebelum mentari terbenam

 

berjanji tidak akan menagih

bersumpah tidak akan menuntut

 

 

2 Februari 2011

Ingin Tetap Bersama Biru

Biru, hampir Februari sudah

Ah, bersyukurlah akhirnya kita bisa melaluinya

Kau ingat?

Bulan ini menyambut kedatangan kita dengan duka

Angin menggoda kita hingga hilang keseimbangan

Tapi tangan kekarmu teguhkan berdiriku

 

Biru, ampuni aku pernah meminta keluar dari rumah nyamanku; hatimu

Ku rusak pintu rumah itu

“Tak lagi nyaman. Bocor di mana-mana” kataku ngotot.

Sekuat tenaga kau menambal sana-sini-aku ngotot ingin pergi

Hujan, angin dan petir Januari ini sungguh mengusikku

 

Tapi, ah..

Tak ada kasih di luar sana

Kelu bibirku

Sesak nafasku tak biasa dengan udaranya

kurap kulitku

 

Biru, aku ingin tetap di sini

Di rumahku Hingga Desember, lalu Januari lagi

Kalau boleh, untuk selamanya.

 

Biar, biarlah aku di sini

Menjaganya dari badai yang merusak

Membiarkan bunga rumput tumbuh di halamannya ..

 

28 Januari 2011

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.